Kue Lapis Basah

933 Words
"Kenapa kamu telepon, Callista? Kamu kan sudah punya suami untuk urusan seperti ini. Suruh saja dia beli apapun yang kamu atau bayimu mau. Bukannya itu jauh lebih mudah dan praktis?" Callista tadi sempat melihat kue lapis di laman media sosialnya dan membuatnya sangat ingin memakan kue itu. Yang terbesit di benaknya hanya Bimo, bukan Taufiq. Lagian, mana mungkin Taufiq mau membelikannya? Mengangkat telepon Callista saja tidak mungkin rasanya. Kebetulan juga Callista ingat toko kue ini ada di sebelah kantor Bimo. Maka dari itu, dia minta tolong kepada Bimo untuk membelikannya. Walaupun sedikit merepotkan, tetapi dia harus begitu karena dia sudah bertekad untuk tidak mau menahan diri meminta tolong kepada siapapun, karena dia butuh pertolongan. Apalagi Bimo, pria ini tidak mungkin menolaknya. "Kamu tahu hubunganku dengan dia, Bim!” sahut Callista dengan nada yang terdengar murung. Raut wajah Bimo yang hangat berubah menjadi murung. Dia dan Annas adalah orang kepercayaan Callista dan mereka tahu semuanya. Bahkan mereka berdua pernah mengecap kisah Callista adalah kisah novel yang sering anak-anak remaja baca. Kisah cinta seorang wanita dengan seorang pria kaya raya yang jahat. Begitulah pikir mereka. Callista yang begitu cinta pada Taufiq Adinata, seorang pengusaha kaya raya yang jahat. Bimo sudah berkali-kali menasihati dan bahkan melarang perasaan Callista pada pria itu. Sayangnya, Callista begitu cinta mati pada Taufiq sampai akhirnya batu besar menghalangi jalannya. Waktu itu Bimo sempat bertanya mengapa Callista membiarkan orang tuanya memaksanya menikah dengan pria yang jelas-jelas membencinya. Tidak ada jawaban yang Callista punya. Dia hanya bingung atau mungkin merasa bodoh saat itu. Dia berharap setelah itu akan mendapatkan Taufiq dan rumah tangga yang harmonis, tetapi faktanya justru berkebalikan. "Masih mau tolongi aku, kan? Tolong, Bim. Demi bayi ini.” Callista mengusap perutnya yang masih rata. Callista mendengar helaan napas berat di seberang sana. Namun, Callista justru tersenyum lebar, karena sadar dirinya telah memenangkan ajang pembujukan ini. "Baiklah," tutur Bimo sambil memutar bola matanya. "Tapi hanya karena aku menyukai anak itu, ya!" Tawa Callista terdengar untuk pertama kalinya di hari ini. "Aku sayang, Bimo!" "Bodo amat! Tunggu!” Satu jam kemudian, ponselnya bergetar. Callista langsung melompat turun dari ranjang. Hatinya menghangat membayangkan camilan itu. Langsung Callista menuruni tangga dengan langkah hati-hati, tetapi tetap waspada agar bayi di rahimnya tetap aman. Wanita itu bergegas melewati satpam dan keluar gerbang, di mana sedan hitam Bimo sudah terparkir. Begitu Bimo keluar dari mobil, Callista hampir saja merampas kantong plastik bening di tangannya. "Seorang wanita hamil yang kelaparan," celoteh Bimo sambil terkekeh. Pria itu mengambil posisi bersandar di rangka pintu mobil dengan tangan terlipat. Tanpa memperdulikan celotehan Bimo, Callista langsung membuka kantong itu dan memakan kue lapis basah di sana. Matanya memejam, seolah menikmati kue yang paling enak di dunia, padahal rasanya biasa saja seperti layaknya kue lapis basah di tempat lain. "Sudah jadi istri tetap ya, makannya berantakan," gumam Bimo. Tangan Bimo bergerak, mengarahkan ibu jarinya untuk menyapu sisa makanan di sisi bibir Callista. Momen itu terasa hangat dan akrab, sampai suara klakson mobil yang memekakkan dan agresif memecah keheningan. Callista terkejut hebat hingga kue lapis basah di tangannya terlepas, jatuh ke aspal jalanan. Wanita itu tidak memedulikan kuenya lagi. Dia melihat ke mobil yang baru saja tiba. Jantungnya benar-benar terpompa lebih cepat diiringi bola mata Callista yang membulat sempurna. Taufiq tiba. Di sore hari. Sebuah kejadian langka yang benar-benar sebuah kebetulan. Klakson itu berbunyi lagi, lebih keras dan panjang kali ini. Beberapa saat kemudian, satpam berlari mendekat dengan wajah panik. "Pak, Anda harus memindahkan mobilnya sekarang," katanya pada Bimo. "Tuan Adinata mau lewat." Ekspresi Bimo langsung berubah dari santai menjadi bingung. Bimo tidak menatap mobil itu, melainkan menatap Callista di hadapannya yang berubah seperti patung. Lalu dengan tenang dia berbalik dan berjalan ke arah mobilnya. “Oke, saya pindahkan sekarang.” Setelah mobil Bimo mundur beberapa meter, seorang pria berpakaian rapi turun dari mobil di sebelahnya. Langkah kaki tegas mendekat ke arah Bimo. "Berapa saya harus membayar Anda?" tanya Taufiq dengan tatapan mata yang datar. Bimo mengernyit. "Anda tidak berutang apa-apa pada saya. Callista … dia hanya … sudahlah lupakan. Ta, telepon ya kalau ada apa-apa!” Setelah itu, Bimo masuk kembali ke dalam mobil dan melambaikan tangan kepada Callista. Sementara Callista tetap diam dan sekarang wajahnya menunduk. Dia berbalik dan dengan langkah gontai berjalan memasuki pekarangan. Semuanya benar-benar berubah. Padahal beberapa detik yang lalu rasa manis dari kue lapis basah membawa kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang, rasa takut menghantui dirinya. "Callista." Wanita itu mematung di tempatnya. Dia tidak berani berbalik. Giginya menggigit keras bibir bawahnya, diiringi mata yang memejam. Langkah Taufiq terdengar mendekat hingga akhirnya pria itu berdiri di depannya. Callista pun membuka kelopak mata dan siluet Taufiq yang terkena cahaya matahari sore terlihat. Keheningan di antara mereka terasa berat dan mencekik. Callista mencengkeram kantong plastik sisa kue itu dengan erat sampai genggamannya memutih. "Saya tidak peduli dengan siapa kamu menghabiskan waktu," ujar Taufiq dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Tapi jangan pernah lagi kamu membawa selingkuhan kecilmu ke properti saya." "Bimo itu hanya ….” "Saya tidak peduli siapa namanya!" bentak Taufiq memotongnya. "Dengarkan baik-baik! Jangan pernah lagi membawa pria lain ke rumah saya. Jika saya melihatnya di sini sekali lagi, kamu bisa rapi-rapi. Saya sendiri yang akan menyeretmu ke jalanan. Mengerti?" Tanpa menunggu jawaban Callista, Taufiq langsung melangkah pergi ke mobilnya. Dia membawa masuk mobil mahal itu ke halaman rumah, meninggalkan Callista yang terdiam kesepian di sana yang sangat ingin menjelaskan bahwa dirinya sangat lapar atau sekedar bilang dia kesepian dan membutuhkan teman. Namun tampaknya kesempatan untuk mengutarakan semua itu tidak akan pernah ada. Tersisalah Callista sendirian yang ditatap nanar oleh satpam rumah megah itu. Kepalanya kembali tertunduk dan sekarang bahunya mulai gemetar naik-turun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD