Tidak Layak

1102 Words
Setelah malam permintaan seorang istri untuk dimadu, hari-hari berikutnya tak berbeda. Masih tak menyerah membujuk Edzar agar bersedia menikah lagi. Entah apa alasan Ana masih dengan segala asanya, berharap suaminya bersedia. “Ed . . .” panggilnya dengan manja Ana sedang duduk bersandar pada kepala ranjang. ditatapnya Edzar yang sedang fokus pada pekerjaannya di sofa kamar mereka. Seperti tahu apa yang akan dibicarakan, Edzar mengalihkan pandangannya, dilihatnya istri yang sangat ia sayangi, “Aku menolak memenuhi keinginanmu kedelapan kalinya, An. Jawabanku tetap sma, cukup bersamamu, sudah.” Ucapnya lembut tak terbantahkan. “An, lusa ada acara peluncuran produk. Kau ikut denganku ya.” Mengingat dua hari lagi akan ada peluncuran produk baru dari perusahaannya. “Apa yang kau buat, Ed? Apakah boleh aku mencobanya dahulu?” tanya Ana antusias, sesaat melupakan permintaanya sendiri. “Hanya minuman varian” “Apakah sekarang kau beralih ke minuman? Sejak kapan? Sepertinya kau belum pernah cerita sebelumnya dan lagi aku tak menemukan berkas apapun tentang produk itu.” “Hanya mencoba saja, kau tahu sepertinya bisnis makanan saja belum cukup untuk memenuhi target pasaran, An. Kebutuhan masyarakat juga meningkat mengingat banyak sekali yang rela berbondong-bondong mengantre hanya untuk minuman dengan julukan ‘hits’. Ku pikir tidak salah mencoba peruntungan. Apa kau mau menginvestasikan uangmu ke produk ini?heheh” Edzar meninggalkan pekerjaannya, menghampiri istrinya, duduk disisi ranjang sebelah istrinya. “Berapa presentase keuntungan yang kau tawarkan, tuan? Sepertinya tidak terlalu menggiurkan.” Ana berbaring dengan paha Edzar sebagai bantal. Memandangi wajah tampan Edzar dari posisinya saat ini adalah favoritnya. Berbeda dengan diskusi suami istri pada umumnya. Ana dan Edzar justru selalu terlibat dalam diskusi tentang bisnis, selalu ada pembahasan tentang investasi dan atau inovasi apa yang diperlukan dalam bisnisnya. Edzar adalah pengusaha muda dengan nilai kekayaan tak terhingga. Meski bukan nomor satu dinegaranya, tetap saja ia adalah pebisnis yang terkenal dengan dobrakan inovasi produk. Bagaimana tidak, hampir 40% sektor kebutuhan masyarakat diproduksi oleh perusahaannya. Selain bisnis produksi pangan, ia juga memiliki saham dibeberapa perusahaan tambang, belum lagi beberapa properti. Ana juga memiliki kesamaan dalam hal pandangannya terhadap bisnis, dan ketertarikannya dnegan dunia pasar modal. Itu mengapa pembicaraan suami istri itu selalu berfaedah. Mereka satu frekuensi dan seakan memiliki ideologi yang sama dalam hal bisnis. “Hmm, dasar! Memang sudah ku duga kau tak mau rugi. Kau memang oportunis sejati, An. Hahahah” “hei! Bukan aku tak mau rugi, tapi ya siapa juga yang mau rugi sih. Bagaimana bisa uangku harus aku investasikan pada sesuatu yang bahkan belum kau jelaskan, Ed. Bisnis harus jelas, berapa peluang produk itu diterima masyarakat, bagaimana peluang pemasarannya. Kau tahu itu jelas harus jadi pertimbangan utama. Dasar kewirausahaan adalah analisis SWOT, Ed.” “Iya iya aku tahu, aku sudah melakukan semuanya dengan matang selama empat bulan terakhir.” “Memangnya apa bedanya produk kali ini, Ed? Kalau memang menarik sepertinya aku mau.” Ana menarik tangan Ed untuk ia mainkan jari-jarinya. Dengan satu tanganya yang bebas, ia usap lembut pipi wanita dalam pangkuannya. “Sudahlah, kau lihat saja langsung nanti. Sekarang kau istirahat.” ------ Dengan menggunkan dress marun sebatas lutut. Heels senada dengan gaun menambah kesan anggun padanya. Dengan rambut tergelung sederhana, ia bahkan biarkan beberapa anak rambut dibagian dekat telinga terjuntai begitu saja. Jangan lupakan senyum menawan, ia benar-benar bak dewi kecantikan. Mengikuti kemanapun Ed membawanya. Menemui para tamu undangan yang hadir, baik investor, pemilik saham, influenser, dan keluarga besar Ed. Menyalami tiap rekan bisnis dan tamu, tak jarang Ana ikut dalam pembicaraan. Disinilah Ana tak melepaskan peganganya pada lengan suaminya. “Ed, aku akan menemui mami dan papi, selesaikan pembicaraanmu dan lekaslah menyusul.” Bisiknya dengan mengusap lembut lengan Ed Ed membalas dengan sebuah ciuman singkat pipi kiri Ana, “Baiklah, aku akan menyusul” Ana meninggalkan Ed dengan kesibukannya, mengedarkan pandangan mencari keberadaan mertuannya. Edwiin masih dengan setia mengamati punggung istrinya yang semakin lama hilang dikeramaian. “Annnna!!” suara heboh yang amat ia kenal siapa pemiliknya. Perempuan paru baya itu merentangkan tangan menyambut kedatangan menantu kesayangan. “Mami...” Ana membalas pelukan hangat itu dengan usapan lembut pada punggung mertuanya. “Kau cantik sekali, An. Sepertinya kecantikanmu menolak tua, An. Masih seperti gadis tujuh belas tahun. Eheh” kekehan mami “Kan mami cantik, masa putrinya jelek.” Dengan manjanya kembali memeluk Catherine Morris, ibu mertuanya. “Oh ya, kau betul.” Celetuk Catherin disertai gelak tawa Jose Morris sang suami. Di meja itu, terdapa delapan kursi melingkar. Jose dan Catherin Morris, orangtua Edzar. Kemudian ada juga paman bibi, Alex Morgan adik Mami Catherine yang datang dengan keluarganya, Sesilia Morgan istrinya, dan seorang putra, Axl Morgan. Kursi lainnya masih kosong, Anna memilih duduk dekat dengan mami Catherine. “Kau disini sebentar, mami akan menemani papi menemui rekan bisnisnya, oek sayang?” ujar mami sebmabri memberi usapan lembut pada menantu kesayangannya. Keluarga Morgan adalah keluarga terdekat keluarga Morris. Menginggat Jose Morris anak tunggal, ia tak memiliki keluarga dekat. Tak lama setelah kepergian Jose dan Catherine “Huh. Memang sii, terlihat awet muda. Tapi gak berguna!’ ketus bibi Sesil setelah memastikan hanya ada mereka berempat yang tersisa di meja itu Merasa tak terganggu, Ana tetap memeberikan senyuman tulus kepada paman dan bibi dari suaminya ini. “Terimakasih bibi, aku anggap itu pujian.” “Huh, lagi. Masih sama saja perempuan ini! Bagaimana bisa Ed kita yang berharga memilih istri rendahan seperti dia!” maki bibi Sesil. “Jangan seperti itu!” suara ketus dengan suara tinggi mampu mebuat mereka semua terkejud. Bukan sahutan Ana, melainkan suara Axl. “Mom, jangan diambil hati apa yang sudah dikatan mama, Ok? Mommy yang terbaik!” ujarnya pada Ana dengan tulus, membuat paman dan bibi semakin geram. “Ti. . .” belum sempat Ana membalas ucapan Axl “Kau ini anak siapa?! Kenapa kau membela dia?! Dan lagi kenapa kau masih saja memanggilanya begitu, huh?! Dia tidak layak kau panggil mommy! Bahkan merasakan hamil sembilan bulan saja dia tidak.” Maki bibi semakin menjadi diiringi pukulan pada putranya. “Sudahlah, Axl. I’m oke, mommy tidak apa. Turuti apa mau mama mu.” “Cihh. Dia sebut dirinya mommy. Merasakan melahirkan saja dia tidak pernah.” Cibiran dari bibi. “Hanya karena Ed kami memilihmu menjadi wanitanya, bukan berarti wanita seperimu layak berada ditengah keluaga Morris, asal kau tahu itu! Dan gilanya Ed menyerahkan yayasan Morgan padamu” makian itu sudah keluar dari zona aman, intonasi suara yang sudah diluar kendali membuat beberapa tamu menatap kearah mereka. Hal itu mengundang emosi seseorang naik dari kadar normal. Sedari tadi dia mencoba tetap diam, tapi tak mebuat kondisi membaik, justru makian terakhir membuat emosinya semakin tak terkendali. Dengan amarah yang berhasil mencapai ubun-ubun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD