PART 13. LALISA PEMENANG HATI

1372 Words
Greeta mencari keberadaan Yuna namun tak kunjung melihatnya. Ia juga bertanya pada beberapa perawat namun tak mendapatkan hasil hingga ia melihat Riza yang saat itu masih di kenali wajahnya saat bersama dengan Yuna. "Kayaknya itu temannya Yuna" batin Greeta menyusul kearah Riza. "Eh tunggu!" teriak Greeta sembari memegangi pundak Riza. Riza berbalik setelah ia merasa panggilan itu tertuju padanya. "Iya.. ada yang bisa saya bantu, kak?" tanya Riza. "Kamu temannya Yuna yah?" tanya Greeta memastikan. "Iya.. ada apa?" balas Riza. "Liat Yuna gak? dari tadi Aku cari kok gak ketemu yah?" lanjut Greeta to the point. "Oh Yuna kayaknya ada di ruangan dokter Yeri, kenapa yah? Mungkin ada yang bisa Aku sampaikan ke Yuna?" Greeta terdiam. Ia ingin mengatakannya langsung pada Yuna. Lalu Greeta meminta Riza untuk memberitahu Yuna kalau dirinya ingin bertemu dan membahas sesuatu dengannya. Mendengar permintaan Greeta, Riza mengangguk dan menuju ke ruangan Yeri. Riza tiba diruangan Yeri, dimana dugaannya benar kalau Yuna masih berada di ruangan Yeri. Hanya saja Sheril sudah tidak berada di sana karena jadwal temunya dengan beberapa pasiennya. "Loh Riza udah selesai operasinya?" tanya Yeri lebih dulu. "Iya kak.. alhamdulillah lancar" balas Riza duduk di samping Yuna. "Oh iya.. Yun, ada yang cariin kamu---Greeta namanya, kayaknya mantan kakak kamu yang kemarin deh" lanjut Riza. Yuna mengerutkan keningnya mencoba menerka maksud Greeta mencarinya. "Dimana dia?" tanya Yuna. "Aku suruh tunggu di depan aula, kebetulan tadi ketemunya di sana sih.." jelas Riza. "Kak... Aku turun bentar yah.." ucap Yuna pada Yeri sebelum meninggalkan ruangannya. Yuna mencari Greeta sesuai dengan perkataan Riza, ia menuju Aula dan menemukan Greeta tengah berdiri sembari memainkan ponsel miliknya. "Ada apa kak Greeta?" tanya Yuna. Cukup lama Greeta terdiam sembari memilih pemilihan kata yang pas untuk ia berikan pada Yuna. "Maaf yah udah ngerepotin kamu ke sini---gini, Yuna.. Abian udah ganti nomor yah? Soalnya kemarin Aku coba hubungin udah gak aktif? Apa emang hpnya aja yang mati apa gimana yah?" jelas Greeta canggung. "Masa sih? Emang kemarin sebelumnya bisa? Sejak pulang dari Amerika nomor kak Abian emang ganti sih kak---nomor yang di kak Greeta yang mana emang?" tanya Yuna. Greeta tercekat dengan pertanyaan Yuna yang memintanya untuk memperlihatkan kontak Abian, sedangkan Greeta sudah menghapus kontak milik Abian. "Gini aja deh coba kamu sebutin nomornya Aku cek di kontak Aku" ungkap Greeta yang langsung di setujui oleh Yuna. Sesuai dengan permintaan Greeta, Yuna menyebutkan nomor milik kakaknya. Dan disaat bersamaan Greeta dengan cepat menyimpan nomor tersebut dan membohongi Yuna. "Oh sama kok---mungkin gak aktif aja kali yah" ucap Greeta. "Iya mungkin kak.. mungkin kak Abian sibuk kerja jadi gak sadar kalo hpnya mati" balas Yuna polos. "Oh iya tadi kamu bilang Abian ke Korea? Kapan baliknya?" tanya Greeta penasaran. "Gak tau juga sih kak.. soalnya satu harian ini Aku belum berkabar dengan kak Abian" jelas Yuna. "Oh gitu.. ya udah deh, makasih yah Yuna.." tutup Greeta yang lebih dulu meninggalkan Yuna. Yuna mengidikkan bahunya menatap kepergian Greeta dengan girang. *** Hari mulai berubah menjadi gelap, matahari terbenam begitu indah. Suasana di Daisy Company juga terlihat sudah sedikit lowong dari sebelumnya. Dimana beberapa staf bersiap untuk pulang dan membereskan mejanya masing-masing. Elsa yang juga akan bergegas pulang, tampak memasuki ruangan Lalisa kembali untuk mengingatkan jadwal temunya dengan Tn. Ivan bersama pak Bata. Elsa mengetuk pintu terlebih sebelum masuk dan mendapati Lalisa serta Abian yang masih terlihat sibuk dengan laptopnya masing-masing. "Permis bu.." ucap Elsa mendekat ke meja Lalisa. Hm... iya, ada apa Elsa? Kamu udah mau pulang yah?" tanya Lalisa. "Iya bu---ini mau ingatin juga untuk pertemuan ibu dan Tn. Ivan" jelas Elsa. "Oh iya.. Aku ingat---gak apa-apa kamu pulang aja. Nanti Aku sama Abian aja perginya, kebetulan pak Bata minta Abian juga ikut dengan ku" balas Lalisa. "Iya bu.. Aku pamit dulu kalau gitu" tutup Elsa berpamitan pada Lalisa lalu pada Abian. Kepergian Elsa membuat Lalisa mengalihkan pandangannya ke arah Abian yang terlihat sibuk dengan beberapa berkas dan juga laptopnya, bahkan ia juga mengabaikan ucapan Elsa saat berpamitan dengannya. Lalisa menatap jam pada layar ponselnya, dimana saat ini waktu sudah hampir menunjukkan pukul 7 malam. Lalisa mengemasi beberapa barangnya dan memasukkannya ke dalam tas miliknya, ia juga sudah terlihat mematikan laptopnya. "Gimana udah selesai?---ayo!" ucap Lalisa pada Abian. Mendengar hal tersebut, Abian juga bergegas dan menutup laptopnya bersamaan dengan deringan ponsel Abian. Dimana Bata sudah memberitahu Abian kalau ia sudah berada dalam perjalanan menuju restoran tempat pertemuannya malam ini dengan Tn. Ivan. "Barengan aja kali yah kesana?" ucap Abian sembari menarik pintu ruangan Lalisa. "Ya udah pake mobil gue aja, lo yang bawa tapinya" pinta Lalisa melemparkan kunci mobilnya pada Abian. Keduanya berhasil tiba di basement perusahaan, dimana Abian mengambil alih kemudi mobil milik Lalisa dan melaju menuju tempat pertemuannya malam ini. "Pak Bata udah kabarin lo?" tanya Lalisa. "Udah dari tadi sih.." balas Abian santai. "Ya udah cepat gih, kan gak enak kalau pak Bata lebih dulu tiba disana dan nunggu kita" pinta Lalisa. "Santai aja kali---Gue juga udah bilang ke dia kalau gue sama lo baru aja mau berangkat kesana, kerjaan baru aja beres" jelas Abian. Mendengar hal tersebut Lalisa hanya dapat bisa menghela napasnya sembari menatap ponselnya. Abian mengemudikan mobil milik Lalisa hingga keduanya berhasil tiba. Lalisa berjalan sejajar dengan Abian memasuki restoran, dimana Bata sudah lebih dulu menunggunya. Namun Tn. Ivan masih belum juga nampak setelah kedatangan Lalisa serta Abian. "Aduh maaf pak.. kerjaannya baru aja selesai" ucap Lalisa mendahului sebelum duduk di kursinya, sedangkan Abian hanya acuh dan langsung saja duduk di samping Bata. Lalisa melirik tipis yang membuat Abian tersadar. Entah di sadari ataupun tidak, sikap Abian selalu saja berubah saat mendapati lirikan sinis dari Lalisa mengenai sikapnya yang terkadang dinilai tidak sopan. Lirikan tersebut membuat wajah Abian berubah menjadi sedikit lunak di hadapan ayahnya. "Belum ada kabar dari Tn. Ivan yah?" tanya Bata. "Tadi sekretarisnya sudah hubungin katanya sudah di jalan pak" jelas Lalisa sopan. Bata membuka topik mempertanyakan kinerja Abian pada Lalisa selagi mereka menunggu kedatangan Tn. Ivan. Seperti biasanya Lalisa memberitahu penilaiannya tentang Abian pada Bata. Selalu jujur dengan apa yang di perlihatkan membuat Lalisa juga selalu dapat memenangkan hati Bata. Raut wajah Bata dapat memberitahu semuanya pada Abian. Lalisa juga selalu mengkritik sikap tidak sopan Abian pada Bata dan ayahnya menyadarti hal tersebut dan meminta Abian untuk mencoba perlahan-lahan merubahnya. Percakapan itu terhenti setelah ketiganya menyadari kedatangan Tn. Ivan dan sekretarisnya. Lalisa menyapa dengan ramah terlebih dahulu, lalu di ikuti Abian serta Bata. Pengalihan topik mengenai bisnis di buka lebih dulu oleh Bata. Tampaknya setelah mendengar penilaian Lalisa tentang dirinya, Abian terlihat serius mendengarkan pembahasan tersebut. Lalisa sesekali melirik dan mengukir senyum di sudut bibirnya, hal tersebut juga tak sengaja di dapati oleh Abian. Lekukan senyum juga tanpa sadar terukir pada bibir tipis Abian. Tn. Ivan selalu saja memuji sikap serta kecantikan yang di miliki Lalisa. "Aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan mu, Lisa" ucap Tn. Ivan ramah. "Terima kasih, Tn. Ivan" balas Lalisa. Setelah selesai membahas masalah perusahaan, Bata meminta semuanya untuk menyantap makan malam yang telah di sediakan. Dalam kursi yang berbentuk lingkaran tersebut, terlihat semuanya begitu santai dan sesekali tertawa. Sekretaris Tn. Ivan memberitahunya kalau ia harus meninggalkan restoran lebih dulu karena memiliki pertemuan lainnya. Tn. Ivan berharap kerja sama di antara mereka dapat terjalin dengan baik. Bata, Lalisa dan juga Abian mengantar kepergian Ivan dengan ramah dan melanjutkan kembali makan malamnya. "Oh iya.. Aku belum sempat menanyakan sama kamu tentang acara amal kemarin di Seoul---jadi gimana Lis, disana?" tanya Bata sembari menyantap makan malamnya. "Kalau menurut Aku sih berjalan dengan lancar pak---hm, Aku gak sampai selesai sih disana. Pas acara intinya selesai Aku dan Abian udah balik ke hotel" jelas Lalisa. "Abian gak bikin masalah kan?" tanya Bata yang mendapat lirikan kesal dari Abian. "Gak pak.. aman kok disana" balas Lalisa. Abian kembali melirik Lalisa saat senyuman itu kembali terukir di paras cantiknya. Bata, Abian serta Lalisa menyelesaikan makan malamnya dan bersiap meninggalkan restoran. Bata berjalan lebih dulu lalu di ikuti oleh Lalisa dan Abian. "Mana kunci mobilnya?" tanya Lalisa. "Buat apa? biar gue anterin lo kerumah" balas Abian yang dapat terdengar oleh Bata. "Gak usah.. lo balik sama pak Bata aja---biar gue pulang sendiri aja" bisik Lalisa. Namun Abian tetap kekeuh untuk mengantarkan Lalisa dan juga mendapat persetujuan dari Bata yang membuat Lalisa tidak dapat menolaknya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD