Bel pulang sekolah sudah berbunyi dari 2 jam yang lalu, tapi bu nisa masih sibuk dengan pekerjaannya. "bu nisa lembur lagi? " tanya pak dullah tukang kebon sekolah. "eh pak dullah, iya ni pak masih banyak kerjaan." jawab bu nisa dengan nada sendu karena kelelahan. "ini saya buatkan teh anget buat bu nisa, dari tadi saya perhatikan bu nisa sibuk melototin komputer hehehe.. " pak dullah sambil meletakkan secangkir teh di meja kerja bu nisa. "terima kasih sekali pak dullah, pak dullah yang ter the best pokoknya" gurau bu nisa sambil menyeruput teh hangat buatan pak dullah. " jangan terlalu memaksakan diri bu, nanti sakit. Kerja ya kerja tapi inget istirahat juga." pak dullah memberi nasehat sambil beberes ruangan. "capek sih pak, tapi tinggal dikit lagi." jawab bu nisa sambil tersenyum. " ya sudah, saya tinggal dulu ya bu mau beberes ruang kepala sekolah" "selamat beres beres ya pak" kata bu nisa sembari menatap monitor komputer yang dari tadi menemaninya. "Dan akhirnya selesai juga, Waktunya pulang.. " gumamnya dalam hati.
Sekolah sudah terlihat lengang, hanya suara hak sepatu bu nisa yang terdengar melewati koridor menuju parkir. Terlihat bu nisa menaiki motor vespa putih keluaran terbaru lengkap dengan jaket kulit dan kaca mata hitam, tak lupa helm clasik dengan warna senada. Terlihat sangat menawan dan mempesona. Di tengah jalan " kok laper ya, makan bakso enak nih sekalian bungkusin buat mama" gumamnya dalam hati. Tak lama kemudian bu nisa memarkirkan motornya di depan warung bakso langganannya. "bakso 1 ya pak de gak pake mie kuning, minumnya teh anget aja 1" pesan bu nisa kepada penjual bakso. Bu nisa pun memilih tempat duduk di sudut ruangan. Tak lama kemudian terlihat seseorang yang masih memakai seragam sekolah yang sedang asyik dengan leptopnya. Bu nisa menghampiri orang tersebut " irham, kenapa jam segini belum pulang? Masih pake seragam lagi" tegur bu nisa. Irham terkejut melihat bu nisa berdiri di depannya. "iya bu, saya males pulang aja. Mendingan saya disini sambil belajar dan nyalurin hobby. " jawab irham santai. "baksonya mbak" sela pakde tukang bakso sambil meletakkan bakso pesanan bu nisa. "makasih pakde" jawab bu nisa sambil tersenyum. "kenapa kamu males pulang ham? Pasti kamu abis janjian sama pacar kamu ya! Hhhmmm hayo ngaku, anak seumuran kamu ni kan lagi bucin bucinnya." goda bu nisa "nih kenalin bu pacar saya laptop" jawab irham sambil mengangkat laptopnya "lagian nih bu, siapa sih yang mau sama saya! Pasti orang orang anggep saya aneh, gak mau bergaul, bergaulnya ya cuma sama laptop. Di kelas aja gak ada yang mau berteman sama saya bu" lanjut irham. "perasaan kamu aja itu, kamunya aja yang gak mau membuka diri untuk orang lain. Coba kamu lebih terbuka! kayak sekarang nih, nyatanya kita bisa ngobrol asyik kan. Kamu juga murah senyum dari tadi sama ibu. Tuh kan senyum lagi, coba kamu kalau di sekolah kayak gini. Pasti orang orang gak akan canggung buat deket sama kamu." nasehat bu nisa sambil menikmati bakso urat favoritnya. "bu nisa bisa aja, saya sih tau diri aja bu siapa saya." jawab irham dengan nada rendah. "dengerin ibu ya, itu cuma perasaanmu aja. Gak semua orang memandang rendah orang lain, seperti teman sekelasmu itu. Belum tentu mereka memandang rendah kamu. Mungkin mereka canggung mau berteman, karena kamu sendiri yang menutup diri. Kayak ibu nih, kalau ibu memandang rendah kamu, gak mungkin kita duduk berdua disini sambil makan bakso dan ngobrol." sanggah bu nisa. "bu nisa udah cantik baik juga." ceplos irham "hhmmm baru ngobrol beberapa menit udah pandai merayu saja kamu" sindir bu nisa sambil tersenyum "maaf bu, saya gak bermaksud kurang ajar. Saya hanya.." irham tak bisa berkata kata karena terlalu malu. "udah gak papa, abiskan tu baksonya mubazir.. " seru bu nisa sambil menyantap lahap baksonya. "bu nisa maaf" irham dengan reflek mengambil sisa bihun yang tertinggal diujung bibir bu nisa "bu nisa udah besar tapi makan masih belepotan" sindir irham. Bu nisa gak bisa berkata kata, mulutnya terkunci dan jantungnya berdegup dengan kencang. "ibu udah selesai, ibu pulang dulu ya. Baksonya biar ibu yang bayar." tanpa ekspresi bu nisa bergegas meninggalkan kursinya. Irham merasa bersalah karena lancang bersikap seperti itu ke bu nisa. "pasti bu nisa marah" gumamnya dalam hati. Irham masih terpaku di kursinya dan kembali memperhatikan layar laptop. Sedangkan bu nisa sudah berlalu dengan motornya.
"assalamualaikum, aku pulang" "waalaikumsalam, mama didapur sa" jawab bu ningsih mamanya bu nisa. Bu nisa segera menuju dapur dan menyalami mamanya. "bawa apa?" tanya mama sambil nunjuk bungkusan plastik yang dibawa bu nisa. "bakso, mama masak ya? Yah sayang sekali, yaudah baksonya aku makan lagi aja nanti." goda bu nisa "enak aja, gak ikhlas banget beliin mama" bu nisa tertawa sambil memeluk bu ningsih. " aku istirahat dulu ya mah, capek" "mandi dulu nak, trus sholat baru istirahat" seru bu ningsih. Bu nisa berlalu sambil mengacungkan jempolnya.
Didalam kamar bercat pink dengan interior sederhana, bu nisa merebahkan badannya. Masih dengan mukena putihnya dia menatap langit lamgit kamar sambil menghela nafas. Dalam benaknya bertanya tanya kenapa harus ada perasaan aneh itu. Perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata kata. Diusianya yang sudah menginjak 25 tahun, dia belum memiliki seseorang yang bisa dikatakan serius untuk diajak mengarungi rumah tangga bersama sama. Dua kali dia jatuh cinta, dan dua kali pula dia merasakan kecewa. Cinta pertamanya tumbuh ketika usianya 16 tahun. Cinta pandangan pertama dengan salah satu honorer muda di pemda tempat dia Praktek Kerja Lapangan semasa sekolah menengah kejuruan. Adi nama pria tersebut. Tampan, masih muda, ramah dan murah senyum, itulah gambaran dari seorang Adi. Namun hubungan itu tidak berlangsung lama. Adi mendadak menghilang tanpa kabar setelah annisa tidak lagi PKL di tempat tersebut. Terdengar kabar kalau Adi akan menikah dalam waktu dekat. Kabarnya Adi harus menikahi kekasihnya karena hamil. Hal itu membuat hati annisa hancur, annisa mendengar cerita tersebut tepat di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun. Kado tersuram yang tidak akan terlupakan.
Okky, pria yang membuatnya jatuh cinta setelah sekian lama dia menyendiri. Sakit hati karena cinta pertamanya perlahan lahan mulai terobati. Okky adalah teman semasa kuliah. Dia pria yang manis, humoris, dan perhatian. Dia mampu meluluhkan hati annisa yang sempat membeku akibat cintanya terdahulu. Okky selalu bisa membuat annisa tertawa bahagia. Walau beda jurusan, okky selalu menyempatkan waktu untuk bertemu annisa disela sela waktu kosongnya. Perhatian itu yang membuat annisa semakin jatuh cinta kepada okky. Hubungan merekapun berjalan baik baik saja selama 6 bulan. Sampai suatu ketika, annisa melihat okky berduaan dengan seorang wanita disebuah kafe dekat kampus. Mereka terlihat begitu mesra. Annisa hanya terdiam melihat kenyataan itu semua. Tias teman annisa yang tidak bisa tinggal diam melihatnya. Tias menghampiri okky dan memakinya didepan wanita itu dan annisa. Annisa hanya bisa menangis dan pergi meninggalkan kafe tersebut tanpa berkata sepatah katapun. Untuk kedua kalinya hatinya hancur, pria yang dia anggap bisa menjadi pendamping hidupnya ternyata menduakannya. Lagi lagi annisa salah jatuh cinta. Disaat saat seperti itu, hanya tias sahabatnya yang selalu ada disampingnya. Persahabatan itu memang manis. Kata kata tias yang dia inget sampai sekarang adalah "kamu itu orang baik nis, suatu saat kamu akan bertemu juga dengan orang baik, karena okky gak baik, jadi Allah jauhin kamu dari okky" itulah kata kata tias yang dia inget sampai sekarang. Sekarang tias ada di kota lain, dia merantau untuk bekerja. Walau mereka berjauhan, persahabatan mereka tak pernah luntur.