Azzam berhenti bernapas ketika mendengar perkataan Reina. Dia menelan ludahnya dengan susah payah. Tatapannya bergetar karena mendengar ucapan yang tidak pernah dia sangka-sangka. Azzam menatap Reina untuk meyakinkan apakah yang dia dengan memang benar-benar kenyataan. Tetapi, istrinya yang sama sekali tidak berpaling membuatnya sadar jika apa yang dia dengar bukanlah sebuah ilusi. Azzam menghela napas panjang, dia menghembuskan napasnya dengan berat. “Apa kamu sudah mencintai pria itu?” Reina benar-benar menatapnya ketika mendengar pertanyaannya. “Tidak, tapi dia bisa menemaniku kemanapun dan dimanapun. Tidak seperti, Mas.” “Sayang, ayo coba pikirkan lagi. Apa yang Mas tidak lakukan kepada kamu? saat itu, apa Mas salah mengambil tindakan untuk bersama Nadhifa jika kamu terus pergi ke

