Menit demi menit berlalu. Selim masih belum berhenti dari tahajjud-nya. Keningnya masih menempel di atas sajadahnya lalu perlahan ia duduk dengan posisi tawarruk. Setelah lafaz shalawat berakhir, ia pun mengucap salam ke kanan dan ke kiri. Menjelang azan Subuh, Selim kembali larut dalam ibadahnya. Rasanya sudah lama sekali ia meninggalkannya. Ia pun lupa kapan terakhir ia salat lima waktu dan membaca Al-Qur'an. Namun, pria itu bersyukur karena ia belum terlambat meraih hidayah. Doa-doa Selim selalu sama, meminta ampun atas segala dosanya di masa lalu, memohonkan ampunan serta umur yang panjang untuk ayah dan ibunya, serta penjagaan yang sempurna untuk Alara, gadis yang masih ia cintai sampai saat ini. Suara ketukan pintu terdengar nyaring. Selim bangkit dari posisi duduknya di atas saja

