8

1420 Words
Bellva berusaha mengajar Langit dengan baik, walaupun Angkasa selalu hadir untuk menguji kesabaran dan konsentrasinya. Bayangkan saja, selama dua jam dia mengajar sudah tujuh kali Angkasa keluar masuk ruang belajar sekaligus ruang perpustakaan di rumah itu. Alasannya? Mengambil buku ini, mengambil buku itu. Pintu kembali berderit, bertanda akan ada orang yang masuk. Bellva mengintip dari balik kacamatanya, menemukan kepala Angkasa telah menyebul, ujung kakinya pun sudah masuk siap untuk melangkah. Bellva tidak berekasi berelebihan, tidak juga memasang wajah kesal. Hanya memutar bola mata dengan malas lalu kembali berkonsentrasi untuk memeriksa hasil jawaban Langit pada soal-soal latihan yang dia siapkan, berbanding terbalik dengan Langit. Dia langsung memberikan tatapan membunuh saat mendapati Angkasa memasuki ruangan itu dengan gaya santai tanpa rasa bersalah, bahkan Angkasa sengaja bersiul sebuah lagu untuk mengiringi langkahnya menuju rak kayu tinggi berisikan banyak buku. Muak dengan tingkah laku Angkasa, membuat Langit mengambil keputusan yang penting. Dia bangun dari kursi, menghampiri Angkasa. Begitu posisinya sudah ada tepat di belakang Angkasa, dia menarik ujung kerah dari kaus polo hitam Angkasa. Tidak peduli kalau Angkasa mulai mengomel, Langit terus menarik si kakak hingga di depan pintu. "Woi! Lo pikir gue anak kucing, ditarik pas di bagian leher?!" Angkasa berhasil melepaskan diri dari Langit. Dia memutar posisi tubuhnya dengan cepat dan berhadapan dengan Langit, bola mata Angkasa melebar marah. "Sumpah ya, Mas. Gue tiba-tiba berharap lo tugas di atas sana full selama gue persiapan ujian, jadi lo nggak pulang ke rumah. Kalau lo di rumah, gue jamin ujian gue bisa berantakan." "Kok jadi mengkambing hitam kan gue? Kalau otak lo emang nggak kuat, jujur aja. Nggak usah gue dibawa-bawa." "Gimana otak gue bisa sampai, kalau selama prosesnya aja digangguin." "Siapa yang ganggu?" "Lo!" "Kapan gue ganggu?" "Astaga! Yang lo lakuin daritadi kalau bukan ganggu, apa namanya? Hah?" Langit berkacak pinggang, nada bicaranya pun semakin naik dari satu jawaban ke jawaban lain. Dan Angkasa semakin menambah kekesalan Langit dengan mengedikkan bahu, tak lupa memasang wajah tak berdosa. "Gue ambil buku buat dibaca," jawab Angkasa sekenanya. "Ini ruang apa?" "Perpustakaan." "Nah tuh tahu! Dari awal fungsi utama ruang ini untuk menikmati buku dan yang gue lakuin dari tadi menikmati buku, tapi sedikit kerepotan karena lo ada di ruang ini. Gue harus bolak balik, gue harus makan waktu untuk mengambil dan mengembalikan buku." Angkasa membuka mulut lebar lalu dia melengos. "Mas... mas... stop berusaha untuk membuat Mbak Bellva terkesima. Sejak Papi buat ini ruangan, lo baru masuk satu kali. Itu pun bukan buat baca, tapi buat--" Langit tidak bisa meneruskan perkatannya karena Angkasa lebih dahulu menutup mulut Langit dengan tangannya. Di saat kedua kakak adik itu mulai bertingkah seperti anak TK berantem memperebutkan sebuah permen, tiba-tiba Bellva menutup buku dengan sangat kencang. Kedua pria itu menghentikan kegiatan mereka, memandang Bellva secara bersamaan. Bellva terlihat sibuk merapikan map putih dan juga tasnya, setelah semua barang yang tadi dia keluarkan telah masuk kembali ke tempat asalnya Bellva berdiri dalam ketenangan. Dia memandang Langit. "Jawaban kamu sudah benar, besok kita latihan lagi untuk pelajaran matematika. Dan pertemuan kita berakhir di sini." Bellva memunculkan senyum tipisnya, walaupun tetap tidak mengurangi kesan galak yang muncul saat menutup buku dengan keras. "Oke, Mbak." Langit menjawab dengan suara pelan. Tidak ada nada tinggi, tidak ada tatapan penuh amarah. Langit mendadak menjadi bocah lelaki yang penurut. Tapi tidak dengan Angkasa. Dia memang diam, tapi lirikkannya seakan menantang Bellva. Dia ingin melihat ekspresi lain dari wajah Bellva, selain senyum tipis dan tatapan curiga. Mungkin marah bisa jadi salah satunya. "Saya pulang dulu," pamit Bellva. Wanita itu menaikkan kacamata yang terasa sedikit merosot di tulang hidungnya lalu berjalan menjauhi meja yang mereka gunakan untuk belajar tadi. Bellva menguatkan hati sepanjang kakinya melangkah menuju pintu, karena di sana masih berdiri Angkasa. "Oke, Mbak." Langit menanggapi masih dengan suara pelan. Bellva semakin dekat dengan posisi berdiri kedua pria itu. Secara otomatis Langit dan Angkasa saling berjalan menjauh, menciptakan jarak supaya Bellva bisa melewati mereka. Langit buru-buru membuka pintu, keluar lebih dahulu dari ruangan itu dan mempersilakan Bellva untuk keluar setelahnya. Tepat saat Bellva bersiap untuk melangkah keluar, tiba-tiba saja Angkasa menutup dan mengunci pintu itu. Suara ketukan pintu dan sumpah serapah Langit terdengar di depan pintu, tapi Angkasa tidak peduli. Nanti juga capek sendiri, pikir Angkasa. Bellva berjalan mundur sekitar lima langkah, dia membawa map putih ke depan d**a dan memeluknya dengan erat. Dia was-was dengan tindakan Angkasa, terutama saat pria itu memutar tubuh atletisnya dan memandang Bellva dengan tatapan yang susah untuk diartikan oleh Bellva. Angkasa maju tiga langkah, Bellva mundur lima langkah. Bellva menoleh ke belakang, sisa empat langlah posisi dia akan terhimpit alias terjepit. Cepat-cepat menjulurkan satu tangannya untuk menghentikan Angkasa. "Stop!" Bellva nyaris berteriak saat mengatakan itu. "Kamu mau apa?" tanya Bellva sambil memicingkan penuh curiga. Angkasa mengembuskan napas perlahan lalu melipat kedua tangannya di depan d**a. "Saya tuh salah apa sih sama kamu?" tanya Angkasa dengan nada dramatis, layaknya lakon dalam sebuah sinetron. Bellva mengerutkan keningnya, dia sungguh merasa ada yang salah dengan isi otak Angkasa. "Kenapa kamu bersikap-sikap seperti saya ini kuman? Kamu selalu mencari jarak paling jauh, kamu nggak pernah sekali saja tersenyum ramah, kamu nggak pernah mau bicara dengan saya. Ah, keterangan soal Artemis tadi sebuah pengecualian... itu saja, baru kamu jawab setelah saya marah." Angkasa terdengar bagai seorang anak kecil sedang merajuk. "Saya ada salah sama kamu? Sepertinya saya nggak pernah menjahati kamu, jadi berhenti bertingkah seperti saya pernah melakukan kejahatan sama kamu." "Awal pertemuan kita memberi kesan menyeramkan bagi saya, kamu menarik-narik saya, mengeluarkan kalimat-kalimat aneh. Setelah semua itu, kamu berharap saya bersikap seperti apa?" Bellva masih mempertahankan gelagat penuh kewaspadaan. Satu tangannya masih terjulur kedepan, memberi peringatan agar Angkasa tidak lagi melangkah maju. "Jadi ini semua karena awal perkenalan kita?" Angkasa menggeleng. Dia nekat menghampiri Bellva, membuat wanita itu seketika diserang kepanikan. "Jangan maju!" Angkasa mengabaikan, dia tetap berjalan santai dan tidak peduli kalau Bellva sudah kehilangan akal untuk mengatasi situasi ini. "Kamu itu maunya apa, sih?" Bellva terdengar putus asa saat bertanya itu. Angkasa tidak menjawab terus berjalan dan Bellva terus berjalan mundur. Hingga akhirnya pinggul Bellva terbentur sisi meja yang tadi dia gunakan untuk menulis soal-soal latihan Langit. "Kalau kamu mendekat lagi, saya bisa menendang kamu!" ancam Bellva. Angkasa terus mendekat, sementara Bellva benar-benar terhimpit. Tangan Angkasa mengambil tangan kanan Bellva secara paksa, membuat map putih yang dibawa wanita itu terjatuh ke lantai saking terkejutnya dengan tingkah Angkasa. "Kita ulang perkenalan awal yang sudah terjadi kemarin," kata Angkasa, seraya menjabat tangan Bellva dengan erat. "Nama saya Angkasa Onesimus Jannes, salam kenal. Semoga kita bisa berteman baik ke depannya. Karena kamu guru dari adik saya, sekaligus saudara dari wanita yang saya inginkan." Angkas tersenyum miring. Mungkin bagi sebagian orang, senyum itu seperti sebuah sihir pemikat, membuat jantung berdebar. Tapi bagi Bellva, senyum itu sungguh mengerikan. "Jadi berhenti bersikap memusuhi diriku... kita nggak pernah tahu ke depannya akan seperti apa. Siapa tahu; satu tahun, enam bulan, tiga bulan, atau sebulan lagi... kita akan bersudara. Tidak mungkin kan kamu memusuhi kekasih dari kembaranmu?" Bellva tertegun, seperti berpikir sebentar. Dia memandang gengaman tangan Angkas lalu dia menghela napas lembut, merasa genggaman Angkasa sudah mengendur. Bellva cepat-cepat menarik paksa tangannya menjauh dari Angkasa. Bellva menggeser tubuhnya ke sebelah kiri sedikit. "Mungkin saja," jawab Bellva. Nada suaranya begitu dingin, cukup membuat Angkasa terkejut. Bellva berjongkok mengambil map yang terjatuh, lalu berdiri dan bersiap untuk keluar dari ruangan itu. "Saya dan Sasi nggak seperti yang kamu bayangkan, hubungan kami nggak sebebas kamu dan Langit. Kami juga nggak seperti kembar yang selalu digambarkan dalam sebuah drama keluarga.... kami tidak dekat, tidak ada juga kontak batin. Jadi, jangan mencoba mendekati saya dengan alasan Sasi." Untuk kedua kalinya Bellva mengatakan kalimat panjang lebar sambil memunggungi Angkasa. Tanpa peduli reaksi Angkasa. Dia membuka pintu, menghentikan suara histeris yang dihasilkan oleh Langit. Bellva tidak mempedulikan pertanyaan khawatir Langit, dia langsung berjalan menuju pintu keluar dari rumah ini. Bahkan Bellva mengabaikan sapaan si Bibi saat tak sengaja berpapasan. Bellva berlari menuju mobilnya, masuk ke mobil seperti orang dikejar maling. Dia melemparkan map dan tas bawannya dengan kasar ke kursi penumpang, dia mengulang kembali hal-hal yang dia lakukan tadi pagi. Berteriak tanpa suara, memukul pengemudi mobil secara membabi buta. Tapi ada yang berbeda kali ini, Bellva melakukan semua itu sambil diiringi air mata... 'Aku benci ketika siang menyambut, karena seketika kerapuhan menghampiriku. Siang itu ramai, banyak orang beraktivitas tapi aku justru merasa sepi. Hening. Sendiri.  Bagaikan terjebak dalam sebuah kotak tanpa tutup, hanya bisa melihat cahaya masuk. Namun tidak sanggup untuk keluar, karena dikelilingi dinding kotak yang tinggi. Cahaya itu menyiksaku... sama seperti sebongkah memori kelabu penghancur asa.'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD