On Mission - 4

1410 Words
Setelah perdebatan tentang siapa yang akan menjadi pelindung untuk keluarga Vergard, Shawn melepaskan adiknya untuk menjalankan misi itu. meski Ann sudah terbiasa menjalankan misi tanpa Shawan. Tetapi … rasa khawatir karena Ann adalah adik satu-satu dari pria bersurai putih itu, tidak bisa ia hilangkan. “Jangan kirim orang sesuka hatimu! Selama aku bisa ,aku mohon jangan ganggu misi ku, Kakak,” ujar Ann pada Shawn. “Baiklah jika itu maumu, aku hanya akan meletakkan mereka disekitarmu. Bagaimana jika shadows yang aku perintahkan?” “Kakak!” “Ah … aku tahu … sebaiknya aku kirim para Tank untuk selalu mengawasimu,” tambah Shawn. “Kau tahu jika hubunganku dengan para Tank dan Shadows tidak begitu baik, kenapa kau mengirim mereka untuk menjagaku?” “Karena diantara yang lain, hanya mereka yang bisa menjagamu dengan benar.” Brak! Pintu kamar Ann terbuka dengan hingga terlepas, dan hanya satu orang yang selalu melakukannya. Ann selalu menembak pria itu jika ia sudah mulai berulah di dalam kamarnya. “Kau merusaknya lagi ,Lucas!” seru Ann. “Ann … calon istriku … aku dengar Shawn akan mengirimmu ke dalam misi keluarga Vergard,” ujar pria bersurai cokelat dengan iris hitam pekat. “Pria gila! Ann hanya milikku seorang!” sahut pria lainnya yang kini berjalan mendahului Lucas. Mereka berebut memeluk Ann yang kini memilih menodongkan sebuah shotgun pada kedua pria itu. keduanya hanya tersenyum miring melihat wanita di hadapannya marah. “Ann … kau sudah terlambat,” ujar Shawn. “Baiklah, aku pergi.” “Tidak! Misi itu terlalu berbahaya!” sahut pria tinggi dengan rambut hitam dan tatapan mata yang dingin. “Noe!” seru Ann. Wanita itu berlari memeluk pria itu dengan erat, rasa rindunya pada pria yang sangat jarang terlihat di dalam mansion itu memang berbeda dengan pria lainnya. “Noe, kenapa kau baru mengunjungi aku?” tanya Ann dengan manja. “Kau boneka kecilku! Kenapa kau menjalankan misi itu?” tanya Noe. “Ayolah, aku suka misi berbahaya seperti ini, dan bahkan aku sudah sangat sering melakukannya seorang diri.” “Baiklah … jika kau bisa mengalahkan Lucas dan Julian, kau bisa pergi dari mansion,” tantang Noe. “Apa?” Ann menengok pada Shawn yang kini tertawa melihat Noe kesal. Noe menarik tangan Ann menuju lapangan yang biasa mereka gunakan untuk berlatih. Di sana … sudah hadir para keluarga besar The Florrest. Mulai dari Tank, The Shadows, dan juga Striker. Semua ingin melihat kehebatan Ann dalam mengalahkan dua pria yang selalu bermulut besar itu. Ann berdiri di tengah lapangan, dengan dua pria di hadapannya yang kini menahan tawa karena harus melawan Ann. Pada sisi kanan terdapat senjata seperti pedang dan kunai, sedangkan di sisi kiri Ann ada senjata api dan bahan peledak yang siap digunakan. “Apa yang akan kau gunakan, Ann?” tanya Noe. “Akan kugunakan semua senjata itu.” “Bagus, maka … gunakanlah mereka sebaik mungkin.” Ann menyeringai dan memulai pergerakan, kali ini ia menggunakan dua katana untuk menyerang dua pria di hadapannya itu. Ann berlari mendekati mereka, sedangkan keduanya sudah menodongkan baretta pada wanita itu. “Sial! Aku tidak bisa melukai calon istriku!” gumam Lucas. “Jangan banyak bicara Lucas! Dia sudah mendekat,” sahut Julian. Julian mulai menarik pelatuknya dan menembaki Ann tanpa melakukan jeda. DOR DOR DOR SRING … CTAK! Ann menangkis semua tembakan dengan gerakan memutar katana miliknya. Ann tersenyum miring, dan kini ia sudah berada di depan Julian. Tubuh wanita itu berputar dan dengan cepat ia melayangkan sebuah tendangan yang membuat tubuh Julian terpental cukup keras. SRAK … “Ugh!” Tidak berhenti sampai disitu, Ann juga melukai lengan Lucas dengan katana di tangannya dan memberikan tendangan tepat di perut Lucas. “Argh!” “Ayolah! Jangan main-main denganku!” celetuk Ann. “Sial, dia makin mahir bertarung,” gumam Julian. Ke dua pria itu mulai bersungguh-sungguh melawan Ann, mereka kini berlari mendekati Ann dengan mengarahkan baretta pada Ann. DOR DOR DOR Ann masih menangkis tembakan itu, tetapi sialnya Luca menyerangnya dari belakang hingga ia tersungkur. “Akh!” pekik Ann saat merasakan nyeri pada bagian punggungnya. “Maaf ,Sayang ….” “Cih!” Ann kembali bangkit, dan kali ini ia berlari mengambil baretta yang ada di sisi kirinya. Julian tidak membiarkan wanita itu mengambil senjata, ia menembaki Ann dengan tembakan beruntun, hingga kaki kanan Ann tergores. “Sial!” umpat Ann. Ia berhasil mengambil dua baretta dari tempat senjata, lalu tubuhnya berbalik dan ia menembak Lucas tepas di lengan kanan, dan Julian terkena tembakan di bagian lengan kirinya. “Cukup!” teriak Noe. Noe berjalan mendekati Ann dan meraih tubuh wanita itu. “Noe! Turunkan aku!” protes Ann. “Lukamu perlu di obati,” ujar Noe. Ann kini hanya pasrah dalam gendongan Noe, pria yang sudah menjadi kakak kedua untuknya setelah Shawn. Hingga sampai di ruang santai, Noe mengobati setiap luka Ann, dengan penuh kesabaran, Noe juga membenarkan tulang punggung Ann yang bergeser akibat serangan Lucas. “Argh!” teriak Ann. “Dengan siapa kau akan berangkat?” tanya Noe. “Sendiri.” “Akan aku antar.” “Noe, kau terlalu berlebihan!” “Aku yang antar, atau tidak sama sekali.” “Baiklah, kau bisa mengantarkan aku ke sana.” Setelah selesai, Ann pun menuju rumah keluarga Vergard bersama Noe. Selama perjalanan, Noe terlihat tenang dan hanya fokus pada jalanan yang mereka lewati. Hingga akhirnya mereka memasuki sebuah gerbang besar milik keluarga Vergard. “Tuan Noe, Nona Ann … silakan masuk,” ujar penjaga gerbang yang tidak lain adalah anggota The Florrest. Noe kembali mengemudikan mobil untuk masuk ke dalam halaman rumah keluarga Vergard. Rumah besar itu memang terlihat sangat sepi, karena memang hanya da dua penghuni utama di sana. Ya, keluarga Vergard hanya tersisa Caroline dan Zack. Saat Ann turun dari mobil, ia berpamitan pada Noe. Ya, pria itu hanya memastikan Ann sampai dengan selamat di depan pintu rumah itu. Ia kini melangkah untuk masuk ke dalam rumah itu. Belum sampai Ann mengetuk pintu, seorang wanita paruh baya dengan pakaian maid membuka pintu. Senyuman ramahnya membuat Ann ikut tersenyum padanya. “Nona Ann?” “Ya, aku Ann.” “Masuklah, Nyonya Carol sudah menunggu anda di ruangannya.” “Baiklah.” Ann berjalan masuk mengikuti langkah wanita paruh baya itu. Hingga sampai di depan pintu cokelat dengan  papan nama Carol Office. Ceklek “Nyonya … Nona Ann sudah tiba,” ujar wanita itu. “Biarkan dia masuk.” Ann melangkah masuk ke dalam sana, lalu seorang wanita menyuruhnya untuk duduk di seberangnya. “Aku tidak menyangka jika Shawn akan mengirim seorang wanita untuk menjaga anakku,” ujar Carol. “Nyonya, apa kau sudah melihat berkasku?” tanya Ann. “Ya, aku rasa kau cukup tangguh untuk menjalankan misi ini,” ujar Carol. “Terima kasih.” “Tugasmu ada di dalam berkas itu, aku harap kau melakukannya dengan baik.” “Baik, Nyonya.” “Hari ini anakku akan menghadiri sebuah pertemuan penting dengan seorang pemilik perusahaan AVA. Aku harap kau bisa menjaganya dengan baik, karena Balthazar salah satu tamu di sana,” jelas Carol. “Tentu saja. Aku akan melakukan tugasku dengan baik, Nyonya.” Ceklek “Mom, apa bodyguard untukku sudah datang?” seorang pria tampan tengah memasuki ruang kerja Carol. Pria itu menggunakan jas hitam, dengan kacamata sebagai accessories. Ia menatap tajam pada Ann, lalu menatap ibunya. “Dia adalah Ann, bodyguard untuk melindungimu,” jelas Carol. “Apa The Florrest sudah kehabisan orang? Kenapa seorang wanita yang melindungiku?” “Apa masalahmu, Tuan Zack?” tanya Ann. “Masalahnya … kau adalah wanita!” “Zack, ini berkas milik Ann. Kau bisa membacanya,” ujar Carol sembari memberikan sebuah map cokelat yang berisi tentang data Ann. Zack meraih berkas itu dan membacanya sekilas. Pria itu terdiam saat melihat banyaknya penghargaan dan juga prestasi yang pernah dicapai Ann. Bahkan misi menyelamatkan keluarga Hampton tertulis di sana. “Baiklah … sebaiknya kau sudah siap bekerja, karena aku harus berangkat saat ini juga,” ujar Zack. Pria itu berjalan keluar dari ruangan ibunya, sedangkan Ann mengikutinya dari belakang. Mereka menggunakan mobil sport berwarna hitam milik Zack. Zack melemparkan kunci mobil pada Ann dan menyuruhnya untuk mengemudikan mobil itu. “Antar aku!” Ann terlihat kesal dengan sikap dingin dan seenaknya sendiri itu. Ia seperti sedang mengurus bayi besar saat ini. bagaimana tidak? Zack terlihat seperti anaknya dari pada klien yang patut untuk dilindungi. ‘Jika saja dia bukan klien, sudah kutendang masuk ke dalam kandang Jojo,’ batin Ann.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD