10

1826 Words
 Aku bohongin kamu. Aku tau kamu pasti marah. Tapi gapapa demi kamu gak menangis. _Ali *** Ali ingin membuka pintu mobilnya. Saat tangan kirinya menggapai pintu mobil. Ia gak jadi, ia baru ingat tangan kanannya terluka dan terasa sakit. Jadi mana mungkin ia bakal bisa menyetir. Ali mengurungkan niatnya pergi menggunakan mobil. Ali merogoh saku celananya dan mengambil HP-nya di dalam saku itu. Ia memesan ojek online. Cara itu adalah ide paling bagus daripada ia membahayakan dirinya. Jika ia tetap ngotot alias nekat menyetir mobil dalam keadaan tangan terluka dan kepala sakit, nanti ia bisa celaka lebih tepatnya tabrakan. Nasib buruk jika ia sampai meninggal. Ia belum siap mati apalagi membuat Aisyah sedih dan ia tidak mau jika itu benar-benar menjadi kenyataan. Tak lama kemudian ojek online yang Ali pesan tiba. Tukang ojek online yang berjenis kelamin laki-laki itu menghentikan motornya di dekat seorang lelaki muda yang tengah berdiri di depan pagar rumah. Dia meyakini itu adalah penumpangnya. Si Tukang ojek online tersebut pun menyodorkan helm ke penumpangnya sambil berkata, "Mau ke rumah sakit ya Mas?" tanyanya menduga. Melihat pemuda yang mengordernya itu tampak pucat, dan baju bernoda merah. Mungkin itu darah. Dia jadi mengira pemuda itu sedang sakit dan ingin ke rumah sakit. Ali gak langsung jawab. Ali mengambil helm itu dan memasang helm tersebut di kepalanya. "Saya mau ke Apotek terdekat," jawabnya. Ali pun naik ke atas motor. "Kenapa gak ke rumah sakit Mas? Muka Mas saya liat pucet banget. Mas sakit kayaknya," kata Si Tukang ojek online. Ali menepuk pundak Si Tukang ojek. "Udah Bapak jangan bawel, bawa aja saya ke Apotek. Sekarang jalan!" pinta Ali. "Baik Mas." Si Tukang ojek pun menghidupkan mesin motornya dan berlalu pergi. Dia harus menurut karena penumpang adalah raja. *** Perjalanan Ali dari rumah ke Apotek tidak butuh waktu lama. Apalagi Ali meminta Si Tukang ojek ngebut. Jadi dalam waktu singkat Ali sudah sampai di Apotek sekarang. Ali turun dari motor sambil membuka helm di kepalanya dan memberikan helm itu ke Tukang ojek. "Bapak tunggu sini, saya cuma sebentar. Jangan kabur, nanti saya gak bayar." "Baik Mas." Ali berjalan ke arah Apotek dan masuk ke dalamnya. Sampai di dalam Ali melihat kanan kiri mencari obat yang ia cari. Bingung, itulah yang Ali rasakan saat ini. Ia gak tahu nama obat yang harus ia beli. "Maaf Mas, bisa saya bantu," ucap karyawan wanita yang bertugas di Apotek dengan ramah. Ali menghampiri karyawan itu. Kini ia dan Sang karyawan Apotek sudah berhadapan. Dengan dibatasi meja kaca yang berisi obat-obatan. "Saya mau cari obat pereda rasa sakit yang paling ampuh. Dosis tinggi juga gapapa. Terpenting obatnya cepat bereaksi," ucap Ali. "Maaf Mas, obatnya sih ada. Tapi obat yang Mas cari termasuk obat keras dan harus dengan resep dokter. Saya tidak menjual obat itu secara ilegal. Sebaiknya Mas ke dokter dahulu dan kembali lagi ke sini," jelas Sang karyawan. "Saya akan bayar dua kali lipat," tawar Ali. "Maaf Mas tetap tidak bisa. Ini sudah prosedur." "Kalau gitu tiga kali lipat." "Tetap tidak bisa Mas." "Empat kali lipat saya bayar." "Maaf Mas, tetap gak bisa." Ali menggaruk kepalanya frustasi sambil mendengus kesal. Empat kali ia tetap ditolak. Padahal udah dengan tawaran harga yang tinggi. Ia gak mau repot-repot ke rumah sakit. Akan butuh waktu lama jika ia ke sana. Nanti akan mengakibatkan kecurigaan pada Aisyah yang pasti keheranan dengan dirinya yang pergi tanpa pamit. Hilang begitu saja apalagi dalam waktu lama. Ali menatap karyawan Apotek yang di hadapannya. "Kalau gitu saya bayar lima kali lipat. Jika Mbak nolak, sayang banget. Karena apa? Karena kesempatan tidak datang dua kali. Saya bakal pindah ke Apotek lain. Dan Mbak bakal rugi!" Ali mengancam. "Emm, ya udah Mas, saya ambil dulu obatnya kalau gitu." Si karyawan tersebut akhirnya menerima tawaran Ali. Dengan tawaran lima kali lipat siapa yang gak mau. "Dari tadi kek," batin Ali. "Cepat ya Mbak," pinta Ali. "Iya Mas." Si Mbak mengambil obat dan gak lama kemudian kembali bersama obat yang di tangannya. "Ini Mas, obat yang Mas cari. Ini obat keras dan jika terjadi efek samping berlebih, saya dan pihak Apotek ini tidak bertanggung jawab. Saya sudah sarankan untuk meminta resep dokter terdahulu, tapi Mas tetap ngotot jadi bukan kesalahan saya jika terjadi sesuatu pada Mas," jelas Si Mbak sambil memberikan obat ke Ali. "Mbak tenang aja, saya gak bakal nuntut apa-apa kok." Ali mengambil obatnya. "Ini pembayarannya." Ali memberikan ATM-nya. Selesai melakukan pembayaran via ATM dan Si karyawan Apotek pun mengembalikan ATM-nya Ali. "Makasih Mas," ujar karyawan Apotek dengan Ramah dan senyum gak ketinggalan. "Sama-sama Mbak yang hitam manis," balas Ali membuat Si Mbak jadi tersipu malu. Ali berbalik dan berjalan ke arah pintu Apotek. Si Mbak berteriak. "Tunggu Mas!" "Apa?" tanya Ali sambil menoleh. "Obatnya bukan untuk hal negatif, kan?" "Tenang aja, saya bukan pemuda penikmat narkotika," jawab Ali. Ia kemudian melanjutkan langkahnya yang terhenti. Ia gak tega melihat Bapak ojol yang menunggunya sedari tadi. Kalau ia berlama-lama meladeni penjaga Apotek yang terlihat cukup seksi, cukup bahenol, dan cukup mengundang syahwat sebagai seorang pria normal. Jujur, Si pegawai Apotek tadi pakaiannya agak terlalu terbuka. Udah kayak suster berpakaian minim. Ali jadi kena zina mata gara-gara melihatnya. *** Ali turun dari motor. Ia sudah sampai di depan pagar rumahnya. Ia segera membuka helm dan membayar ojol dan tidak lupa mengucapkan terima kasih. Setelah itu Ali membuka pagar dan menutupnya kembali. Lalu ia berjalan menuju pintu rumah dan masuk ke dalam rumahnya. "Darimana?" tanya Aisyah yang seakan mencegat langkah Ali yang mau menuju ke kamar. "Aku cari kamu kemana-mana gak ketemu. Aku khawatir sama kamu. Taunya kamu pergi diam-diam tanpa kasih tau aku. Aku panik nyariin kamu Li! Bisa gak kalau pergi gak ngilang gitu aja. Aku cemas." Aisyah mengomel. Setiap wanita memang tidak bisa lepas dari kata mengomel, dan Ali jadi malas mendengar omelan istrinya. Tapi mau gimana lagi, itulah karakter unik yang ada pada seorang wanita. Dan gak mungkin bisa dihindari siapapun. Karena seorang perempuan memang dari sananya begitu. Mengoceh, bawel, cerewet, manja, namun meskipun begitu. Akan tetapi sosok kehadirannya membuat bumi merasakan rasa kasih sayang yang tulus. Contohnya kasih ibu pada anaknya. Bukan kasih bapak sepanjang masa. Karena yang ada kasih ibu sepanjang masa. "Jawab Li! Jangan diem aja!" ucap Aisyah dengan intonasi agak marah. Ali senyum. Aisyah tak membalas senyumnya, gapapa. Ali maklumi karena pasti istrinya saat ini sedang ngambek. Ali mengusap kepala Aisyah. "Yang penting 'kan aku kembali," ucapnya. "Tapi kamu darimana?" "Cari angin. Di rumah panas." "Ngapain cari angin, di sini kan, ada AC." "Oh iya aku lupa!" Ali menepuk jidatnya supaya kebohongannya tak kelihatan. Jadi seakan ia lupa beneran. "Kamu gak bohong, kan?" "Buat apa bohong." Ali mendekatkan kepalanya ke Aisyah. "Gak boleh bohongin istri, entar dosa," bisiknya. "Aku ke kamar dulu ya, mau mandi," lanjut Ali. "Tangan kamu kan, masih sakit. Perih nanti kalau tersentuh air." Aisyah berucap. "Ya gapapa. Sekalian mau dibersihin." "Emangnya kamu udah baikkan. Kamu kan, demam. Nanti tambah parah kalau kamu mandi." "Aku udah gapapa." "Yakin?" "Iya yakin. Kamu mau gak bantuin aku buka baju? Pasti aku susah buka sendiri soalnya tangan aku sakit." "Aku mau." "Emm, kamu beneran mau, tumben. Kamu kan, pemalu. Emang berani bantuin aku buka baju?" "Terpaksa aja. Kamu kan, lagi sakit. Jadi jangan mikir aneh-aneh." "Enggak kok." Ali senyum dan memegang lembut kepala istrinya yang dibaluti jilbab. "Makasih." Meski Aisyah berjilbab tapi jangan menganggap sebelah mata penampilannya. Ia tetap cantik, tidak ketinggalan zaman, gayanya kekinian, dan fashion adalah nomor satu. Ia wanita berjilbab dengan gaya modern. Gak norak, gak kaya ibu-ibu, gak kaya orang ngelayat, dan pasti gak tampil modis. Banyak jaman sekarang wanita berjilbab tapi d**a ditonjolkan, dan pinggul dipamerkan. Namun Aisyah tidak begitu. Ia fashionable tapi dengan pakaian longgar dan tertutup. "Belum juga dibantuin udah bilang makasih aja." Aisyah berujar. "Gapapa, biar dua kali. Nanti ucap terima kasih lagi." "Supaya apa?" "Supaya kamu senang." "Aku biasa aja tuh." "Yah jangan. Harus senang dong." "Terserah deh apa kata kamu." Aisyah berbalik dan mau membuka pintu kamar. Pintu terbuka, Aisyah dan Ali pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kembali. Ali berjalan ke kamar mandi. Di dalam kamarnya fasilitas lengkap. Ada kamar mandinya dan toilet jadi gak capek-capek ke luar. "Mau kemana?" tanya Aisyah. "Umroh." "Hah?!" "Mau ke kamar mandi lah." "Belum juga buka baju." "Mau cuci muka dulu." "Kenapa gak sekalian mandi?" "Gapapa." "Terserah kamu deh." "Iya." Ali masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya. Ia tidak langsung cuci muka. Sebab tujuan sebenarnya ia ke kamar mandi hanya untuk minum obat. Ali merogoh saku celananya dan mengambil obat yang ia beli. Iya, ia mau meminum obatnya secara diam-diam. Tanpa diketahui Aisyah. Karena gak ada air putih jadi Ali langsung menelan obatnya. Setelah itu lebih dari obatnya ia simpan kembali di saku celananya. Kemudian, Ali menatap wajahnya di cermin. Ia melihat wajahnya tampak kusut, rambutnya berantakan, dan bajunya sangat kumel. Walau ketampanannya tidak pudar, tapi ia tidak suka dengan penampakan mukanya yang seperti orang yang gak keurus. Ali mencuci wajahnya. Lalu menatap cermin kembali. Ia teringat lagi kelakuan buruknya pada Aisyah. Sumpah! Ia amat menyesal. Kenapa ia begitu tega? Ia mengasari istrinya yang ia cintai lebih dari dirinya. Apa mungkin ia kembali dalam ruang lingkup yang dipenuhi kegelapan? Jangan, ia tidak mau. Ali membuyarkan lamunannya. Ia mencuci wajahnya lagi. Kini ia rasa tubuhnya sudah kembali fit. Sakit kepalanya hilang secara ajaib, ia juga merasa sehat wal afiat sekarang. Obat yang ia beli amat-amat manjur. Ali menggapai handuk kecil yang bergantung di belakang pintu. Ia mengusap wajahnya yang basah. Wajahnya kering, ia simpan kembali handuk yang barusan yang ia pakai. Lalu ia membuka pintu dan keluar dari kamar mandi. "Lama banget di dalam," ujar Aisyah yang sedang duduk di tepi kasur. "Ngapain aja?" "Emang berapa lama kamu nunggu aku?" tanya Ali sembari menghampiri Aisyah. "Setahun." "Pantes, kamu rindu sama aku. Haha." "Dih, enggak kok. Siapa bilang." "Aku yang bilang." "Mana boleh." "Kenapa?" "Karena aku gak rindu." "Tapi kangen, kan?" tanya Ali sembari menaik-turunkan alisnya. Aisyah berdiri. "Udah cepat buka baju kamu. Aku gak punya waktu, aku mau masak." "Jangan gak sabaran gitu. Santai-santai aja," balas Ali. "Apaan sih!" "Kamu yang apaan." "Udah deh jangan main-main." "Siapa yang main?" "Kamu." "Ya udah tutup mata kamu," pinta Ali. "Kamu yang tutup mata, bukan aku," ujar Aisyah. "Lho, kok aku yang tutup mata. Kamu yang seharusnya tutup mata." "Kalau aku yang tutup mata, gimana aku mau bantuin kamu?" Ali mikir sejenak. "Ya udah, kalau gitu aku balik badan aja." Ali memutar posisinya jadi membelakangi Aisyah. Ali mulai menarik bajunya ke atas dan dibantu oleh Aisyah. Susah. Itulah kata yang tepat menggambarkan situasi yang sedang dikerjakan oleh Ali dan juga Aisyah. "Pelan-pelan Syah, tangan aku kena." Ali berujar karena tangan kanannya tersentuh saat Aisyah berusaha mengeluarkan tangannya dari lengan baju. "Udah pelan-pelan kok." "Kalau emang pelan, tapi kenapa tangan aku kena?" "Manaku tau," jawab Aisyah. Ia berhenti membantu Ali. "Kok gak bantuin?" "Abisnya kamu bawel banget. Syukur-syukur aku mau bantuin." "Tapi hati-hati dong, jangan sampai kena luka aku." "Siapa suruh mukulin dinding," sindir Aisyah. "Kayak gak ada kerjaan aja." "Siapa suruh kamu marah." "Siapa suruh kamu mau m*****i aku." "Setan yang suruh." "Dasar m***m!" "Dasar cantik!" "Biar aku sendiri aja deh." "Ya udah buka aja sendiri." Aisyah melipat tangannya di atas d**a. Ia sebal dengan Ali. Ali membuka bajunya sendiri dan akhirnya bajunya lepas dari tubuhnya. "Gak serumit yang dibayangkan," ucapnya sembari berbalik badan. "AAA!!!" teriak Aisyah kaget melihat Ali bertelanjang d**a di depannya. Sungguh mengagetkannya! Dengan cepat Ali langsung menutup mata Aisyah dengan tangannya. "Maaf lupa!" katanya. Aisyah melarikan tangan Ali menutup matanya sendiri lalu berbalik badan. "Sana mandi!" "Siap bidadari," sahut Ali. Ia pun berbalik dan menuju kamar mandi sambil tertawa kecil karena melihat tingkah Aisyah yang dianggapnya menggemaskan dan amat lucu. Sungguh masih polos padahal udah nikah tiga tahun dengannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD