Diana P.O.V Siang itu, matahari Jakarta terasa menyengat, tapi langkahku tetap mantap saat turun dari mobil bersama Mbak Rika. Gedung Pengadilan Negeri Jakarta Timur menjulang kokoh di hadapan kami. Meski sudah bertahun-tahun berkecimpung di dunia hukum, setiap kali menjejakkan kaki di sini, aku selalu merasakan campuran adrenalin dan fokus yang tajam. Hari ini, kasus pidana yang kupegang sudah masuk tahap pembuktian. Ini berarti pertaruhan besar bagi klienku dan aku tidak punya ruang untuk kesalahan. “Kita sempat ke kantin dulu, kan?” tanya Mbak Rika sambil menyesuaikan tasnya. Aku mengangguk. “Masih ada waktu sebelum panggilan sidang.” Kantin PN Jaktim seperti biasa penuh dengan wajah-wajah yang sudah familiar seperti pengacara, jaksa, staf pengadilan, bahkan wartawan. Aroma kopi be

