Belajar dari kesalahan, Nirina memilih pulang lebih awal dari pada hari sebelumnya. Lebih cepat satu jam. Semoga saja macet tidak separah kemarin. Keluar dari ruang pribadinya, pamit pada beberapa karyawan dan berjalan santai menuju tempat parkir. Matanya memicing begitu mendapati mobil yang tadi dinaiki Dion masih terparkir tepat di samping mobilnya. Berarti, Dion belum pulang? Nirina kira, Dion hanya makan dan akan segera pergi. Mengedikkan bahu dan masuk ke dalam mobilnya. Mau Dion masih di sini atau sudah pulang, bukan urusan Nirina kan. Sayangnya, mulut dan hati Nirina tidak sinkron. Mulut berkata segera pergi, namun hati memaksa untuk menunggu walau sebentar. Nirina takut jika ternyata Dion itu menunggunya. Nirina mengalah, bukan hanya menunggu tapi mendekati mobil Dion. Kaca mobil m

