Ketiga perempuan itu telah sampai di rumah, setelah pertemuan digagalkan lagi. Alasan yang cukup biasa saja, namun membuat mereka merasa kesal dan lelah dengan drama yang tidak ada selesainya. “Sudahlah, memang begini,” kata Anara sembari duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu rumahnya. Pricilla menghela napas, kemudian membuang sembarang tas miliknya ke sofa. “Kalau seperti ini, rugi aku. Mana sudah meninggalkan bisnis demi kode sialan!” marahnya dengan posisi masih berdiri di depan meja. “Mau bagaimana lagi, mungkin memang belum ada waktu yang tepat untuk ketemu,” balas Anara dengan lesu. Sebenarnya, Anara sendiri sudah merasa lelah dengan hukuman yang sangat tidak masuk akal. Siswa-siswi SMA di suruh membuat kode untuk sekolah. Padahal, kode tersebut bersifat rahasia.

