1. Prolog

1172 Words
"Galaksi Bumi Semesta, ya? Sama. Persis. Cowok ini yang aku lihat dua minggu lalu di kantor. Oh, wow ... suami aku?" Ya, aku. Ini tentang kehidupan yang sama sekali jauh di luar jangkauan akal sehatnya. Aku yang dimaksud adalah diri dari wanita berpiama di malam itu, yang mana baru saja siang tadi menggelar acara pernikahan mahamegah untuknya yang seorang putri tunggal garis keturunan keluarga paling makmur di ibu kota, Ancala Binar Bumantara. Dititah cepat-cepat menikah, tak peduli berapa usianya saat ini, tetapi saat dirinya membawakan pria potensial--menurutnya--tak lantas di-acc. Namun, kali itu .... Tahu? Ancala geleng-geleng kepala, tatapannya memindai sesosok pria yang betul-betul seperti bukan manusia. I mean, dia duduk diam seperti patung, tak terusik dengan Ancala yang berisik, tak terganggu dengan sorot mata Ancala yang penuh evaluasi, juga seperti dinding, batu, apa pun itu benda mati di muka bumi, dia adalah lelaki yang betul-betul minim ekspresi. Demikian itu, dia bernapas. Dia hidup. Hanya pembawaannya saja yang super tenang, super terkendali, dan super tak peduli. Bertolak belakang dengan Ancala yang sedari tadi bersedekap d**a, berdiri menghadap pria pilihan papanya yang duduk diam di sofa tunggal kamar mereka. Ancala mendecih. Kamar mereka, hm? Dalam arti, kamar Ancala dan pria ini ... berdua, yang sebelumnya adalah kamar pribadi Ancala. Putri tunggal keluarga Bumantara. Terkait itu, sebut saja Ancala sebagai tuan putrinya keluarga ini. Oke, mungkin masih sulit dimengerti. Yang jelas, Ancala sangat tidak menyukai fakta hidupnya akhir-akhir ini. "Ah, bisa gila aku," desis Ancala. Lalu dia berbalik dan keluar dari kamar itu, dengan sorot mata seorang Galaksi Bumi Semesta yang lurus memandangnya. Datar. Detik di sebelum mata Galaksi menutup, dia tetap duduk tenang meski di luar sana mungkin Ancala sedang blingsatan. *** "Cala masih nggak habis pikir sama Papa, bener-bener." "Ancala--" "Dia duda, Papa! Dan Papa tau dia dudanya siapa?" Oh, iya. Belum juga selesai bicara, Ancala menyela. Pun, di malam pengantin, Ancala masih saja melabrak papanya. Ini sudah berlangsung sejak gagasan di mana papa memberi tahunya terkait sebuah pernikahan. Pernikahan Ancala yang tahu-tahu papa gaungkan akan dilaksanakan dalam waktu dekat, sudah ditentukan siapa calon mempelai prianya. Ya ... Ancala memang pernah bilang, sih, bahwa dia ingin dijodohkan saja, sebab dirinya ketika diminta agar lekas menikah walau masih muda, hingga pernah berpacaran berapa kali pun dan tidak ada ending bahagia di sana, alias putus. Sempat nyaris tunangan, tetapi berakhir dengan lagi-lagi ditinggalkan. Sekadar sampai pada pertemuan keluarga, esoknya pacar Ancala jadi bersikap berbeda. Entah apa yang salah. Ancala cuma lelah. Kalau memang begitu, ya sudah. Jodohkan saja, Ancala sudi. Karena sepertinya, ada udang di balik batu, ada campur tangan papa di situ. Hanya saja, nggak sama duda jugalah! Eh, oke kalau cuma 'duda'. Namun, yang jadi masalah .... "Cal ... kok, lo nggak bilang, sih, kalo calon suami lo itu mantannya bu bos?" "Serius, Cal ... dia orangnya? Pak Galaksi yang itu? Yang kata lo dua minggu lalu cipokan sama bu bos, padahal udah lama mantanan? Eh, sorry!" Sudah menjadi suami Ancala. Laki-laki itu. Yang mana ucapan teman-temannya seketika berseliweran lagi dalam benak. "Paling penting, lo udah pastiin di antara Pak Galak sama bos kita ini bener-bener clear gak ada hubungan apa-apa lagi, kan? Terlepas dari dua minggu lalu lo mergokin mereka ... anu." Argh! Iya, itu. Itu yang bikin Ancala sangat tidak habis pikir terhadap papanya, juga tidak terima bilamana dia kalah melawan papa, termasuk kalah dalam meyakinkan beliau tentang siapa laki-laki yang papa jodohkan dengannya. Ancala bukannya gagal membawakan bukti bahwa seorang Galaksi Bumi Semesta adalah benar-benar mantan suami dari Bu Sally, bos Ancala di perusahaan tempat dia magang--sebut saja begitu--sebelum nanti Ancala debut di perusahaan Bumantara. Bahkan kuliah pun Ancala masih belum benar-benar wisuda. Papalah yang membuat Ancala kerja pada perusahaan lain di tengah status mahasiswanya sekarang, katanya harus punya pengalaman dulu supaya papa bisa dengan tenang menyerahkan BM Group padanya. Tapi ini sangat buru-buru, ya, kan? Selain itu, Ancala sempat dikritik oleh papa, katanya dia ini masih sangat belum mampu, masih suka main-main, bukannya dimaklumi, toh usia Ancala pun masih dua puluh satu. Dan karena itu juga Ancala memutuskan untuk dijodohkan saja selagi dia sibuk fokus dengan kariernya yang papa tekan-tekan itu. Ancala malas melawan, papa selalu punya cara membuatnya takluk dan manut. Sebal, tetapi mau bagaimana lagi? Ancala tidak terpikir bila papa bahkan sekilat ini mencarikan jodoh untuknya, salah satu karyawan BM Group, yang juga merupakan most wanted di perusahaan tempat Ancala bekerja sebab beliau ini--Galaksi--sering kelihatan berkunjung ke sana. Wajarlah. Disebutnya juga mantan suami-istri yang sama-sama gagal move on. Yap! Ancala sempat mengikuti kisah mereka, alias ngegibah tentang hubungan asmara bu bos with her ex, bersama rekan-rekannya. Kisah mereka sudah menjadi santapan umum bahwa Bu Sally dan Pak Galaksi ini hanya tinggal tunggu kata rujuk, terus balikan, deh! Begitu obrolan karyawannya. Tapi .... Siapa yang tahu jika ternyata-- "Ya, terus kenapa? Toh, sudah jadi mantan, kan?" Astaga, Papa! "Sudah berlalu delapan tahun lebih juga mereka cerainya. Atau sembilan tahun?" Oke, fine! But-- He's dangerous as f**k! Setidaknya, bagi Ancala. Iya, kan? Yang mana sejak saat itu, kisah ini dimulai. "Kamu nggak punya kebiasaan buruk pas lagi tidur, kan?" 'Kaget, njir!' Itu suara batin Ancala. Dia terlonjak. Sengaja masuk kamar saat larut, saat dirasa suami--argh, ada kata lainkah selain suami?--sudah tertidur lelap. Namun, Bapak Galaksi mantannya Bu Bos Sally yang Terormat justru masih duduk di sofa serupa sebagaimana yang sebelumnya Ancala tinggalkan kamar ini. Bedanya, ada buku di tangan laki-laki itu dan--wait! "Nggak sopan!" Ancala melesat cepat. Dia merampas bukunya, buku diary, segala hal yang pernah Ancala alami dan dia suka menulisnya di sini. Di buku itu. Ancala menatap nyalang sosok pria yang kini lantas berdiri. Galaksi. Dia tampan dan tinggi, Ancala akui. Dia berotot dan itu tampak seksi. Ototnya terbentuk dengan baik, begitu sedap dipandang, tidak yang berlebihan sehingga jadi terkesan mengerikan. Sungguh ... 99,9 dari 100 kalau buat fisik. Ini penilaian yang tidak munafik. Meski ada kacamata bertengger di hidung mancung pria itu, Bapak Galaksi YTH valid memenuhi kriteria pria tampan yang bahkan melampaui Stansar Nasional Indonesia. Namun, bukan itu poinnya, Ancala! Mereka bertatapan. Sorot mata Ancala yang nyalang beradu dengan tatapan datar dan biasa sajanya seorang Galaksi. "Saya punya kebiasaan yang kurang sopan," katanya, memecah sunyi yang hadir tiba-tiba. "Seperti tadi." Menunjuk buku diary di pelukan Ancala, melanjutkan. "Yang mungkin ke depannya bukan cuma itu." Galaksi maju. Tentu, Ancala auto mundur teratur. "Tapi tenang, ini berlaku hanya kepada 'milik saya'." Tu-tunggu .... Alis Ancala menukik, agaknya dia mendongak. Maksudnya? "Milik saya?" Suara Ancala. Yang mana dagunya kini diapit oleh jari Galaksi. Sorot mata datar dan biasa saja yang Ancala lihat sebelum ini, telah berubah menjadi agak runcing dan dominan. Galaksi memindai seraut wajah itu. Ancala Binar Bumantara .... "Besok kita bicarakan lagi soal ini." Lalu mengecup Ancala di bibir. H-hei! Ancala membeliak. Mematung sesaat. Sungguh, mantannya Bu Sally ini sangat tidak sopan! So, terbayang? Bagaimana kehidupan Ancala yang menikah dengan mantan suami dari bos di tempat kerjanya sendiri? Tentu, itu belum seberapa. Dengan karakter Galaksi yang demikian, apa kabar hidup Ancala ke depannya? Mimimal besok dia masih sanggup buka mata, kan? Satu lagi. KEMBALIKAN CIUMAN PERTAMANYA!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD