Perempuan dan Keriwehannya

1127 Words

Sudah lima menit Pricilla menunggu Anara dan Agnetha selesai dengan dandannya. Namun, keduanya tidak kunjung selesai dengan aktivitasnya. Mungkin, Pricilla sendiri sama halnya dengan mereka. Namun, bedanya Pricilla bisa menempatkan waktu. “Ayolah, cepat!” teriak Pricilla sembari menggedor pintu kamar Anara dengan kuat. “Kita sudah terlambat, tahu?!” lanjut Pricilla masih merasakan kesal kepada teman-temanya. “Sabar, kali. Kita mau ketemu teman juga, bukan mau ketemu guru killer,” celetuk Anara yang masih sibuk memakai maskara. Pricilla mendekat kembali ke kasur, duduk di tepi kasur, kemudian mengambil kaca kecil dari dalam tasnya. Ternyata, wajahnya masih begitu kucel dan bedak masih berantakan. Anara melirik sekilas ke arah Pricilla melalui kaca yang ada di depannya. “Nah, kan, Bu,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD