My Destiny | 52

2085 Words

5 tahun kemudian .... "Ya Tuhan. Rafa, di mana kamu?" Rara berdiri di tengah-tengah ruang keluarga, matanya memicing menyusuri setiap sudut ruangan mencari keberadaan seorang anak laki-laki yang begitu aktif dengan segala tingkahnya yang memusingkan. Rara naik darah ketika melihat permukaan gorden abu-abu yang baru saja di ganti minggu lalu kembali kotor, dipenuhi dengan cokelat dan cat warna yang seharusnya dilukiskan ke kanvas. Putranya memang sangat banyak akal, dia senang membuat kekacauan di mana-mana. "Sayang, keluar kamu. Mama mau ngomong." Rara menghela napas, dia harus sabar. Rafael tidak akan berani menunjukkan diri jika Rara masih memanggil dengan nada membentak tajam seperti tadi. "Mama nggak marah, sini keluar sebentar." Tidak lama, terdengar suara kikikan kecil dari ba

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD