Mereka tertawa renyah bersama melihat bagaimana kesalnya Kanaya pada suami sepupunya sendiri. Selagi mereka berdebat, Sydney mendekati Anne dan mengusap lengannya pelan. Seperti ingin menenangkan wanita itu. "Hei, apa kamu baik-baik saja?" Anne menceritakan keputusannya tentang Ariekhsa pada Sydney, dan itu berhasil membuat Sydney khawatir padanya.
"I'm fine, terima kasih." Anne tersenyum. Walaupun begitu, ucapannya sama sekali tidak membuat Sydney puas. Dia yakin Anneliese sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tidak, kamu tidak baik-baik saja. Apa kamu ingin menceritakannya padaku?" tawar Sydney. Selagi berada di sini, Sydney ingin memanfaatkan waktunya dengan baik.
"Nanti saja." Anne berujar pelan. Dia melirik ke sekitarnya. "Aku tidak ingin merusak pesta kamu sekarang."
Sydney tertawa geli dan berdecak pada Anne. "Baiklah, setelah ini kita bertiga akan menceritakab semuanya, janji?" Saling menceritakan kehidupan mereka masing-masing setelah lama tidak bertemu menjadi kegiatan wajib yang selalu mereka lakukan.
"Janji."
Sydney dan Louis harus menyapa para tamu mereka yang menjadikan dia pusat perhatian. "Louis terlihat sangat mencintai dia, bukan?" gumam Anne saat memerhatikan keduanya dari jauh. Kanaya yang duduk di sampingnya sambil memainkan ponselnya.
"Hm? Apa?" tanyanya karena tidak mendengarkan ucapan Anne.
Anne hanya menghela napas malas dan mengendikkan dagunya pada Louis dan Sydney.
"Oh," ujar Kanaya mengerti. "Tentu saja, mereka melewati banyak hal agar bisa bersama. Apalagi Louis yang harus mengalahkan Paman Zendra dan Kakeknya Sydney, tidak heran kenapa Louis tidak akan menyia-nyiakan Sydney. Sydney Olive sangat sulit didapatkan."
Ucapan Kanaya membuat Anne terdiam, berpikir sejenak. Apa benar jika sulit didapatkan akan menjadi jaminan bahwa pasangannya akan setia. "Begitukah? Jadi, harus sulit didapatkan?" tanya Anne mengutarakan pikirannya.
Kanaya yang sedari tadi dia memerhatikan Anne, kini menoleh pada wanita itu. Sadar bahwa ucapannya sedikit menyinggung sepupunya. "Ah, tidak tahu juga. Kamu tahu sendiri bagaimana aku dalam percintaan. Sangat buruk." Kanaya memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
Anne tertawa puas. Sikap Ayah dari sepupunya ini memang sangat berlebihan. Kanaya tidak diperbolehkan berpacaran dengan siapapun dan akan dijodohkan dengan pria pilihan orang tuanya. Addy, ibunya, sedikit khawatir jika anaknya akan sangat bodoh dalam percintaan dan sebenarnya itu terbukti. Anne sendiri sempat curiga bahwa sepupunya ini menyukai sesama jenis saking protektifnya Sang Ayah.
"Tapi, serius, apa itu berarti aku dan Ariekhsa tidak ada harapan? Maksudku, aku dan dia ... terlalu mudah untuk bersatu. Apalagi dengan aku yang menipu dia dengan menjadi tunangannya," ucap Anne sambil merenung. Dia menumpukkan dagunya di tangannya sambil menatap kosong ke arah depannya.
"Anne, hal itu tidak menjadi patokan. Jika Ariekhsa ingat semuanya, mungkin dia juga akan sadar bahwa selama ini kamu ada untuknya." Kanaya tidak yakin dengan apanyang diucapkannya, tapi setidaknya hal itu dapat membuat Anne tenang.
"Entahlah. Aku saja tidak bisa bersikap tenang selama di dekatnya." Anne menghembuskan napas kasar.
Kanaya yang melihat sepupunya ketar-ketir hanya bisa tersenyum. "Itu berarti kamu sangat mencintainya, Anne. Kadang kita melakukan hal bodoh di depan orang-orang yang kita cintai, bukan?" Kanaya berujar seperti dia sudah menjadi pakar cinta.
Anne hanya tertawa menanggapinya dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Anneliese."
Baik Anne maupun Kanaya, menoleh bersamaan ketika Zee memanggil anaknya. "Iya, Mama?" Anne langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Zee. "Ada apa?"
Zee mendekatkan diri padanya dan berbisik, "Ada seseorang yang ingin berkenalan dengan kamu, Anne."
Anne mengeryitkan dahinya dan menatap ibunya heran. "Apa? Siapa?" Baru kali ini ibunya ingin mengenalkannya pada seseorang, dan Anne mencium bau-bau tidak beres di sini.
"Kanaya, Tante pinjam Anne sebentar, ya?" Kanaya mengangguk tidak keberatan dan membiarkan Anne dibawa oleh ibunya. Walaupun sudah jelas Anne sedikit engan, Zee hanya tersenyum, yang menurut Anne sangat aneh, dan mengajak putri sulungnya ke arah lain dengan maksud menemui seseorang tersebut.
"Ini, Anne, kenalkan dia Sanjaya Januar, teman dari klien utama Papa kamu." Zee tersenyum pada pria yang Anne tebak umurnya sama dengannya, dan sedang menatap tenang padanya. "Sanjaya, ini anak sulung Tante. Dia Anneliese." Zee menarik tangan Anne untuk membalas uluran tangan Sanjaya, yang mana tidak Anneliese sadari.
"Senang bertemu dengan kamu," ucapnya. Gerakannya sangat berwibawa dan tenang, Anne terpukau dengan kesopanan yang terlihat jelas ada pada diri pria itu.
"Hm ... iya." Anne menjawab seadanya. Dia masih tdiak tahu kenapa ibunya ingin dia bertemu dengan pria di hadapannya ini, dan kalau boleh jujur, Anne sedikit tidak nyaman sekarang.
Zee melihat interaksi Anne yang canggung dan seolah menutup diri, membuatnya gemas bukan main. Dia mencubit pelan lengan putrinya untuk memberikan kode bahwa Sanjaya menunggunya untuk memulai topik pembicaraan. "Hm ... apa aku boleh pergi sebentar? Kanaya sepertinya mencariku." Anne menoleh ke tempat Kanaya tadi, berharap bahwa wanita itu sedang sendiri dan kesepian dan akan membuat ibunya merasa bersalah sudah membawa Anne pergi darinya.
Tapi sial, Kanaya justru sedang bercanda riang dengan adiknya. "s**t," gumam Anne. Dia melirik ibunya dan menyadari tatapan nyalang dari Zee.
"Sanjaya, apa kamu tidak apa-apa jika Tante tinggal sebentar? Anne bisa menemani kamu."
Pria itu membungkukkan sedikit badannya dan tersenyum ramah. Mengatakan pada Zee bahwa dia sama sekali tidak keberatan. Sementara itu, Anne melotot dan berdiri kikuk di tempatnya. Dia sudah akan menahan ibunya pergi namun itu sia-sia karena Zee sudah lebih dulu menghilang entah kemana.
"Jadi ..." Anne menatap pria itu ragu. Tidak tahu harus memulai dari mana.
Sanjaya hanya tersenyum, lagi. Hal itu membuat Anne curiga bahwa hobi pria itu adalah tersenyum, dan bertanya-tanya apa pipi pria itu tidak pegal?
"Kamu terlihat tidak nyaman. Tidak apa, kamu bisa kembali pada urusan kamu," ujarnya dengan tenang. Walaupun begitu, perkataannya cukup menusuk dan membuat Anne sedikit merasa bersalah.
Ah dia memang buruk untuk memberikan kesan pertama yang baik. Tapi, bukan berarti dia harus terus mempermalukan dirinya sendiri di depan orang yang baru dia kenal, bukan?"
"Tidak, sebenarnya, ada dessert yang ingin aku coba di sebelah sana, kamu mau mengantarku?"
Jika Anne tidak salah lihat, ada rasa tertarik di binar mata Sanjaya ketika dia mengajak pria itu, dan membuat Anne merasakan pipinya memanas.
*
"Wohooo! Lihat siapa yang habis berkenalan dengan pria tampan!" Kanaya bersiul dan mengerling jahil pada Anne yang mendatangi kamar Sydney. Pesta perusahaan yang diadakan tadi sebenarnya belum usai, namun ketiga wanita itu memilih untuk pulang lebih dulu dan berkumpul di kamar Sydney.
"Apa? Dengan siapa?" Sydney baru saja selesai membersihkan diri dan bergabung dengan dua sepupunya di atas kasur besar miliknya.
"Sanjaya Januar," ujar Anne dengan malas. Dia membaringkan badannya dan menghela napas lelah.
"Kenapa ekspresimu begitu? Apa tidak berjalan lancar?" Sydney mengeryitkan dahinya.
"Tidak, dia baik. Sangat baik. Hanya saja, aku bingung kenapa Mama ingin sekali aku berkenalan dengannya. Maksudku, bukankah itu aneh?"
Sydney dan Kanaya saling lirik dan tersenyum penuh arti. Sydney menghembuskan napasnya malas. "Itu disebut perjodohan, Anne. Mungkin Ibumu ingin kamu berhubungan dengan Sanjaya."
"Apa?!" Respon Anne sangat tidak terduga.
***