Arron duduk bersandar pada dinding di samping kasur. Pria itu menopang satu tangannya ke atas satu lututnya yang dia tekuk. Sementara tangan lainnya memutar-mutar ponsel di tangannya. Kemudian, pria itu menoleh ke arah samping, di mana Jesyca terlelap. Jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. Dan pria yang tak memakai kaos atau kemeja itu, tak bisa tidur. Bukan karena kamar itu yang tak ber-AC dan hanya ada kipas angin tak justru terasa tak nyaman baginya, bukan karena itu. Namun, karena obrolan dia dan Jesyca tadi sebelum dia bermesraan dengan kekasihnya meski tak sampai terlalu jauh. Arron lega, karena dia mampu menahan dirinya. 'Apa, kamu benar mencintaiku?' tanya Arron. 'Aku, takut terlalu mencintai, karena biasanya, yang kucintai, akan pergi meninggalkanku. Papa Dimas, Ayah Alvi

