11. Melepas Rindu

1190 Words
Alara menghela napas kasar begitu hujan deras membasahi kota. Ia memilih berhenti di sebuah warung di pinggir jalan untuk berteduh sejenak. Tubuhnya menjadi basah karena ia tak membawa mantel. "Gimana dong, sebentar lagi jamnya Pak Selim. Pasti ujung-ujungnya kena semprot lagi," keluhnya dalam hati. Beberapa hari terakhir ia sering terlambat masuk kuliah karena ia harus merawat ibunya yang sedang sakit. Kondisi ibunya melemah karena kadar glukosa darahnya mencapai 378 saat ia membawa Winda ke klinik semalam. Lima belas menit berlalu, akan tetapi belum ada tanda-tanda hujan akan reda. Dengan terpaksa ia menerobos hujan sebelum ia benar-benar terlambat. "Alara, cepat masuk!" "Vino?" Vino keluar dari mobilnya. Sembari membawa payung, ia berjalan cepat menyusul Alara. "Bareng aku aja. Motormu kamu titip di sini!" "Tapi-" "Please!" Alara mengangguk pasrah. Ia pun meminta tolong pada pemilik warung untuk menjaga motornya sampai sore nanti. Tak lupa Vino mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu dari dompetnya sebagai imbalan pada pemilik warung. "Ayo!" Vino menggenggam tangan Alara dan berjalan cepat menuju mobilnya. "Kamu udah sehat?" tanya Alara begitu ia masuk ke dalam mobil Vino. Vino mengacak gemas rambut Alara yang sedikit basah. "Eh, rambutmu basah." Vino berbalik hendak mengambil sebuah handuk kecil yang selalu ia bawa. "Keringkan rambutmu!" Alara menerimanya. "Thanks, Vin!" Vino mengangguk pelan. "Lebih baik kita jalan sekarang sebelum Pak Selim marah-marah," guraunya. Alara tersenyum geli. "Kamu kangen gak sama aku?" tanya Vino. Alara mendelik pada sahabatnya yang fokus mengemudi disertai senyuman yang membuatnya semakin tampan. Ia sempat terpesona sejenak sebelum mengembalikan ekspresinya. "Gak!" jawabnya ketus. "Yakin?" Vino menatap Alara yang acuh tak acuh padanya. Tangan kiri Vino seolah gatal karena ingin menggenggam tangan Alara. Dengan sebelah tangan tetap memegang setir, tangan kirinya kini menggenggam tangan Alara, mengisi kekosongan sela-sela jemari gadis itu. "Ke-kenapa?" tanya Alara. "Tanganku dingin," jawab Vino santai. Padahal sebenarnya itu membuatnya debaran jantungnya semakin kencang. Rasa bahagia sekaligus takut muncul begitu saja. Takut bila akhirnya Alara menepis tangannya. Namun, hingga mereka sampai di kampus barulah tangan mereka terlepas. Sayangnya hanya sebentar. Begitu mereka turun dari mobil, jemari mereka kembali saling bertaut. "Lara, selain tugas-tugas yang udah kamu kasih tahu, masih ada lagi gak?" tanya Vino. Alara menggeleng. "Kenapa? Udah selesai semua?" "Udah dong! Kan kamu yang bantuin aku!" ujar Vino sembari mencubit pipi Alara. "Sakit, Vin!" protes Alara. "Padahal aku cubitnya pelan, pakai perasaan!" cibir Vino. Alara mendengus kesal. Namun, hal itu tak berlangsung lama karena Vino kembali memberikan sebatang coklat favoritnya. "Jangan cemberut, nanti makin cantik!" celetuk Vino. "Ish, apa sih!" sungut Alara, tetapi tangannya tetap menerima coklat dari Vino dan langsung menyimpannya dalam tas. Vino tertawa terbahak-bahak hingga suara tawanya terdengar dari dalam kelas. "Hai, Vino! Akhirnya kamu datang juga!" ucap Calista, salah satu teman kelas mereka yang dikenal genit karena sering menggoda mahasiswa bahkan dosen yang ia nilai tampan. Vino hanya membalas sapaan Calista dengan anggukan tanpa senyuman. Tangannya tetap menggenggam erat Alara. "Eh, Vin! Ini kan bukan tempat dudukku!" Alara protes karena sahabatnya ini tiba-tiba memintanya duduk di sampingnya. "Masih kangen," jawab Vino. Singkat, tetapi membuat jantung Alara nyaris copot dari tempatnya. *** Selim mengacak kasar rambutnya. Suasana hatinya mendadak buruk karena saat ia mengajar, ia harus melihat Alara duduk di samping Vino. Ingin sekali rasanya ia duduk di antara mereka berdua agar mereka tak terlihat lengket seperti perangko dan amplopnya. "Yang benar saja! Masa gue harus cemburu sama bocah tengil itu!" Saat ia memberikan kuis pada seluruh mahasiswa, ia terus memperhatikan pasangan itu. Sesekali ia mendengar Vino mengajukan pertanyaan pada Alara dengan berbisik karena takut membuat yang lainnya terganggu. Namun, tetap saja ia merasa Vino sengaja melakukannya agar jarak mereka semakin menipis. "Ehm ... waktunya tinggal sepuluh menit lagi!" perintahnya untuk menutupi rasa cemburunya. Sepuluh menit pun berlalu. Selim meminta seluruh mahasiswa mengumpulkan lembar jawabannya. Ia tak peduli pada mahasiswa yang mengeluh karena belum selesai. Vino segera berdiri, membawa lembar jawaban miliknya dan Alara ke depan. Selim menatap Vino dengan tatapan penuh permusuhan, membuat Vino bingung dengan arti tatapan itu. Namun, pemuda itu tak peduli dan kembali duduk di samping Alara. "Lara, mau ke kantin?" tanyanya. Alara menggeleng. "Aku lagi puasa, Vin." "Ups, sorry! Jadi, aku makan sendiri, nih?" tanya Vino tak rela. "Mau gimana lagi. Ajak saja yang lain!" pungkas Alara. "Sudahlah kalau begitu. Aku pergi dulu, ya! Aku gak lama kok," ucap Vino pasrah. Alara mengangguk. Vino pun keluar dari kelas setelah ia puas mengacak rambutnya hingga gadis itu berteriak yang dibalas dengan tawa mengejek dari Vino. Tak lama berselang, ponsel Alara berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ia kenali membuatnya bingung. Namun, begitu ia membaca isi pesan tersebut, ia menghela napas kasar karena mengandung perintah yang tak bisa ia bantah. "Ke ruangan saya sekarang juga!" *** Alara mengetuk pintu dengan pelan. Tak lama kemudian, Selim membuka pintu dan memintanya segera masuk. "Langsung saja kita bicarakan mengenai besok. Kamu siap?" tanya Selim. Tatapan tajamnya mengarah pada Alara yang tertunduk. Alara menghela napas kasar. Andai ia memiliki pilihan, tentu saja ia tidak akan pernah terlibat dengan masalah pribadi dosennya ini. Gadis itu memberanikan diri membalas tatapan Selim yang ia nilai begitu intimidatif. "Mau tidak mau, saya harus siap, Pak!" Selim tersenyum miring. "Kamu tenang saja, rencana ini hanya kita yang tahu. Besok kamu pulang jam berapa?" "Besok hanya satu mata kuliah, Pak. Sampai sekitar jam sepuluh pagi," ungkap Alara. "Bagus, kita bisa bersiap lebih cepat. Saya ingin ibu saya mendapatkan kesan pertama yang baik darimu," ujar Selim. "Maaf, Pak. Karena ini hanya sementara dan berpura-pura, bagaimana bila akhirnya keluarga Anda mengetahui kita tak bersama lagi?" "Itu soal gampang. Saya bisa bilang kalau kita tidak ada kecocokan lagi," celetuk Selim santai. "Dasar dosen playboy! Ganti cewek kayak ganti pakaian aja!" decih Alara dalam hati. "Bagaimana, Alara?" tanya Selim kembali. "Ya, baiklah. Saya ikut Anda saja," jawab Alara datar. Suasana hening sejenak hingga akhirnya Alara memutuskan untuk pamit karena masih ada mata kuliah selanjutnya setengah jam lagi. Selim pun membiarkan Alara pergi dari ruangannya. Setelah ia pergi, Selim tersenyum penuh arti. "Akan kubuat dia seperti seorang cinderella," ucapnya dalam hati. Alara memasuki kelas dengan terburu-buru, membuat Vino yang juga baru masuk menatapnya bingung. "Lara, kamu dari mana? Kok langsung kusut gitu?" tanya Vino khawatir. Alara menggeleng. "Gak apa-apa kok. Aku dari toilet bawah karena toilet di sini mampet. Aku terburu-buru karena takut aja nanti dosen keburu masuk." Dalam hatinya, Alara merasa berdosa karena ia sudah berbohong pada sahabatnya, terlebih lagi dalam keadaan berpuasa. "Nih, tadi aku lihat brownis di kantin. Buat kamu buka puasa nanti." "Ah, Vin. Thanks!" "Kamu puasa apa? Perasaan ini hari Rabu deh." "Ganti puasa Ramadan yang bolong," sahut Alara. Vino mengangguk. "Lara, kamu mau main ke rumah gak?" Alara menoleh, membalas tatapan Vino yang begitu berharap. "Kamu gak keberatan?" tanyanya. Vino tertawa seraya mengacak rambut Alara. "Aku yang undang, masa aku juga yang keberatan! Terserah kamu aja kapan kamu bisa. Eh, tapi lebih bagus pas weekend deh! Biar waktunya lebih panjang." "Aku lihat kondisi Ibu dulu, ya." "Tante sakit? Kok kamu baru bilang? Nanti dari sini aku ke rumahmu, ya!" "Gak usah repot-repot, Vino!" "Aku gak pernah merasa repot kalau itu berkaitan denganmu, Lara." Alara tertegun, menatap mata Vino yang selalu memancarkan ketulusan padanya. Ia pun mengangguk, tak ingin mengecewakan sahabatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD