Bella merasa ada yang menganggu tidurnya. Dia merasa ada beban berat di sekitar perut. Tangannya pun turun ke arah perutnya dan menemukan sebuah tangan yang sedang memeluknya. Apa dia sedang bermimpi?
Bella membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Dia mengerutkan dahinya dan bangun dari tidurnya secara perlahan. Kamar siapa yang dia tidurin sekarang? Seingat dia kamar tidurnya berwarna ungu muda bukan abu-abu. Lalu dia tidur dimana sekarang?
"Ngghh, Bella."
Mendengar suara seseorang memanggil dirinya membuat dia menoleh.
Astaga.
Di sampingnya ada Rey yang sedang tertidur. Itu artinya tadi malam dia tidur bersama Rey. Bagaimana bisa dia tidur bersama Rey? Bella mengingat-ingat kejadian kemaren.
Iya, kejadian kemaren. Kejadian dimana dia dihukum oleh Rey karena Figo dan membuat dirinya harus ditahan di dalam apartemen Rey. Tapi, Bella benar-benar lupa bagaimana bisa dia tidur bersama Rey? Dia pun mengecek tubuhnya.
Syukurlah.
Pakaian Bella yang kemaren masih menempel di tubuhnya. Dia pikir Rey akan ngapain-ngapain tubuhnya. Itu berarti dia dan Rey hanya tidur biasa tanpa ada kejadian lainnya.
Tunggu dulu, apa Mama dan Papanya tidak mencari dirinya? Bella mengacak-acak rambutnya kesal. Dia enggak tahu harus bagaimana menjelaskan hal ini ke kedua orangtuanya dan terutama Hans.
Walaupun Hans suka menjahili dia, tapi Hans hampir sama dengan Rey. Dia sedikit posesif kepada Bella. Maka dari itu, Hans enggak segan-segan mencari atau memukul siapa pun yang mengganggu Bella. Dan hubungan Hans dengan Rey juga sangat dekat. Itulah mengapa Bella sangat membenci Hans, tapi enggak benar-benar benci, sih.
Bella turun dari kasur Rey dan mencari-cari tasnya. Seingat dia dari kemaren dia enggak ada ngeluarin Iphonenya. Dia mencari sekeliling kamar Rey, tapi enggak menemukan Iphonenya juga.
"Kamu lagi nyari apa?"
Bella terlonjak kaget dan menoleh ke arah belakang. Di lihatnya Rey yang sedang duduk sambil mengucek-ucek matanya. Kebiasaan Rey jika baru bangun.
Bella terpaku saat melihat Rey, Rey benar-benar nampak manis. Astaga, jika aja sifat Rey enggak nyebelin banget, Bella pasti bakalan cinta mati sama dia.
"Bella?" Panggil Rey.
"A-anu itu-" Jawab Bella tergagap.
"Kamu lagi nyari apa?" Potong Rey dengan nada datar.
"It-itu, hapeku. Aku lagi nyari hapeku." Jawab Bella cepat
Dia enggak mau membangunkan singa di pagi hari. Mendengar suara Rey yang tadi aja, Bella tahu kalo Rey mulai kesal. Rey benci harus mengulang pertanyaan yang sama.
"Oh hape mu. Sini." Perintah Rey dan Bella menghela nafas lalu berjalan ke kasur.
Rey menarik tangan Bella dan membawanya tidur kembali. Dia pun memeluk tubuh Bella dengan erat dan menaruh dagunya di atas kepala Bella, dia pun sekali-kali mengelus rambut Bella dengan lembut.
Dan hal ini membuat jantung Bella berdegup dengan kencang. Posisi ini benar-benar enggak baik buat kondisi jantung Bella.
"Re-Rey." Panggil Bella pelan.
"Hm." Jawab Rey sambil menutup matanya.
Rey benar-benar sedang menikmati posisinya bersama Bella. Entah sudah berapa lama dia enggak tidur bareng bersama Bella.
Waktu dulu SMP, setiap akhir pekan Bella pasti menginap di rumah Rey dan terkadang mereka tidur berdua.
"Kita harus bangun, kamu lupa ini hari pertama kamu sekolah? Aku enggak mau telat tau." Jawab Bella kesal dan mendorong tubuh Rey.
Bukannya menjauh, Rey malah memeluk Bella tambah erat hingga membuat badan mereka berdua menempel. Hal ini semakin membuat jantung Bella berdegup cepat.
"Sebentar lagi, aku kangen tidur bareng sama kamu." Jawab Rey pelan.
Bella hanya bisa menghela nafas panjang, kalo sudah begini susah meminta Rey melepaskan dirinya.
"Bel, kamu ngerasa aneh enggak sih?" Tanya Rey.
"Ngerasa aneh apaan?"
"Daritadi aku ngerasa kayak ada jantung yang berdetak terlalu kencang. Itu jantung kamu ya?" Tanya Rey polos.
Hal ini membuat muka Bella merah. Rey ternyata sadar dengan bunyi jantung Bella. Dia harus memberikan alasan apa saat ini?
"Kurasa itu emang jantung kamu deh. Muka kamu sampe merah gini. Lucunya Bella aku." Ucap Rey tertawa melepaskan pelukannya dan mencubit hidung Bella pelan.
Bella pun memukul tangan Rey dan bangkit dari kasur, "A-Ayo bangun! Nanti kita telat, aku juga harus pulang dulu buat ganti seragam." Ucap Bella lalu pergi meninggalkan Rey yang masih tertawa.
Rey mau enggak mau ikut bangun dari kasur setelah itu berlalu ke kamar mandi.
***
Sepanjang lorong kelas, semua cewek di sekolahnya yang menatap Rey memuja. Mungkin selama ini mereka enggak pernah melihat cowok seganteng Rey. Tapi, emang dasarnya cewek. Ngelihat cowok ganteng dikit aja, matanya enggak bisa diatur.
Bella hanya mendengus kesal saat tahu cewek-cewek di sekolahnya menatap Rey seakan-akan ingin melahapnya. Sebenarnya Bella udah biasa dengan hal ini. Dari dia tk hingga smp, semua cewek juga menatap Rey dengan tatapan memuja.
"Bel, Bella." Teriak seseorang hingga membuat langkah Bella dan Rey terhenti lalu menoleh ke belakang.
Jennie sedang berlari ke arah Bella dan saat melihat Rey, Jennie pun terpaku sesaat hingga Bella memukul bahunya dengan sedikit keras.
"Aw, sakit Bel." Teriak Jennie sambil mengelus-elus bahunya yang tadi di pukul Bella.
"Alay. Orang mukulnya pelan juga. Ada apaan?" Tanya Bella.
"Lo mau kemana? Kelas kita udah lo lewatin tau!" Ucap Jennie sambil mencuri-curi pandang ke Rey.
"Iya, gue tau. Gue mau nganterin Rey dulu ke ruang kepsek." Jawab Bella kesal.
Bella tahu Jennie dari dulu ngefans banget sama Rey. Walaupun Rey mengenal Jennie dari mereka SMP. Tapi, Rey enggak pernah sekalipun ngobrol sama Jennie. Dan mungkin karena itu Jennie masih ngefans dengan Rey hingga sekarang.
"Oh gitu, lo udah buat pr geografi belom? Gue pinjem dong. Gue belom nih." Ucap Jennie dengan tampang memelas.
"Pr geografi? Yang mana?" Tanya Bella bingung.
Jennie menatap sahabatnya enggak percaya, seorang Bella melupakan pr itu sama aja tanda-tanda kematian untuknya. Kalo bukan Bella, terus siapa yang harus dia contekin?
"Bel, jangan bilang lo lupa?!" Teriak Jennie hingga membuat Rey menutup telingannya.
Bella menepuk dahinya pelan, dia benar-benar lupa sama tugas geografi dan ini buat semua karena Rey. Sejak kedatangan Rey kemaren, hidup Bella benar-benar enggak setenang dulu.
"Lo nyontek sama siapa kek dulu, ntar gue pinjem. Gue sekarang harus nganter Rey ke ruang kepsek dulu. Dah." Ucap Bella cepat lalu menarik tangan Rey.
Bella dan Rey pergi meninggalkan Jennie yang masih terbengong. Jennie akhirnya memutuskan untuk kembali ke kelasnya dan mencari siapa pun yang sudah atau lagi ngerjain pr geografi.
Sedangkan Bella tetap menarik tangan Rey hingga membuat beberapa siswi kesal melihatnya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di depan ruang kepsek.
"Udah ya, aku balik ke kelas dulu. Ntar kalo ada apa-apa line aku aja. Bye."
Ketika Bella mau ke kelasnya, Rey menarik tasnya hingga membuat Bella membalikkan badan dan menatap Rey kesal.
"Ada apa lagi? Aku mau ke kelas nih."
Rey terkekeh saat melihat wajah kesal Bella. Sepertinya tunangannya ini terburu-buru.
"Nanti anterin aku keliling sekolah ya sekalian makan bareng. Jangan lupa."
Bella memutar matanya lalu mengangguk, tapi saat mau ninggalin Rey. Rey kembali menarik tasnya.
"Apalagi sih, Rey?"
"Aku sayang kamu, jangan nakal di kelas. Awas kalo aku sampe ngelihat kamu main sama cowok lain di kelas mu."
Bella kembali mengangguk dan kali ini dia berhasil pergi dari Rey sambil berlari-lari menuju ke kelasnya.
Rey hanya tersenyum saat melihat tingkah laku tunangannya lalu masuk ke ruangan kepsek.
***
Rey rupanya benar-benar menguji kesabaran Bella. Bayangin aja dari jam istirahat pertama dan kedua Rey selalu datang ke kelasnya Bella. Bella tau dia memang bertugas mengajak Rey berkeliling sekolahnya dan Rey mungkin belum dapat temen. Tapi, bukan berarti Rey harus mengganggu Bella juga kan?
Saat berkeliling tadi, Bella maunya mengajak Jennie tapi Rey melarangnya. Rey bilang dia mau berduaan sama Bella tanpa ada pihak ketiga. Padahal Bella tau itu cuma alasan Rey aja. Bella udah kenal Rey dari jaman mereka masih minta s**u ke emaknya sampai sekarang kali. Ya kali Bella masih bisa ditipu.
Bella tau, Rey mau menunjukkan ke semua murid-murid sekolahnya kalau Bella itu miliknya. Buktinya kemana pun mereka jalan, Rey selalu merangkul Bella bahkan kadang menggengam tangannya erat. Padahal Bella udah minta di lepas. Menyebalkan.
"Gue tuh kesel tau sama dia. Gue nyapa temen sebelah aja langsung ditarik, gue mau makan gorengan kagak dikasi! Bayangin dong, Jen. Gue sebel banget!" Adu Bella ke Jennie saat jam kosong.
Jennie sendiri sedang asik dengan iphonenya dan cekikikan sendiri hingga membuat Bella kesal. Bella menarik iphone Jennie dan menaruhnya di meja.
"Lo dengerin gue enggak sih, Jen? Gue lagi curhat, nyet."
Jennie menghela nafas dan menatap Bella, "Gini ya Bel, bukannya gue enggak peduli sama curhatan lo. Tapi, lo udah tau banget tunangan lo tuh gimana. Gue sendiri sih enggak heran dia kayak gitu."
"Iya, tapi kan enggak harus gini juga. Selama dua tahun gue benar-benar ngerasa bebas dan ngerasain apa itu masa-masa SMA dan sekarang dia datang terus ngerusak gitu?"
"Dia enggak ngerusak, Bella sayang. Cuma emang gitu kan sifat dia. Lo ya sabar aja." Ucap Jennie sambil mengambil kembali iphonenya.
Sabar? Sudah cukup sabar Bella selama ini dengan sifat dan sikap Rey. Apa sekarang dia harus bersikap sabar? Ini baru hari pertama Rey sekolah, apalagi besok-besok.
Bella enggak tau harus bagaimana lagi, dia pun meletakkan kepalanya dan memenjamkan matanya sebentar sambil berpikir.
"Bel, nanti temenin gue yuk. Gue mau kenalin lo sama Marco." Ucap Jennie
"Marco siapa? Lo mau dibunuh sama Rey? Ngenalin gue sama cowok. Sinting lo." Ucap Bella masih memenjamkan matanya.
"Siapa juga yang mau ngenalin lo cowok? Marco pacar gue, nyet."
Mendengar jawaban Jennie, Bella sontak membuka matanya dan menatap Jennie enggak percaya.
"Pacar baru lo? Terus sih Hary lo apain? Udah putus lo?" Tanya Bella bertubi-tubi.
Jennie mengganguk, "Temenin ya Bel." Ucap Jennie memelas dan membuat Bella mengaruk kepalanya yang enggak gatal sama sekali.
Gimana ya? Bella mau-mau aja nemenin Jennie.
Cuma...
"Bel, dicari sama pacar lo." Ucap Farhan, Ketua kelas Bella.
"Sorry, Jen. Satpam gue udah datang, lo pergi sendiri aja ya. Bye." Ucap Bella mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Jennie yang cemberut.
***