Diana P.O.V Hari itu langit sedikit mendung, seolah ikut merasakan beratnya langkah yang akan kuambil bersama Sarah. Mobilku berhenti di halaman Pengadilan Negeri. Sarah duduk di sampingku, tangannya menggenggam clutch bag erat-erat, ekspresinya tegang. “Jangan biarkan mereka mengubah caramu melihat dirimu sendiri,” kataku pelan, menepuk punggung tangannya. “Kamu datang bukan untuk mereka. Kamu datang untuk membela dirimu.” Sarah mengangguk pelan. “Terima kasih, Mbak Diana... tanpa mbak, aku nggak akan sampai sejauh ini.” Kami melangkah masuk ke gedung pengadilan. Aroma bangunan tua dengan cat putih yang mulai kusam selalu mengingatkanku pada dunia yang kujalani ini Keras, dingin, tapi juga penuh harapan. Di depan ruang sidang, aku melihat seorang pria muda berseragam jaksa berdiri, t

