Namanya Haura, usianya 28 tahun, dan berdarah campuran, cina-melayu serta kulit putih. Dia sebenarnya lebih terlihat seperti orang asia, tapi di beberapa kesempatan juga bisa terlihat seperti orang bule. Terutama saat wajahnya terkena sinar matahari, yang membuat bola mata coklat terangnya, serta rona merah di pipinya jadi terlihat jelas.
Entah kenapa bisa begitu, Yongtae pun merasa takjub sendiri tadi saat melihatnya.
Sayang, pesona wajahnya harus tertutup luka dan memar, serta topi seragam kerjanya.
Dan yang lebih disayangkan lagi, sudah menikah, bahkan sudah punya anak berusia enam tahun. Yah, dia menikah di usia muda. Yaitu dua puluh dua tahun. Dan begitu menikah, langsung dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Matthew.
Hanya sebatas itu yang Yongtae tahu tentang Haura. Sementara Yongtae, malah cerita macam-macam pada Haura.
Haura tipe orang yang mudah memancing lawan bicaranya untuk banyak bicara. Meskipun dia sendiri sebenarnya condong pendiam.
"Ya lalu kenapa kalau sudah menikah? Aduh, pikiranku ini. Memangnya berteman saja tidak bisa?" oceh Yongtae selama menyetir.
Ia tiba-tiba mengingat coklat berwarna merah muda, berbentuk segitiga, yang dihiasi bunga mawar kecil di atasnya, dan dibungkus plastik mika tebal. Katanya itu hadiah untuknya, atas keberaniannya mengajak berteman. Setelah Yongtae mengaku kalau sebenarnya dia pemalu dan kesulitan memulai pertemanan.
'Aku jadi diperlakukan seperti anak-anak sih, tapi senang,' batin Yongtae, sembari tersenyum tipis. 'Padahal aku lebih tua lima tahun darinya. Yah, seringnya wanita lebih dewasa dari pria, entah kenapa. Apa lagi jelas dia seorang ibu. Tapi apa aku terlihat imut, jadi diperlakukan seperti anak kecil?'
Tak terasa, ia akhirnya tiba di apartemennya. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran, Yongtae bergegas naik ke lift, menuju lantai delapan, tempat dimana unitnya berada.
•••
Yongtae menatap ponselnya, sembari menggigiti kuku ibu jarinya.
'Hubungi, tidak? Hubungi, tidak?' batin Yongtae. 'Akh, hubungi saja. Kan hanya lewat pesan,'
To: Haura
Halo...
Satu menit, dua menit, tiga menit... belum ada jawaban juga.
Yongtae menghempaskan tubuhnya di kasur, sembari menatap cemas ke layar ponselnya.
"Hah, apa memang salah ya menghubunginya?" batin Yongtae. "Bagaimana kalau dia tadi hanya merasa tidak enak, makanya menerima tawaranku untuk berteman. Tapi kalau memang begitu, dia tidak akan memberikan nomor ponselnya 'kan?"
Berbagai macam prasangka jadi berputar di benak Yongtae.
Ia pun menghela napas, dan akhirnya memilih bangkit dari kasurnya untuk mandi. Semoga saja setelah mandi nanti, akan ada jawaban masuk di ponselnya.
•••
Matthew menatap Haura yang tampak sedang melamun sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Ia bisa merasakan tangan ibunya yang menggandeng tangannya, mengeluarkan keringat.
"Ibu, kau baik-baik saja?" tanya Matthew.
"A-ah, iya, tentu, Ibu baik-baik saja. Memangnya kenapa?"
"Ibu tampak gelisah, tangan Ibu juga berkeringat. Setiap hari aku lihat, Ibu sepertinya tidak ingin pulang ke rumah. Kecuali kalau Ayah sedang dinas ke luar kota atau luar negeri,"
"Mana mungkin Ibu begitu? Ibu hanya merasa lelah,"
"Apa Ayah baik pada Ibu? Aku sering mendengar Ayah membentak Ibu di kamar,"
"Matt... kan Ibu sudah bilang jangan menguping kamar orang tua. A-Ayah... baik kok. Dia padamu juga baik 'kan?"
"Yah, padaku sih memang baik. Tapi bagaimana dengan Ibu?"
"Namanya keluarga pasti saling mencintaikan?"
"Sepertinya tidak. Ada temanku di sekolah yang orang tuanya baru berpisah, anak itu jadi nangis seharian di sekolah. Yang dia tahu, orang tuanya saling mencintai, padahal ternyata tidak,"
Haura terdiam. Dia malah jadi membayangkan kalau Matthew yang berada di posisi anak itu. Dadanya jadi sakit membayangkan ia menangis karena orang tuanya berpisah.
"Aku tidak mau Ayah dan Ibu berpura-pura seperti orang tua temanku. Kalau memang Ayah dan Ibu tidak saling mencintai, katakan dan berpisah,"
"Hei, kenapa kau bicara dingin begitu? Ayah dan Ibu tidak begitu kok. Memangnya kau tidak sedih kalau Ayah dan Ibu mengaku tidak saling mencintai, lalu berpisah?"
Matthew terdiam. "Iya, aku sedih,"
"Ayah dan Ibu tidak akan begitu, karena kami tidak mau melihat Matthew sedih,"
Matthew menatap ibunya dengan tatapan sendu.
"Ibu, padahal Ibu hanya ibu tiriku, tapi kenapa sangat baik padaku?"
"Meskipun Ibu hanya tiri, Ibu tetap mencintaimu. Kau tetap anak Ibu meskipun bukan kandung. Ah, Ibu rasa kau dewasa terlalu cepat,"
"Aku sudah enam Bu, aku sudah besar,"
"Ahaha, ya ampun, kau sudah enam tahun ya? Ibu ingatnya kau masih dua tahun terus. Kau imut sih," Matthew memajukan kedua bibirnya, saat Haura mengacak rambutnya.
"Tapi aku tinggi 'kan Bu?"
"Iya, kau tinggi, seperti Ayahmu,"
Langkah keduanya, tak lama kemudian berhenti, tepat di depan sebuah rumah besar, yang berdesain elegan dengan dominan cat berwarna putih, serta banyak kaca-kaca hitam besar yang menggantikan beberapa bagian dinding rumah.
Haura memang tinggal di perumahan elit. Suaminya sebenarnya berkecukupan, bahkan lebih-lebih, alias kaya raya. Namun ia tidak nyaman ada di rumah, dan akhirnya memilih kerja. Meskipun hanya kerja di restoran cepat saji.
•••
Haura tersentak, mendapati suaminya ternyata sudah ada di rumah. Dan saat ini tengah berbaring di kasur kamar mereka, sembari memegangi kepalanya.
"Kau tadi sore mabuk ya?" tanya Haura sembari mendekati pria berkulit putih itu.
Pria itu tidak menjawab, ia hanya melenguh sedikit, sembari merubah posisi tubuhnya jadi menyamping.
Haura terdiam sejenak, sembari menatap punggungnya. Suaminya tadi sore sepertinya makan-makan di sekitar kafe yang ia kunjungi, lalu mabuk.
Dan menemukan dirinya berada di kafe itu, lalu datang dan marah-marah. Kalau dia tidak mabuk, dia tidak mungkin begitu.
Haura duduk di pinggir ranjang, dengan pikiran yang terbang kemana-mana. Dulu pernikahannya tidak seperti ini, suaminya dulu orang yang baik bahkan sangat lembut. Bahkan dia yang membantu Haura dari keterpurukannya.
Namun banyak alasan serta kejadian yang membuatnya berubah. Hingga Haura sendiri merasa tidak bisa menyalahkannya meskipun sudah disakiti. Padahal, tidak ada alasan yang bisa memaklumi kekerasan. Apa lagi dalam rumah tangga.
"Jia..." gumam pria itu tiba-tiba, yang membuat Haura tersadar dari lamunannya. "Aku melihatnya lagi, tapi saat aku mau menghampirinya dia kabur,"
Nyut... d**a Haura seketika merasa nyeri. Ia langsung buru-buru berdiri, dan membukakan sepatu, serta jas dan dasi yang suaminya kenakan.
"Jeffrey, ayo bangun sebentar, mandi dulu, lalu tidur lagi," kata Haura.
Jeffrey, nama suaminya itu. Tak lama membuka matanya dan menatap Haura.
"Dia kabur, apa karena tahu aku sudah menikah lagi?" tanyanya sembari meraih kedua kerah baju Haura, dan mencengkeramnya hingga Haura merasa sedikit tercekik.
Jeffrey kemudian menariknya, hingga tubuh Haura menunduk, dan wajah mereka mendekat.
"Y-yang kau lihat, belum tentu Jia..." ucap Haura dengan nada lirih.
"Kau pikir aku buta?"
"Aku tidak bilang kau begitu, ha-hanya saja, dia sudah meninggal,"
Tubuh Haura langsung didorong hingga tubuhnya jadi ke lantai. Jeffrey lalu bangkit duduk, sembari melepas sabuk celananya, yang membuat Haura otomatis bergerak mundur sembari berusaha melindungi dirinya dengan kedua tangan.
•••
Yongtae menatap sendu layar ponselnya, sembari memasukan selada dan potongan daging ke dalam mulutnya.
"Hah, dia tidak jawab juga. Padahal hanya mau berteman, tapi susah sekali. Bagaimana kalau aku mencoba cari pacar, lebih susah lagi," monolog Yongtae sendiri.
Ia kemudian memajukan bibir bawahnya. "Enaknya Johnny yang sudah menikah, hiks. Dia tidak akan makan sendirian seperti aku,"
"Kalau saja dia belum menikah, kita masih bisa main sekarang. Hah, tapi siapa bapak-bapak yang masih main?"
Ting! Mata Yongtae melebar melihat layar ponselnya tiba-tiba menyala karena ada satu notifikasi yang masuk.
"Akh! Akhirnya dibalas!" seru Yongtae sembari mengepalkan satu tangannya, dan menggigit ujung buku jarinya.
From: Haura
Halo, maaf baru balas. Aku dari tadi tidak pegang ponsel,
To: Haura
Ah, tidak apa-apa kok, hehe,
'Padahal sangat apa-apa,' batin Yongtae.
From: Haura
Kau sudah malam begini belum tidur?
To: Haura
Aku lapar, jadi mau makan dulu sebelum tidur. Kau sendiri belum tidur?
From: Haura
Haha, iya. Biasalah, mengerjakan pekerjaan rumah dulu, karena seharian aku 'kan kerja,
To: Haura
Wah, pasti sangat lelah,
From: Haura
Hhm, lumayan. Sedikit stress juga, karena tidak ada hiburan. Dan karena terlalu lelah, jadi tidak bisa tidur.
To: Haura
Oh, kau butuh hiburan? Aku punya banyak hiburan,
Send video
Send video
Send video
Itu garing sih. Tapi lumayan untukku, bagaimana menurutmu?
From: Haura
Hahaha, itu lumayan. Aku suka video anak laki-laki yang dikejar anjing. Meskipun kasihan, untungnya ada anak perempuan yang menyelamatkannya,
To: Haura
Sebenarnya itu temanku, dan anak perempuan itu sekarang jadi istrinya. Yang merekam aku, pakai kamera jadul ayahku
From: Haura
Ah, ya ampun. Aku jadi merasa bersalah,
To: Haura
Haha, tidak perlu. Aku mengirimimu video itu 'kan memang untuk ditertawai,
From: Haura
Video-video yang lain bukan teman atau saudaramu 'kan?
To: Haura
Haha, bukan, tenang saja. Mau video yang lain?
From: Haura
Mau! Tapi bagaimana kalau kita barter? Aku punya banyak meme lucu juga,
To: Haura
Wah, kau suka mengoleksi meme?
From: Haura
Yah, kalau ada waktu luang, hehe. Tapi tidak semua lucu, ada juga yang aku gunakan untuk penyemangat,
To: Haura
Aku mau coba lihat yang itu,
From: Haura
Send image (tulisan dalam foto –it’s just a bad day, not a bad life-)
To: Haura
Wah, aku merinding,
From: Haura
Kalau hariku sangat berat, aku akan melihat itu, haha,
To: Haura
Aku akan barter dengan video koleksiku, tunggu ya, aku pilihkan yang bagus,
From: Haura
Aku tunggu,
Tidak terasa Yongtae dan Haura menghabiskan malam dengan berkirim pesan, dan saling mengirim foto meme serta video-video lucu.
To: Haura
Kalau sudah mengantuk dan mau tidur, bilang ya?
From: Haura
Oke,
'Dia menyenangkan.' batin Yongtae.