Tak henti hentinya dari tadi gue mengumpat dalam hati. Kenapa hari ini semua anggota keluarga gue bekerja sama untuk membuat gue naik darah. Gimana gue gak naik darah kalau gue ditinggal pulang sama keluarga gue. Dan lebih parahnya lagi gue disuruh menginap sehari sama Pak Ryhun di apartemennya. Yang lebih membuat gue tidak percaya adalah Pak Ryhun menyikapi semua ini dengan santai dan biasa. Bahkan dari tadi gue merengek minta pulang tapi dikata berisik. "Pak saya mau pulang, saya gak mau tidur di apartemen Bapak." Pak Ryhun masih menyetir dan menatap lurus ke arah jalan. "Berisik, memangnya saya mau menampung kamu." Balas Pak Ryhun mampu menohok hati gue. Perkataan pedasnya itu selalu membuat kepala gue mendidih. Ingin rasanya gue menampar mulutnya agar tidak bicara dengan semena-mena

