Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai kamar hotel. Yasmin terbangun lebih dulu, matanya perlahan terbuka, napasnya masih teratur. Beberapa detik ia hanya diam, membiarkan tubuhnya menyesuaikan diri dengan pagi yang tenang itu.
Ia menoleh ke samping.
Rio masih tertidur. Posisi tubuhnya miring, satu tangan terlipat di bawah bantal. Wajahnya terlihat lebih santai dari biasanya, tidak ada garis tegang seperti saat berada di rumah. Yasmin memperhatikannya lama, seolah ingin menghafal tiap detail wajah lelaki itu.
Ia mendekat, memeluk Rio dari samping, menyandarkan kepala di d**a lelaki itu. Yasmin mengecup pipinya pelan.
Rio mengerang kecil lalu tersenyum, matanya masih terpejam. “Pagi sekali,” gumamnya.
Yasmin tersenyum. “Sudah pagi.”
Rio membuka mata perlahan. “Kamu kenapa bangun pagi?”
Yasmin menggeleng. “Aku suka pagi di sini bersama kamu.”
Rio mengusap rambut Yasmin singkat, lalu menarik napas panjang. “Aku juga.”
Mereka tidak langsung bangun. Hanya berbaring, menikmati ketenangan yang jarang mereka dapatkan. Tidak ada suara lain selain desiran angin dan burung di luar jendela.
“Kita harus bersiap,” kata Rio akhirnya.
Yasmin mengangguk pelan. “Iya.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di matanya. Kesadaran bahwa ketenangan ini hanya sementara.
Beberapa saat kemudian, mereka bersiap-siap. Yasmin masuk ke kamar mandi lebih dulu, sementara Rio duduk di tepi ranjang, menatap keluar jendela. Pemandangan laut pagi itu tenang, nyaris kontras dengan pikirannya yang mulai berat.
Setelah selesai, mereka sarapan di restoran hotel. Duduk berhadapan, berbicara hal-hal ringan. Tentang cuaca, tentang rencana hari itu, tentang pekerjaan. Mereka sengaja tidak membicarakan apa yang menunggu mereka setelah kembali.
“Setelah ini kita berpisah seperti kemarin?” tanya Rio pelan.
Yasmin mengangguk. “Lebih aman begitu.”
Rio menghela napas. “Aku tidak suka harus berpura-pura.”
“Aku juga,” jawab Yasmin jujur. “Tapi untuk sekarang, itu satu-satunya cara.”
Setelah sarapan, mereka berjalan di sekitar hotel. Tidak bergandengan tangan. Tidak terlihat seperti pasangan. Hanya dua orang dewasa yang kebetulan berada di tempat yang sama.
Menjelang siang, Yasmin lebih dulu pergi. Ia masuk ke mobilnya, menoleh sekali ke arah Rio yang berdiri agak jauh. Tatapan mereka bertemu singkat, lalu Yasmin melaju pergi.
Rio kembali ke kamar, mengemas barang-barangnya. Ia duduk sejenak di ranjang sebelum akhirnya berdiri dan keluar.
Perjalanan pulang terasa panjang bagi keduanya.
Yasmin tiba di rumah sore hari. Rumah tampak sepi. Ia masuk, meletakkan tas, lalu duduk di ruang tengah. Beberapa menit kemudian, Eliona keluar dari kamarnya.
“Kamu sudah pulang,” ucap Eliona singkat.
“Iya,” jawab Yasmin. “Capek.”
Eliona menatapnya sekilas. “Arisanmu menyenangkan?”
“Lumayan,” jawab Yasmin tanpa detail.
Eliona tidak bertanya lagi. Ia masuk ke dapur. Yasmin menatap punggung wanita itu, wajahnya tetap datar.
Malam harinya, Rio juga pulang. Eliona menyambutnya di ruang makan.
“Kamu kelihatan lelah,” kata Eliona.
“Perjalanan panjang,” jawab Rio.
Mereka makan malam bertiga. Suasananya tenang, terlalu tenang. Yasmin berbicara seperlunya. Rio menjaga sikapnya. Eliona memperhatikan, tapi tidak menemukan sesuatu yang bisa ia jadikan alasan untuk bertanya lebih jauh.
Setelah makan, Yasmin pamit ke kamarnya lebih dulu.
Di dalam kamar, Yasmin duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan ponselnya. Ada satu pesan dari Rio.
Terima kasih untuk akhir pekan ini.
Yasmin membalas singkat: Hati-hati.
Ia meletakkan ponsel, menatap langit-langit. Hatinya tidak sepenuhnya tenang. Ia tahu, semakin lama hubungan ini berlangsung, semakin sulit menjaga semuanya tetap tersembunyi.
Beberapa hari berlalu.
Rutinitas kembali berjalan. Eliona sibuk dengan urusannya. Rio kembali ke pekerjaannya. Yasmin mengurus butik dan kegiatannya sendiri.
Namun ada perubahan kecil yang tidak luput dari perhatian Eliona. Rio lebih sering diam. Pikirannya sering melayang. Kadang, ponselnya selalu ia cek diam-diam.
“Kamu kenapa?” tanya Eliona suatu malam.
“Tidak apa-apa,” jawab Rio.
“Kamu berbeda,” kata Eliona. “Sejak beberapa waktu ini.”
Rio terdiam. “Mungkin aku lelah.”
Eliona menatapnya lama. “Atau ada hal lain?”
Rio menggeleng. “Tidak.”
Eliona tidak memaksa. Tapi perasaan tidak enak itu kembali muncul.
Di sisi lain, Yasmin mulai menjaga jarak. Ia jarang berbicara dengan Rio di rumah. Tidak ada tatapan lama. Tidak ada percakapan pribadi.
Namun suatu malam, Yasmin menerima pesan dari nomor tak dikenal.
Kita perlu bicara. Eliona.
Yasmin membaca pesan itu perlahan. Ia tidak langsung membalas.
Beberapa menit kemudian, pesan lain masuk.
Aku tidak bodoh.
Yasmin menarik napas dalam. Ia tahu, cepat atau lambat, saat itu akan tiba.
Ia mengetik balasan singkat: Besok.
Ponsel diletakkan kembali. Yasmin menatap jendela. Di luar, malam tampak tenang.
Namun di dalam rumah itu, ketenangan hanya tinggal permukaan.
Dan Yasmin tahu, permainan yang selama ini ia mainkan dengan rapi, kini mulai mendekati ujungnya.