Parlan Gustov melihat punggung Serene yang berjalan memasuki kediaman Peter. Punggung itu tampak turun, kedua lengannya terkulai lemah, dan langkah kakinya tampak gontai. Dari pandangan Parlan, wanita itu terlihat mempunyai sebuah beban yang membelenggu tangan dan kakinya, menahan Serene untuk menegakkan punggungnya yang kurus.
Dunia yang tercipta oleh ingatan Parlan sempat berkedip beberapa kali, pertanda bahwa emosi Parlan semakin tidak stabil dan berusaha melepaskan diri dari jimat penakan roh milik Zenon.
Ketika melihat hal itu, Zenon langsung menarik tangan Xena sehingga keduanya berdiri semakin dekat. “Ingatan setelah ini mungkin akan berdampak sangat besar untuk emosi hantu Parlan. Kamu sebaiknya memegang tanganku dengan erat atau kita bisa berpisah.”
Genggaman tangan mereka tiba – tiba terasa semakin erat usai Xena mendengar perkataan dari Zenon. “Mhm. Tidak akan kulepaskan.”
Roda waktu lantas bergerak dengan cepat, membawa mereka ke waktu tiga puluh menit ke depan.
Parlan berdiri di hadapan pintu masuk, merasa ragu sebentar sebelum akhirnya memantapkan hati untuk membuka pintu. Tanpa dia sangka, ruang tengah yang berada dekat dengan pintu masuk terlihat sepi, lampunya padam dan tidak ada satu pun pelayan yang berlalu lalang.
Tampaknya Peter telah meminta seluruh pelayannya untuk pergi ke bangunan lain di bagian belakang yang memang dikhususkan untuk tempat tinggal para pelayan.
Tapi, kenapa harus meminta mereka semua meninggalkan bangunan utama di saat ada Serene di dalam sini?
“Tuan Rodriguez?” Parlan melangkahkan kakinya masuk dan mulai melewati ruang tengah. “Nona Estelle, aku sudah datang.”
“…”
Berapa kali pun Parlan memanggil mereka, tetap tidak ada suara balasan.
Parlan mulai merasa ada sesuatu yang salah. Peter tidak mempunyai ruang kerja di dalam rumahnya, sehingga kebanyakan rekan kerjanya akan mengadakan pertemuan di ruang tengah. Namun, sekarang ruang tengah malah kosong dan Parlan tidak bisa menemukan Serene di seluruh ruang terbuka.
“Nona Estelle!” seru Parlan karena tiba – tiba saja hatinya diliputi oleh rasa khawatir.
BRAK!
Suara gebrakan pintu terdengar dari lantai dua, membuat Parlan langsung mendongakkan kepalanya ke atas dan mendapati Serene tengah berlari keluar dari sebuah ruangan dan berhenti di tepi pagar pembatas.
Penampilan Serene terlihat sangat kacau dengan pakaian yang setengah terbuka, rambut panjangnya yang biasa tersisir rapih kini terlihat berantakan seperti habis bergesekan dengan tempat tidur. Sudut mata wanita itu berair dan bola matanya tampak merah saat dia berkata, “Kamu pernah berkata sebesar apapun masalahku, kamu pasti akan membantuku.”
Serene menatap Parlan yang terlihat bingung di lantai dasar. Pupil mata pria itu membulat dan lidahnya menjadi keluh saat melihat penampilan Serene. Seberapa keras pun ia berpikir, Parlan tetap merasa yakin bila Peter telah melakukan tindakan yang busuk kepada Serene.
“Serene! Kenapa kamu menendangku?! Kembali ke sini, sekarang!”
Peter turut berlari untuk menyusul Serene, dia hendak menarik wanita itu pergi tapi matanya malah melihat Parlan dengan acuh. “Apa yang kamu lakukan di sini?! Pergilah!”
Serene memberontak dengan kuat dan melepaskan tangannya dari genggaman Peter. “Tuan Gustov! Tolong, kali ini kumohon bebaskan aku dari tempat ini.”
Tanpa membalas ucapan Serene, Parlan sudah lebih dahulu berlari ke lantai atas dan melemparkan pukulannya ke wajah Peter.
“b******n! Apa yang telah kamu perbuat kepada Nona Estelle?!” teriak Parlan yang diliputi oleh emosi.
Peter yang tidak terima direndahkan sedemikian rupa mulai berteriak memanggil pengawalnya. Dia kemudian menunjuk Parlan dan berteriak, “Beraninya kamu memukulku!”
Parlan yang merasa kesal menarik kerah Peter dan mengangkat pria itu hingga pandangan mereka sejajar. “Pria sialan! Apa setiap kali Nona Estelle kemari, kamu akan memperlakukannya dengan seperti ini?!!”
Bukannya merasa bersalah, Peter malah tertawa keras. “Memangnya kenapa? Serene telah menanda tangani kontrak untuk menuruti semua permintaanku selama lima tahun dan aku akan membantunya menjadi seorang model yang terkenal.”
Darah di dalam tubuh Parlan mendidih, dia merasa seolah ingin menghancurkan Peter menjadi kepingan kecil dan membuang pria b******n itu ke dalam tumpukan sampah.
“Dia menipuku! Ketika aku ingin membaca isi kontrak, Tuan Rodriguez berkata bila isinya tidak penting dan aku hanya perlu menanda tangani kontrak itu. Tapi, aku tidak menyangka …”
Tidak menyangka bila dia harus melakukan berbagai macam hal kotor demi mempertahankan popularitasnya sebagai seorang model.
Serene tidak menyangka bahwa kemurnian yang selalu ia pertahankan harus dirusak oleh seorang pria kotor yang tidak bermoral seperti Peter. Padahal Serene sudah mempercayai Peter dengan sepenuh hati dan menganggap pria itu sebagai sosok yang patut untuk dihormati.
Namun, setelah nama Serene kian memuncak di kalangan model, Peter mulai meminta Serene melakukan hal – hal yang tidak senonoh. Entah sudah berapa kali Peter telah menodainya, Serene tidak pernah lagi menghitung setelah Peter menyentuhnya untuk ketiga kali.
Selama berbulan – bulan, Serene harus menanggung semua penderitaan itu sendirian. Dia ingin berlari, tetapi kakinya terikat oleh kontrak busuk yang menyatakan Serene harus membayar denda sebesar 100 juta USD apabila dia melanggar kontrak tersebut.
Serene hanyalah seseorang yang tumbuh di kota kecil, tidak begitu paham tentang masalah kontrak sehingga tak ayal bila dia mudah untuk ditipu.
“Tuan Rodriguez, Anda benar – benar sampah!” Parlan melayangkan tinju ke wajah Peter sampai pria itu memuntahkan darah segar.
Peter, “PENGAWAL! PENGAWAL! CEPATLAH MASUK DAN BAWA PARLAN KELUAR!”
Suara derap langkah kaki mulai berdatangan dari arah pintu belakang. Parlan buru – buru merapihkan pakaian Serene dan menarik wanita itu untuk berlari meninggalkan rumah Peter. Mereka berdua sama – sama tidak mempunyai latar belakang kuat yang dapat mereka gunakan untuk melindungi diri.
Serene hanyalah seorang pendatang baru dan apabila dia membocorkan sikap Peter kepada media, maka Peter bisa saja memutar balikan fakta dan mengatakan Serene lah orang yang menaiki tempat tidurnya untuk mendapatkan ketenaran. Pada akhirnya, orang yang paling dirugikan adalah Serene posisinya di industri hiburan belum stabil, penggemarnya bisa pergi dan datang kapan saja karena kebanyakan dari mereka hanya terbawa arus media saat menjadi penggemar Serene.
Satu – satunya cara untuk menyelamatkan diri saat ini hanyalah dengan melarikan diri.
“Nona Estelle, maafkan saya yang terlambat menolong Anda,” kata Parlan seraya berlari.
Serene membulatkan kedua matanya, dia berpikir Parlan mungkin akan menyalahkannya atau marah karena Serene tidak memberitahukan masalah ini kepada Parlan sedari awal. Namun pria itu sama sekali tidak melemparkan kesalahan kepada Serene, tidak pula menganggap Serene sebagai seseorang yang bodoh sehingga mudah ditipu.
“Tuan Gustov … terima kasih dan maaf. Maaf karena telah melibatkanmu dalam masalahku.”
“Nona Estelle,” Parlan berkata, “Aku selalu bilang bahwa kamu seperti adik perempuan untukku. Sebagai seorang kaka yang lebih tua, bagaimana mungkin aku bisa membiarkanmu menghadapi masalah seorang diri?”
Serene tidak lagi menjawab tapi air mata di pelupuk matanya terus jatuh dan mengotori wajahnya.
Bagi Serene yang telah lama merasa putus asa akan kehidupan, sosok Parlan adalah seseorang yang membawa harapan ke dalam hidup Serene. Mereka padahal tidak pernah melakukan interaksi setiap hari, tetapi Parlan mampu memberikan perhatian yang besar untuk Serene.
Kaki mereka terus berlari tanpa henti. Menjauh dari kejaran para pengawal suruhan Peter dan berusaha mencari tempat persembunyian untuk sementara waktu.
Langit di atas kepala mereka terlihat mendung, menandakan bahwa hujan sebentar lagi akan mengguyur bumi. Parlan membawa Serene ke sebuah pabrik tua yang sudah tidak digunakan lagi yang letaknya tak jauh dari kawasan Peter tinggal.
Beruntung para pengawal serta petugas keamanan yang mengejar mereka tidak melihat mereka masuk ke dalam pabrik sehingga mereka hanya lewat begitu saja.
Serene menjatuhkan tubuhnya ke lantai seraya bernapas putus – putus. Dia tidak menyangka akan bertindak seberani ini untuk menyelamatkan diri. Karena setelah ini, kesempatan Serene untuk kembali ke dunia model adalah nol besar. Peter pasti akan melakukan segala cara untuk menyabotase popularitasnya dan membuat semua perusahaan enggan menerima Serene.
Parlan menyandarkan punggungnya ke dinding, kemudian melirik ke arah Serene. “Nona Estelle, apa kamu baik – baik saja?”
Serene mengangguk, “Kakiku hanya merasa lelah, tapi aku baik – baik saja.”
Keduanya lantas duduk saling bersebelahan dan berusaha menghindari jendela karena takut ada seseorang yang melihat mereka dari luar.
Rintik air hujan mengalir turun dengan deras, membawa serta suara guntur yang memekakan telinga. Serene menggigil kedinginan saat percikan air hujan merembes masuk ke dalam bangunan pabrik lewat celah jendela yang sudah rusak. Saat melarikan diri, Serene hanya menggunakan selembar pakaian tipis yang sudah mempunyai robekan di beberapa bagian sehingga wajar apabila dia merasa sangat kedinginan.
Parlan mengambil inisiatif dengan menanggalkan kemeja luarnya dan memberikan pakaian itu kepada Serene sehingga dirinya hanya mengenakan kaos tipis.
“Nona Estelle, sudah berapa lama Tuan Rodriguez memanfaatkanmu?”
Kedua manik kelabu milik Serene menggelap saat mendengar pertanyaan dari Parlan. Ingatannya terlempar kepada sosok Peter yang seringkali menyentuh tubuh Serene. Di dalam benak Serene, dia membayangkan ada tangan Peter yang menjamah tubuhnya secara paksa, menarik tengkuk Serene dengan kasar sebelum akhirnya mencium wanita itu dengan paksa. Tapi, Peter tidak berhenti sampai disitu, dia akan meneruskan aksinya dan tidak akan berhenti meski Serene menangis di atas tempat tidur.
Wanita yang bahkan usianya belum genap 20 tahun itu sudah harus mendapatkan sebuah trauma berat yang akan mencoreng jiwanya hingga dia mati.
“Aku tidak tahu, mungkin sudah berkali – kali.”
Tetesan air hujan jatuh melalui sela plafon yang retak, Serene menyembunyikkan wajahnya di balik lipatan tangannya dan berkata, “Apakah dimatamu aku hanyalah seorang wanita bekas yang sudah ternoda?”
Tatkala kilat menyambar langit, Parlan menarik wajah Serene sehingga kedua mata mereka bertemu. “Nona Estelle, kamu tidak pernah kotor dan kamu bukanlah barang yang bisa dianggap sebagai bekasan. Orang yang lebih pantas disebut sebagai noda adalah Tuan Rodriguez yang seperti sampah itu.”
Serene tersenyum lembut dengan pandangan mata sayu. “Orang seperti dia tidak bisa rusak, Tuan Gustov.”
Selama Peter mempunyai uang, maka dia bisa menghapus jejak masa lalunya dengan mudah. Meski Serene telah membuat berbagai macam laporan kejahatan sampai terlunta – lunta, Peter pasti mampu membungkam hukum dan membuat dia terlepas dari jeratan hukum.
Dunia memang tidak adil.
Terutama bagi seseorang yang berada di tingkat terbawah strata kehidupan.
“Aku …” Parlan tidak tahu harus berbicara seperti apa. Dia hanyalah seorang tukang kebun yang tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Peter di pengadilan. Parlan akhirnya sadar bahwa dia sama sekali tidak bisa membantu Serene.
“Nona Estelle, aku memang tidak bisa membantumu keluar dari masalah hukum. Tapi, aku pasti bisa menemanimu melarikan diri,” Parlan menatap Serene dengan dalam, “Aku mempunyai seorang kenalan yang bisa menyelundupkan kita ke kapal barang yang akan pergi ke Tiongkok. Kita mungkin bisa meminta bantuannya dan bersembunyi di Tiongkok untuk sementara waktu. Kita bisa memalsukan identitas di sana dan memulai kehidupan baru yang jauh lebih baik dari tempat ini. Apakah kamu melakukan itu?”
Serene tertegun, tidak percaya bila Parlan bisa berpikir hingga sejauh itu, bahkan rela melakukan apa saja demi membantu Serene untuk menghindari Peter.
Serene mengangguk dengan ekspresi yang terlihat ingin menangis lagi. “Mhm, mari pergi dari tempat ini.”
Selama Serene dapat hidup dengan tenang, maka di mana pun tidak masalah.
Setelah melihat semua kejadian ini, Xena terus diam dan tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bahkan tanpa henti melihat ke arah Serene dengan ekspresi yang dipenuhi oleh guratan rasa sakit.
“Xena, jangan terhanyut ke dalam emosi dari kilas balik ini. Energi di dalam tempat ini bisa tidak seimbang.”
• • • • •
To Be Continued
6 Oktober 2021