KIARA Kak Sena belum melepas pandangannya dari Kak Romy dan Khayana ketika akhirnya aku menarik lengannya.
“Sayang, mau makan di mana? Bawah aja ya?”
Seperti biasa, Kak Sena langsung mengiyakan ajakanku.
Tidak ada kata-kata yang pas untuk menggambarkan perasaan wanita jika masakannya disukai oleh pria yang dicintainya. Seperti sekarang. Melihat Kak Sena menikmati masakanku, aku tidak jadi lapar.
“Lukisanku yang kamu jadi modelnya udah jadi lho, mau lihat fotonya?”
Untuk pertama kalinya, Kak Sena menurunkan ritme kunyahannya dan menatapku alih-alih mengambil lagi potongan daging ayam di depannya. “Oh ya? Mana?”
Aku meraih ponsel dan memperlihatkan foto lukisan yang kuambil beberapa jam sebelum kemari.
Kedua ujung alisnya sedikit merapat ketika mengamati hasil karyaku. “Kayaknya bibirku nggak seseksi ini deh. Kamu bayangin apa pas gambar bagian ini?”
“Ih …, ya bayangin kamu lah.”
Bahu Kak Sena berguncang karena tertawa. “Aku nggak tanya bayangin siapa, Key. Aku tanya kamu bayangin apa?” Lantas dia tersenyum menggoda. “Bayangin lagi nyium .…”
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku langsung mencubit lengannya. “Kok jadi ikutan rese’ kayak Kak Romy sih!” gerutuku.
Kak Sena tergelak dan lagi-lagi mengisi mulutnya dengan makanan. Pria ini …, mungkin jika isi dunia dikalikan dua sekalipun, tidak akan sanggup untuk menggantikannya. Karena dalam kisah ini, aku telah menggadaikan seluruhnya. Jika ini perjudian, aku telah mempertaruhkan segalanya tanpa peduli resiko yang nantinya akan kutanggung jika totalitas ini ternyata berbuah kekalahan. Tapi sejauh ini, Kak Sena selalu menjanjikan apa yang pantas untuk dijanjikan seorang pria.
Aku mengembalikan ponselku ke dalam tas. “Aku kirim besok ya? Mau dikirim ke rumah atau ke kantor?”
Kak Sena diam sejenak. Lantas tersenyum. Senyum yang menjadi canduku. “Kantor aja. Ruanganku dindingnya masih kosong.”
“Oh iya sih.” Aku mengangguk-angguk.
“Kamu nggak ikutan makan?” Lagi-lagi Kak Sena tersenyum. “Mau disuapin?” tanyanya.
Then he does his thing. The thing that makes me freeze like a stupid statue. Jantungku sempat berhenti, kemudian kembali berpacu. Namun, dalam kecepatan yang meningkat drastis. Dan saat menatap matanya, aku hanya bisa membuka mulut, bersamaan dengan Kak Sena yang tersenyum sambil menyuapkan potongan daging ke mulutku.
SENA
Waktu melesat sangat cepat. Terlebih sejak kepulangan gue ke Indonesia. Mulai dari berpacu dengan waktu untuk membenahi grup, menjalin hubungan lebih jauh dengan Kiara, ketemu lagi dengan Khayana, sampai detik ini …, saat gue tahu-tahu sudah meraih pinggang Khayana ke dalam pelukan demi menghindarkannya dari motor yang melaju agak kencang di jalanan saat kami keluar dari kedai kaki lima yang menjual sea food, dan tentu saja nasi goreng kesukaan Khayana.
Saat itu gue mengajaknya untuk makan malam setelah kami bertemu secara nggak sengaja di rumah Kiara. Khayana yang mungkin disuruh Romeo untuk menyerahkan berkas ke Om Eras, menuju pintu keluar lantas mendapati gue dan Kiara tengah bermesraan. Entah kenapa juga gue nggak enak sendiri menjelaskannya, intinya kejadian itu membuat Khayana canggung dan merasa telah melihat sesuatu yang nggak seharusnya dilihat. Ia pun menunduk dan buru-buru pergi.
“Key, sepertinya aku juga harus pulang. Udah malam.” Gue menengok jarum jam yang hampir menuju angka sembilan. “Kamu mending istirahat supaya segar di pameran besok.”
Kiara mengangguk. Ia memang sudah cukup lelah dengan persiapan pameran lukisan yang akan digelarnya bersama tim besok. Namun, ia malah meladeni permintaan mamanya yang ingin beretemu dengan gue terkait tanggal pernikahan kami. Gue dan Kiara sendiri sebenarnya nggak terlalu ingin buru-buru membahas itu, apalagi kami berdua masih sibuk dengan urusan masing-masing. Terlebih gue yang sibuk dengan urusan perusahaan. Namun, kami tetap menghormati permintaan orang tua. Dan karena Kiara layaknya bola lampu yang seringkali mendadak hidup ketika gue di sampingnya, seketika membuat beban pikiran dan penat yang gue tanggung sirna. Maka pertemuan kami berakhir dengan menghabiskan waktu berdua seperti ini.
Setelah mengucapkan kalimat perpisahan kepada Kiara, gue segera berlari mencari Khayana. Ada segelintir kekhawatiran dalam diri gue, yang sebenarnya gue juga nggak terlalu mengerti kenapa. Kenapa gue ingin sekali menjelaskan kepada Khayana bahwa gue dan Kiara tadi nggak lagi ngapa-ngapain. Kami hanya bicara seperti biasa dan Kiara begitu manisnya sampai-sampai gue nggak bisa menahan diri untuk nggak mencium kedua pipinya yang memerah ketika tertawa. Dan sialnya, Khayana ada di sana. Melihat semuanya.
Hati gue lega selega-leganya ketika gue berhasil menemukan Khayana sebelum dia melewati gerbang. Membuat kaki gue nggak menyia-nyiakan waktu untuk berlari mengejarnya.
“Na,” panggil gue menahan napas yang masih tersengal.
“Kak Sena? Kenapa di sini? Urusan Kakak udah selesai?” Khayana berkata terbata, nggak berani menatap gue.
“Urusan?” Gue mencoba memijit dahi gue. “Kakak nggak ngapa-ngapain sama Kiara, beneran. Urusan Kakak sekarang sama kamu. Kamu harus pulang sama Kakak.”
“Aku …, pulang sendiri aja.”
Gue menahan tangannya seraya menelan ludah. “Kamu …, kamu udah makan? Kalau belum, temenin Kakak makan udang.” Itu adalah makanan kesukaan gue. Khayana tahu itu. Dan mendengar itu, Khayana nggak bersuara. Ia menurut saat gue membimbingnya memasuki mobil.
Kini, setelah menghindarkannya dari pengendara motor ugal-ugalan tadi, tangan gue masih berada pinggangnya. Tanpa sengaja, mata gue bertemu dengan matanya. Bisa gue rasakan napasnya yang memburu dan dadanya yang naik turun karena terkejut. Gue merasakan atmosfer yang menaungi kami bukan atmosfer belasan tahun lalu. Dan untuk pertama kalinya, gue takut Khayana bakal mendengar detak jantung gue yang begitu cepat saat di dekatnya.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya gue. Karena saat menariknya tadi, gue sempat membuat sikunya terbentur badan mobil yang terparkir di bahu jalan.
Khayana menggeleng, tatapannya masih terpaut dengan tatapan gue. “Kakak?” bisiknya.
Gue mengangguk. Meski nggak yakin yang ditanyakan Khayana adalah fisik gue, atau pikiran gue. Namun, sebutan yang digunakannya barusan menyadarkan gue dari segala khayalan gila ini. Gue pun melepas pelukan.