Rinjani menahan napas ketika pintu apartemen Juna terbuka. Kakinya melangkah memasuki ruangan yang cukup luas untuk ditinggali seorang diri. Saat melihat sebuah sofa panjang yang empuk, mata Rinjani berbinar saat itu juga. Tanpa tahu malu, perempuan itu menghempaskan tubuhnya dengan sepatu dan kaus kaki yang masih melekat.
"Ah, capeknya.. Demi apapun, gue pengen banget nggak usah sekolah, terus tiba-tiba masa depan gue bisa kejamin gitu aja. Yang kayak gitu, ada nggak, ya?" Rinjani berceloteh sambil memejamkan kedua mata.
Wajahnya kusam, keringatnya berkumpul disekitar hidung dan pelipis. Rambutnya yang dikuncir satu kini sudah tidak beraturan lagi.Kadang, jika terlalu lelah begini, omongannya bisa ngalor ngidul.
Juna tersenyum tipis, membuka sepatu dan kaus kakinya teratur, lalu menyimpannya di rak sepatu. Untuk beberapa detik, ia menyesal karena membiarkan Rinjani disini. Hal ini benar-benar membuatnya nggak nyaman dan sedikit kaku.
Cowok itu beralih ke arah kulkas, memeriksa kira-kira ada makanan apa yang setidaknya bisa ia suguhkan pada tamu dadakan yang datang ke rumahnya sekarang. "Mau ngemil apa?"
Rinjani beringsut turun dari sofa dan mendekati Juna. Perempuan itu membungkukkan badan, memenyelipkan sejumput rambut ke belakang telinga dan membasahi bibir penuh minat. "Hm, siang-siang gini, menurut lo enak makan apa?"
Juna menelan ludahnya, cowok itu menggeser tubuhnya sedikit karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Rinjani di depan pintu kulkas, alasan lain; agar Rinjani bisa lebih leluasa memeriksa isi lemari es-nya.
"Ih, asik! ada eskrim! Mau, ya?!"
Juna hanya mengangguk ketika Rinjani mengambil satu es krim cone rasa Vanilla yang kemarin malam ia beli di minimarket tapi belum sempat Juna makan. Es krim dengan topping potongan Oreo dan kacang, rasa favoritnya.
Cowok itu berjalan mendekati jendela setelah menutup pintu kulkas, sedangkan Rinjani mengekorinya dari belakang sambil menjilati es krim yang cepat mencair.
Selama ini, Juna sama sekali belum pernah mengundang siapapun ke rumahnya. Ia bukan tipe orang yang mudah terbuka pada sembarang orang. Dan Rinjani menjadi orang pertama yang membuatnya... nyaman. Mungkin?
"Apartemen lo punya view yang bagus. Boleh, lah." Rinjani berkomentar, dan tanpa Juna sadari perempuan itu juga berdiri disampingnya.
Juna menopang tangannya pada bagian bawah jendela kaca yang cukup lebar. Pada pagi hari, Juna membiarkan gordennya terbuka agar cahaya bisa leluasa masuk ke kamarnya yang senyap. Sore hari, Juna selalu berdiri disini sambil melihat bagaimana matahari berangsur-angsur turun. Malam harinya, Juna tetap membiarkan gordennya terbuka. Karena saat tertidur, cahaya malam dari lampu kota dan gedung pencakar langit di luar sana adalah satu-satunya lampu tidur untuk Juna.
"Ngomong-ngomong," Juna membuka suara. Membuat Rinjani menoleh sambil tetap menikmati es krimnya yang hampir habis. "Lo... sama Arsen gimana?"
Rinjani terdiam sejenak, membuat Juna tersenyum kikuk dan merutuki kebodohannya karena tidak bisa mengelola suasana hati seseorang. "Ng-Nggak usah di jawab, bukan pertanyaan, kok."
Rinjani tersenyum. "Jelas, lo itu tadi nanya ke gue... jadi mau gue jawab apa enggak, nih?"
Juna diam dan memilih untuk mengalihkan perhatian. Rasa bersalah itu masih muncul, Rinjani hanya akan menjadi murid biasa tanpa terlibat apapun dengan Arsen jika saja perempuan itu nggak berteman dengan Juna. Bagaimana bisa Juna nggak merasa bersalah kalau Rinjani berada dalam situasi ini karena Juna.
"Gue juga nggak tau, harusnya dari awal gue nggak sok pahlawan, ya? Nggak sok-sok an nerima ancaman itu buat ngelindungin lo, padahal... ancaman itu nggak ngerubah apapun." Rinjani bercerita dengan sendirinya, ia kehilangan minat menghabiskan lahapan terakhir es krimnya dan memilih untuk melemparnya ke dalam tempat sampah kecil di dekat meja belajar Juna—tidak jauh dari tempatnya berdiri.
"A-Ada yang berubah, kok. Semenjak lo jadian sama Arsen, dia nggak gangguin gue lagi—"
"Tapi kita jadi jauh, ya? Lebih tepatnya lo ngehindarin gue. Bahkan itu lebih nggak enak ketimbang harus pura-pura jadian sama Arsen."
Juna mengakui itu. Mendengar kabar simpang siur tentang Arsen dan Rinjani di sekolah membuatnya takut sendiri. Juna takut untuk berada di dekat Rinjani karena Arsen bisa saja membuatnya terancam. Untuk beberapa hari hidupnya memang tenang, tapi Juna tidak menyukai ketenangan itu. Jujur, Juna lebih suka dibully sampai mampus oleh Arsen, asalkan disaat yang bersamaan, Rinjani juga muncul disana.
Juna nggak tahu ini jenis perasaan apa, yang pasti ia benar-benar menemukan ketenangan yang real ketika Rinjani ada disampingnya.
"Gue takut,"
"Takut kenapa?"
"Yaa, secara logika aja, kalau gue ngedeketin lo dengan posisi lo yang udah punya cowok, gue yakin Arsen bakal makin ngabisin gue. Terus waktu pertama gue denger kabar itu, nggak tau kenapa, gue nyesel aja gitu."
"Kenapa harus nyesel?"
"Soalnya... gue jadi ngerasa sendirian lagi."
Rinjani tertawa kecil, menggeser tubuhnya dan merangkul pinggang Juna karena ia sendiri juga sadar kalau tubuh pendeknya tidak bisa menggapai leher Juna. "Ya ampun, Lo baru sadar, ya? Kalau temen itu ternyata penting?"
"Hm," Juna mengangguk dan diam-diam menyimpan senyum. "Makasih, ya?"
"Buat apaan?"
"Buat berani jadi temen gue, Yaa.. gue harap lo bukan fake friends juga, sih." Juna tertawa getir, lalu menyingkirkan tangan Rinjani yang membuatnya tidak nyaman.
Rinjani berdecak, giliran menyilangkan kedua tangan di bawah d**a. Matanya menerawang keluar jendela yang menyuguhkan panorama kota dari ketinggian puluhan meter. Di seberang sana banyak sekali gedung pencakar langit khas kota metropolitan, dan Rinjani yakin, panorama ini akan lebih indah jika langit berganti malam. "Gue aneh, deh sama Arsen..."
Juna hanya membatin ketika menyadari bahwa Rinjani mengalihkan topik canggung ini. Meski begitu, Juna mencoba untuk menanggapi. "Aneh kenapa?"
"Kok dia orangnya drama banget, ya?"
Juna tertawa kecil. "Serius? Drama gimana emang?"
"Yaa, lo tau lah, sekarang itu nggak semua orang suka sama hal-hal yang terlalu so sweet tapi kesannya lebay, atau bully-bully orang yang lebih lemah dari dia. Aneh aja gitu, kelakuan sama tampangnya nggak match. Lo tau sendiri, lah kelakuan Arsen mirip sama Tokoh Utama di Film-Film lebay."
"Tapi lo tau nggak? Insiden nolak bunga dari Arsen itu keterlaluan?" Juna menolehkan kepalanya dengan senyum tipis, membuat Rinjani tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya juga.
"Tau, sih.." Rinjani menundukkan wajahnya, merasa bersalah. "Cuma gimana, ya.. ada beberapa alesan kenapa gue nekat banget waktu itu,"
"Salah satunya?"
"Gue ilfeel. Gue nervous. Terus... gue juga tau, kalau nggak seharusnya gue bohongin perasaan gue sendiri. Meskipun gue udah tau sisi lain dari Arsen dan berusaha buat nyaman sama dia, tapi kayak nggak bisa aja. Lo mau tau minus-nya gue? Gue orangnya blak-blak an dan nggak mikir panjang,"
"Berarti lo nggak sadar kalau hari itu juga, lo udah nampar Arsen secara nggak langsung?"
"Sadar nggak sadar, sih. Ah lagian, itu emang pantes buat cowok yang sok keren kaya dia. Jangan bahas ini lagi, ah! Gue jadi serba salah."
Juna mengangguk, mengerti. Hari itu, disaat yang bersamaan ia merasa lega juga gelisah. Lega, karena akhirnya Rinjani mengakhiri hubungan itu dengan Arsen dan juga gelisah, karena Juna sudah tahu, bahwa Arsen akan kembali menjadikan Juna pelampiasannya.
Tidak ada satu orang pun yang tahu, bahwa saat Juna tidak sengaja melintasi lapangan yang ramai oleh siswa hari itu, Juna baru keluar dari ruang BK dan melaporkan geng motor dimana Arsen bergabung.
Dan sekarang, Rinjani menanyakan jawabannya. "By the way, waktu kemarin sore gue nemuin lo digebukin sama Arsen di belakang gudang, gara-gara apa? Pasti gara-gara gue, ya?"
Juna menggeleng. "Nggak, kok. Santai aja. Kenapa emang?"
"Waktu gue tolongin, lo kayak najis gitu sama gue, padahal lo udah tau, kan pas itu gue udah putus sama Arsen?"
Juna mengangguk samar. Dan tersenyum tipis. Padahal Juna nggak tahu kalau senyuman tipisnya itu sejak tadi hampir membuat Rinjani merinding. "Nggak usah baper. Itu gue yang salah, sih. Beberapa waktu gue sempet mikir, kalau lo nggak ada bedanya sama dia. Tapi, disisi lain gue juga ngerasa bersalah, kalau aja lo nggak temenan sama gue, lo nggak bakal kenal Arsen, apalagi keseret-seret kaya sekarang. Itu juga jadi salah satu alesan kenapa gue labil, ngehindarin lo berulang kali."
"Terus, lo nggak ada niatan buat be-ru-bah?" Rinjani mengeja katanya hati-hati.
"Berubah jadi apa? Iron Man?"
Rinjani mendengus, dan memukul punggung Juna. "Apa, sih? Garing banget. Gue serius.."
"Berubah gimana? Ini udah jadi diri gue sendiri, kok."
Kata-kata itu entah mengapa tidak bisa Rinjani cerna begitu saja, seperti ada hal lain yang terasa mengganjal hatinya. Justru, Rinjani merasa kalau ini bukan diri Juna yang sebenarnya.
"Lo seriusan nggak ada kemauan buat ngelawan Arsen. Yaa maksudnya, respon manusiawi aja kalau orang di tindas gimana? Apalagi lo sama-sama cowok, kan?"
Juna tersenyum lagi, bertopang dagu dan menerawang lagi keluar kaca. Hidung mancungnya hampir bersentuhan dengan kaca jendela didepan ia berdiri. "Gue pernah mikir gitu, sih. Tapi gue nggak bisa berubah. Semuanya udah terlanjur nyatu. Dan gue enjoy aja hidup kaya gini; sendirian, punya fantasi, bebas ngelakuin apa aja yang gue suka, meskipun kadang gue ngerasa nggak tenang setiap kali ketemu Arsen. Tapi, percaya atau enggak, Arsen punya alesan kenapa dia sebegitu pengen banget gue mampus. Dan gue sendiri juga sadar, gue emang pantes dapetin itu. Kalau gue jadi Arsen—"
Juna belum menuntaskan kalimatnya, karena sebelum itu selesai, Rinjani langsung berjinjit dan meraih leher Juna dengan satu lengan. Sedangkan satu tangannya ia gunakan untuk menepuk punggung Juna keras, sebagaimana ia menepuk punggung Abangnya. Katanya, cara menetralkan emosi laki-laki adalah dengan menepuk punggungnya sedikit keras, itu juga menyimbolkan suatu pelukan hangat—secara pria.
Gue udah tau. Rinjani membatin. Meskipun ia tidak merasakan Juna membalas pelukan hangatnya, Rinjani merenggangkan jarak diantara mereka dan tersenyum lebar ke arah Juna. "Gue kesini bukan buat bagi-bagi rasa Galau. Udah, nggak usah ngungkit apa yang seharusnya nggak perlu lo ungkit. Oke?"
Juna tertawa hambar dan berusaha memperbaiki eskpresi wajahnya yang kaku. Cowok itu menarik tangan Rinjani mendekati ranjang, membuat Rinjani gugup untuk beberapa detik. Dan setelah ia tahu maksud Juna, Rinjani menahan pipinya yang hampir bersemu merah karena sempat punya pikiran kotor. "M-Mau ngapain?"
"Gue mau tunjukin sesuatu, tapi inget, lo harus bisa jaga rahasia ini. Soalnya gue cuma kasih tau ke orang yang gue percaya."
—Gue percaya.
Kata itu yang membuat Rinjani menarik senyum, ia duduk bersila di sebelah Juna dan mereka sama-sama duduk di atas karpet dekat tempat tidur. Saat cowok itu menarik sebuah laci raksasa dibawah ranjang, Rinjani membulatkan matanya.
"Ini apaan?"
.
.
.
(TBC)