Diana P.O.V Hari itu, matahari sedang terik-teriknya saat aku tenggelam dalam tumpukan berkas dan draft memori banding untuk sidang minggu depan. Di meja kerjaku, segala sesuatu terlihat seperti medan perang yang tertata: stabilo warna-warni, kertas tempel, dan map berisi bukti-bukti pendukung. Aku sudah berkutat sejak pagi, bahkan belum sempat makan siang. Pikiranku benar-benar terpusat pada kasus ini. Sampai suara ketukan di pintu ruanganku terdengar. Tok! Tok! “Masuk,” ujarku tanpa menoleh. Pintu terbuka pelan. Aku mendengar langkah sepatu kulit yang rapi dan bau parfum maskulin yang cukup familiar. Perlahan, aku mendongak dan menatap pria yang masuk dengan senyum yang terlalu percaya diri untuk selera hariku yang sedang lelah. “Nona Diana,” sapanya dengan suara rendah yang dibuat

