Kejadian yang tak terduga (2)

1011 Words
Aluna yang baru saja selesai mengeringkan rambutnya, kembali ke ruangannya. Semua mata tertuju kepadan Aluna, wajah mereka terlihat tidak suka dengan Aluna. Semua ini karena Aluna yang menggunakan baju polos dan santai. Padahal Aluna termasuk anak baru disini tapi dia bisa seenaknya memakai baju, reputasi perusahaan pasti akan rusak karena Aluna. Aluna terus berjalan ke arah mejanya, dia tidak mempedulikan tatapan dari para pegawai lainnya. Sekarang dia hanya akan diam dan fokus terhadap pekerjaannya. Setumpuk lembaran kertas berada di atas meja membentuk sebuah bukit yang tinggi, Aluna merasa menyesal bertukar tugas, tugas yang seharusnya di kejarkan oleh Jessika harus dikerjain olehnya, mana banyak pula. Tapi disisi lain Aluna bersyukur, berkat kertas - kertas yang diberikan pak Dhimas membuatnya bisa bekerja tanpa mempedulikan tatapan pegawai yang lain. Waktu terus berlalu, tak terasa hari sudah malam tapi Aluna masih asik dengan lembaran kertas di tangannya. Semua orang yang ada di ruangan ini sudah pulang hanya tertinggal Aluna sendirian. Aluna sudah terbiasa dengan ini semua, di pekerjaan sebelumnya Aluna juga sering melakukannya bahkan hingga pagi. "Akhirnya selesai juga," ucap Aluna pada dirinya sendiri. Merasa tubuhnya yang kaku, Aluna meregangkan otot ototnya. Krek! Bunyi suara yang cukup keras seperti tulang yang patah dari tubuh Aluna , Aluna sendiri pun sampai kaget mendengarnya. Aluna kemudian melihat jam tangannya yang menunjukkan jam 11 malam, untung saja di kota ini sudah modern, ada kereta otomatis yang buka 24 jam dan juga Aluna bisa menggunakan Go Car untuk pulang. Dia memutuskan tidur sebentar untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Bagaiman tidak lelah, di hari pertama dia kerja Aluna sudah mendapatkan masalah seperti di Jambak, di siram air oleh Jessika dan juga dia harus mengerjakan semua tugas Jessika, belom lagi dia berurusan dengan Boss nya yang ceroboh itu. Mengingat pak Rendra membuat Aluna kembali kesal. sangking lelahnya Aluna tertidur nyenyak cukup lama, Aluna tidak menyadari seseorang membuka pintu ruangan. Kemudian orang itu menghampiri Aluna yang tertidur nyenyak. Orang itu adalah Rendra. Rendra melihat wajah Aluna yang pucat kemudian dia memegang jidat Aluna untuk memeriksanya. Panas. Tubuhnya terasa panas. Rendra yang tadinya ingin membangunkan Aluna mengurungkan niatnya, tapi dia tega membiarkan Aluna tidur seperti itu. Itu hanya membuatnya bertambah parah. Akhirnya Rendra memutuskan untuk menggendong Aluna ke Apartemen miliknya yang ada di gedung ini. Untungnya tidak ada pegawai lain yang masih bekerja, hanya ada satpam yang berjaga di pintu utama. Kalau sampai ada pegawai yang melihatnya pasti akan menjadi kehebohan di kantor ini. Sampai di depan kamar, Rendra sedikit kesusahan untuk membuka pintu karena kedua tangannya harus memegang tubuh Aluna. Setelah pintu itu terbuka Rendra membaringkan tubuh Aluna di kasur. "Tch, merepotkan saja." Walaupun Rendra mengatakan hal itu dia masih bersikap baik dengan menyelimuti tubuh Aluna dengan selimut. Kemudian pergi mengambil kain dan semangkuk air hangat. Rendra menaruh kain yang sudah dibasahi air hangat itu di jidat Aluna. Saat Rendra ingin menaruh kainnya, wajah mereka saling berdekatan. Sehingga Rendra bisa melihat wajah Aluna yang masih tertidur lelap. Dia memperhatikan setiap sudut wajahnya yang tampak sempurna, Rendra tidak menyadari kalau Aluna ternyata secantik ini. Rendra tidak pernah memperhatikan wajah seseorang. Baginya wajah mereka itu semua saja tak ada yang berbeda, dia lebih suka dengan wanita yang pintar. Namun untuk malam ini, Rendra memperhatikan wajah Aluna yang tampak cantik di bawah sinar bulan yang terpancar dari jendela kamarnya. Dia melihat bibir mungil Aluna yang merah, membuatnya tergoda untuk menciumnya. Rendra mencoba untuk mendekati dirinya ke bibir Aluna, namun tiba - tiba saja Aluna bergerak membuat Rendra tersadar dan segera menjauh. Aluna masih tertidur dengan nyenyak, melihat itu Rendra menghela nafas lega. Dia kemudian menutup gorden jendela dan keluar dari kamarnya. *** Keesokan paginya, Aluna terbangun dari tidurnya. Dia mengusap ngusap matanya yang masih merasa ngantuk. Aluna mencoba melihat sekitar , dia sama sekali tidak mengenal kamarnya sekarang, ini terasa sangat asing baginya. "Ini dimana?" Aluna mengumpulkan semua nyawanya untuk segera bangun. Dengan mata yang masih mengantuk Aluna berjalan menuju hordeng. Saat dia membuka hordeng tersebut, Aluna terkejut melihat ke bawah jendela hingga membuatnya kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Aluna merasa dejavu, dia ingat sekali pernah melihat pemandangan ini. Setelah cukup lama berdiam dan berpikir akhirnya Aluna sadar kalau sekarang dia masih berada di gedung perusahaannya. Aluna berpikir kalau kamar ini adalah fasilitas milik kantor yang dikatakan oleh Dimas sebelumnnya. Namun siapa yang memindahkan dirinya kesini, tidak mungkin kan kalau dirinya tidur sambil berjalan sendirian kemudian membuka pintu kamar yang harusnya terkunci. Tidak mau memikirkannya lebih lama, Aluna buru - buru mencari barangnya namun tidak ada. Dia memutuskan untuk kembali ke ruangannya, barangkali barangnya tertinggal disana. Aluna membuka pintu kamar, sebelum dia melangkah keluar Aluna mengecek ke kanan dan ke kiri untuk memeriksa agar tak ada seorang pun yang melihatnya. Setelah mengira tak ada satupun orang yang melihat, Aluna berjalan keluar seolah - olah tidak terjadi apapun. Untung saja dia terbangun di pagi hari, belom ada satupun orang yang datang ke gedung ini. Lagipula ini hari Minggu, jadi sebagian orang tidak datang ke kantor. Biasanya mereka mengerjakan tugas di rumah mereka masing - masing. Aluna kemudian mengambil barangnya, dia berniat untuk segera pulang. Saat melihat tumpukan kertas yang semalam dia kerjakan, dia berpikir untuk sekalian membawakan kertas kertas ini ke ruangan pak Rendra. "Lebih baik aku membawa nya ke ruangan pak Rendra," ucap Aluna pada dirinya sendiri. Dengan susah payah Aluna membawa tumpukan kertas itu dengan kedua tangannya. Dia berpapasan dengan Dimas yang ternyata berada di kantor. "Luna, kau masih dikantor?" tanya Dimas. "Ah, iya pak." Jawab Aluna mengangguk sambil menyembunyikan wajahnya dengan tumpukan kertas, dia takut Dimas melihat wajah jeleknya yang baru saja bangun. Sangking buru - buru Aluna lupa tidak mencuci wajahnya. "Kau sakit?" "Tidak pak saya baik baik saja." "Terus kenapa kamu nutupi wajahmu?" "Aku hanya.." Aluna tidak memungkinkan mengatakan alasan yang sebenarnya pada Dimas. "Hanya apa?" "Maaf pak saya buru - buru ingin mengumpulkan tugas ini keruangan pak Rendra." Aluna bergegas melangkahkan kakinya dengan cepat agar Dimas tidak bertanya lagi. "Dia kenapa?" Dimas hanya kebingungan melihat Aluna sudah berjalan jauh darinya. "Padahal tugas tugas itu tidak harus dikerjakan sekarang, tugas itu diberikan untuk satu Minggu tapi di sudah menyelesaikan semuanya." ucap Dimas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD