Berusaha untuk menjadi setegar- tegarnya.

1406 Words
Setelah Ura selesai menyanyi dan baca puisi itu Ura bergegas ke kantin untuk membeli air minum, Ura berjalan ke kantin bersama teman teman yang lain. Setiba Ura disana, Ura melihat ada Nata bersama pacarnya itu. Tapi Ura sih berusaha untuk biasa aja kok , walaupun didalam hati Ura ini kesel dan campur aduk ngga karuan banget. Selesai membeli minum Ura memutuskan untuk membawa minum tersebut ke kelasnya saja, karena perasaan Ura juga jadi mendadak males banget liat keuwuwan mereka. "Gaes aku duluan ke kelas ya", ucap Ura kepada teman teman "Kok tumben buru-buru amat ra, apa enggak mau pesen makan dulu kayak biasa?" "Iya tu ra, biasanya juga makan dan minum dikantin", sahut Meci salah satu teman Ura. "Enggak deh Ura kenyang banget lagian hari ini Ura dibawain bekal sama Mama, aku duluan ya." "Ra, aku itu kamu deh aku juga lagi enggak pengen makan, lagi diet juga hahaha....." "Gaya gayaan diet lu Ci." "Hahaha iya doang biar enggak gendut dan biar disayang pacar, biar enggak di selingkuhi dan enggak di tinggalin Dan...," "Stop!!" "Ngomong mulu lu enggak capek apa?" "Dih tumben lu sensi amat Ra." "Ya maaf lagi bad mood aja." "Yaudah ayok ke kelas." "Kuy lah Ra." "Duluan gaes...." "Dah..." Setelah Ura keluar dari kantin, Sepanjang jalan menuju kantin Ura kepikiran banget buat bilang sesuatu ke Nata dan pacar barunya itu, tapi disatu sisi apa mungkin ya Ura bisa bilang itu ke Nata. Hmmm... tapikan ini hari terakhir kesekolah kapan lagi Ura bisa sampaikan itu ke Nata kalo bukan sekarang. Ya akhirnya Ura berusaha untuk menjadi berani dan tangguh detik itu juga, Ura pun mutusin untuk balik kek kantin lagi . Ura: "Ci balik ke kantin lagi yok!". Mici: "Lah ngapain lagi Ra?". Ura: "Ura pengen bilang sesuatu keseseorang Ci. Mici: "Ini kita udah jalan jauh bentar lagi nyampe kelas loh Ra, kok malah minta balik lagi sih?". Ura: "Hari ini tu hari terakhir sekolah loh Ci, jadi Ura mau sampai semua hal hal yang jadi pikirin Ura. Mau ya Ci plis." Mici: "Gimana ya, capek tau...". Ura: "Ya enggak papa loh Ci, itung-itung sekalian olahraga, ngebantu biar kurus juga ya Ci, hahaha..." Mici: "Iya juga sih, yaudah ayok kalo mau balik ke kantin." Ura: "Nah gitukan enak, makasih ya Miciku." Mici: "Kebiasaan deh kalo kemauannya dituruti baru deh manis banget ngomongnya kayak manisnya janji mantan." Ura: "Mulai deh mulai." Mici:"Canda Ra hahaha." Ura: "Hmmm ya..." Mici: "Ehhh, Emang elu mau ngomong apa? Dan mau ngomong ke siapa ?" Ura: "Ada deh nanti juga elu tau." Mici: "Hedeh, sok misterius lu Ra." Enggak lama kemudian akhirnya Ura dan Mici pun sampai di kantin. Mici: "Yaudah Ra, buruan mau ngomong apa dan ke siapa tadi." Ura: "Sabar dulu, buat ngomong ini tu butuh ketegaran yang hakiki tauk!" Mici: "Lebay lu ahhh." Ura: "Bah karena belum tau aja lu apa yang mau Ura bilang." Mici: "Buruan!" Melihat Ura dan Mici kembali ke kantin temen yang lain pada nyoba buat nyamperin. Dan bertanya sesuatu kepada Ura dan Mici. TEAM: "Lah kok balik lagi Ra, Ci?" Mici: "Entah tu Ura ngebet banget minta balik ke kantin katanya ada yang mau dia omongin ke seseorang. TEAM: "Ada apa Ra? Lu ada masalah?" Ura: "Enggak kok gaes." Tanpa berfikir panjang lagi Ura pun nyamperin Nata yang sedang bersama pacar itu. Ura: "Boleh duduk disini?" Nata: "Hmmm ya boleh. sembari melihat ke arah Nadya pacarnya itu." Ura: "Makasih." Nadya: "Ada apa lu duduk semeja dengan kami? Nanti jelous, hahaha..." Mici: "Idihhh... PHO aja elu bangga, jijik banget." TEAM: "Bener tu, dasar enggak tau diri banget." Ura: "Husss..., udah gaes diem dulu gue mau ngomong dulu sebentar." Nata: "Mau ngomong apa Ra?" Ura: "Cuma mau bilang makasih banyak dan maaf untuk mu Ta. Makasih ya Ta, Nata udah jadi pacar pertama Ura, Udah banyak kasih perhatian, kasih sayang, dan semuanya. Makasih banget ya Ta udah pernah selalu ada buat Ura. Enggak bisa dipungkiri Ta, sebelum menjadi seasing ini kamu pernah menjadi seseorang yang paling istimewa Ta, Maaf juga ya Ta, kalo aku enggak bisa jadi yang terbaik buat kamu." Nadya: "Huekkkk...., lebay banget hahaha." Nata: "Husss... jangan gitu ahh ngga baik!" Mici: "Mampus lu kenal marah hahaha" Nadya: "(Menatap sinis Mici)." Mici: "(Membalas tatapan sinis Nadya)" Ura: "Udah ahhh Ci, enggak usah gitu." Mici: "Kesel banget gue loh Ra, liat PHO enggak tau diri banget." Ura : "Udah Udah." Ura: "Udah Ta Ura cuma mau bilang itu aja. Semoga bahagia terus ya Ta." Nata: "Makasih" Ura: "Yuk gaes balik ke kelas." TEAM: "Yuk...." Ura pun beranjak dari tempat duduknya itu. Dan melirik kearah Nadya. Nadya: "Apa lu liat liat gue?." Ura: "Enggak papa, gue cuma mau bilang jaga Nata." Nadya: "Nata sekarang bukan urusan elu lagi." Ura: "Setidaknya elu enggak bakal sakiti dia, karena dia rela nyakitin hati orang lain demi elu." Ura pun berlari setelah berhasil bilang itu semua kepada Nata dan juga Nadya. Mici dan TEAM juga ikut lari ngejar Ura. Mici: "Ra?" Mici: "Elu enggak papa?" Ura: "Enggak kok Ci." Mici: "Kenapa tapi elu bilang gitu ke mereka Ra?" Ura: "Enggak papa, biar enggak jadi beban pikiran aja." Rasanya itu bah campur aduk banget, mau nangis tapi Ura harus berusaha untuk tegar, sebagai tanda Ura baik baik aja. Padahal dalam hati Ura udah menggerutu dan terus saja beradu dengan hati dan pikiran sendiri. Hati seperti tercabik cabik. Tak lama kemudian waktu pulang sekolah pun tiba. Ura pun bergegas dengan sangat buru-buru. Setiba di rumah Ura langsung berlari kearah kamarnya. Akhirnya air mata Ura pun pecah, menangislah Ura sejadi-jadinya, Andai ada air mata darah mungkin saat itu level air mata paling merah warna darahnya. Sekitar pukul 15.30 wib Ura beranjak dari tempat tangisnya itu untuk menunaikan shalat Ashar, disitulah segala sesuatu diserahkan kepada Allah. *Ya Allah ya Robbi Jika benar perpisahan itu adalah jalan terbaik bagiku dan baginya. Maka antarkanlah kami kepada kebahagiaan yang sesungguhnya meskipun tak harus bersama. Aku selalu percaya bahwa segala sesuatu yang telah Engkau putuskan adalah yang terbaik untuk hambahmu* Itulah inti dari doa Ura kala itu. Tak terasa pun hari pun kian tergiring, Siang terik telah berganti dengan senja ya sendu. Sore itu juga Ura memutuskan untuk ke taman yang berada dihalaman belakang rumahnya, untuk menyaksikan senja berganti menjadi malam. Sembari menuliskan sebuah puisi singkat dibuku harian Ura. SENJA BAWALAH SEDIHKU Senja terimakasih telah hadir begitu indah sore ini Terimakasih telah hadir untuk membantu membuat ku lupa tentang kejadian dan luka luka yang terbentuk dengan sempurna pula hari ini. Tak lama lagi engkau akan bergegas meninggalkanku dan juga bumi. Bolehkah aku menitipkan sesuatu kepadamu? Bawalah sedihku hari ini bersamamu. Agar aku tak lagi merasa menjadi manusia yang paling tersakiti. Bukankah kau akan saling berpapasan dengan malam? Tolong sampaikan padanya semoga nanti malam ia akan menghadirkan langit yang indah untuk menemani malam ku yang sepi. Senja semoga saja kau menyampaikan pesanku itu. Tak lama kemudian senjapun tergiring oleh malam, selepas isya Ura keluar ke teras rumah untuk melihat langit apakah pesannya disampaikan senja kepada malam atau tidak. Ternyata Senja menyampaikannya. Malam ini terlihat begitu terang dan indah, seolah akan ada kabar gembira yang akan menghampiri Ura. Sekitar jam 21.00 wib Ura pun masuk kamar. Melihat hape yang tak pernah ada notifikasi lagi Ura pun memutuskan untuk tidur. Baru aja hendak tidur Ura mendengar ada notifikasi dari hape itu. Ura pun melihat pesannya, ternyata itu pesan dari Nata. Senang sih di chat lagi sama Nata, tapi kesel juga sih kan juga lagi latihan untuk terbiasa tanpa dia, hedeh yaudah kita liat aja dia ada niat apa chat Ura. Nata: "Assalamualaikum Ra." Ura: "Waalaikumsalam, ada apa?" Nata: "Ada yang mau Nata bilang ke kamu Ra." Ura: "Apaan?" Nata: "Ura, Nata minta maaf ya untuk semua kesalahanku ke kamu, dari mulai aku yang selingkuh, sakit kamu dan masih banyak lagi. Makasih juga ya Ra kamu udah selalu belajar jadi yang terbaik buat aku. Tapi mungkin akunya aja yang enggak tau diri, yang udah tega sakitin kamu separah itu." Ura: 'Hahaha iya Ta, diambil hikmahnya aja, lagian juga udah terlanjur terjadi." Nata: "Aku nyesel Ra." Ura: "Penyesalan selalu datang di akhir Ta, Kalo tau bakal nyesel kenapa kamu berkhianat ketika seluruh perasaan aku masih sepenuhnya buat kamu." Nata: "Aku khilaf Ra." Ura: "Hahaha khilaf? Gile lu ya. Udah ahhh males bahasnya bagusan juga gue tidur. Dahh!" Nata: "Ra...." Ura: "(Read)" Bersambung.... Hayo Selepas itu apa yang terjadi? Penasaran? Tunggu episode selanjutnya ya:) Makasih buat yang udah mampir. Semoga suka ya. Mohon dikomen agar dapat memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD