10

1014 Words

Yongtae mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di pelipis, keningnya mengkerut dan alisnya bertaut. Sementara matanya menatap fokus catur di depannya. Johnny menguap, ia mulai jengah dan bosan menunggu Yongtae bergerak. "Hei, mau sampai kapan aku menunggumu bergerak? Ya ampun, aku lelah tahu," gerutu Johnny. "Kafemu kan juga sedang sepi, tidak apa-apa dong menungguku sebentar," balas Yongtae. "Sebentar kau bilang?! Kalau tidak ada ibumu, entah sudah aku apakan kau," dengus Johnny. "Pikiranku sebenarnya sedang tidak ada dicatur," ucap Yongtae, sembari menjatuhkan semua pion yang ada di atas papan catur, membuat Johnny melotot kemudian memukul tangannya. "Aku sudah susun susah payah! Sialan!" seru Johnny. "Ya, maaf, tapi tidak usah memukul dong, sakit..." keluh Yongtae. Johnny menatap data

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD