BAB 37 - Hantu Tanpa Lidah - Bagian 9

1360 Words
Pada titik ini, dunia yang tercipta akan ingatan masa lalu mulai berguncang dan tampak kabur. Kemarahan dan penyesalan yang tertumpuk akibat tak memiliki kekuasaan untuk melindungi Serene, kini berkecamuk bagaikan badai besar. Berselang beberapa saat kemudian, Parlan mulai membuka matanya kembali dan merasakan sakit kepala yang teramat kuat akibat terkena pukulan tongkat kayu. Matanya menyipit sedikit untuk menyesuaikan pencahayaan yang masuk ke dalam retinanya, tapi ia segera membulatkan mata saat teringat tentang Serene. “Nona Estelle … Dimana Nona Estelle?” teriak Parlan kepada beberapa pria yang berdiri di sudut – sudut kontainer. Dia baru sadar bahwa dirinya tidak pernah meninggalkan kontainer, sedangkan Serene ditarik keluar dari tempat ini. Kemungkinan besar, Peter pasti membawa Serene ke tempat lain karena hendak mengurung Parlan di dalam kontainer. Para pria yang memakai pakaian hitam hanya mengacuhkan pertanyaan Parlan. Merasa kesal karena diacuhkan, Parlan hendak berdiri tapi ternyata tangan dan kakinya telah terikat kuat di kursi, membuat pria itu tidak mampu bergerak sedikit pun. “Katakan padaku di mana Nona Estelle?!!” Pintu kontainer tiba – tiba saja terbuka, lalu menampakan sosok Peter yang berjalan masuk ke dalam kontainer seorang diri. Parlan lantas menghujami Peter dengan tatapan jijik dan marah, jika seandainya tidak ada tali yang mengekang pergerakannya, mungkin Parlan akan langsung memukuli Peter. “Parlan, kamu baru saja bangun tapi hal pertama yang kau tanyakan malah keberadaan Nona Estelle. Bukankah seharusnya kamu lebih mengkhawatirkan keadaanmu sendiri saat ini?” Peter melangkah mendekati Parlan dan mengangkat kepala pelayannya itu tinggi – tinggi. Parlan sontak meludahkan air liur ke wajah Peter. “Lepaskan tanganmu, sampah seperti kamu tidak pantas menyentuh manusia lain!” Peter tertawa kecil seraya mengusap wajahnya menggunakan sapu tangan. “Memangnya kamu sendiri bukanlah sampah? Parlan, di mataku kamu bahkan lebih hina daripada hama. Namun, hama seperti kamu malah berani – beraninya mengotori kehidupanku.” Parlan tidak memperdulikan ucapan Peter yang menghinanya. Bagi Parlan, hal terpenting yang harus ia lakukan sekarang adalah mencari keberadaan Serene dan memastikan bila wanita itu aman. “Aku akan bertanya sekali lagi, di mana Nona Estelle?!” teriak Parlan begitu keras sampai suaranya memantul terus di dalam kontainer. BUK! Seorang penjaga yang tadinya hanya diam mendadak memukul wajah Parlan sampai membuat kepala pria itu terasa berputar. Seusai mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, Parlan merasa ada tangan seseorang yang menarik rambutnya ke atas dan membuat Parlan terus menatap kedua mata Peter meski kepalanya telah lunglai. “Parlan, tampaknya kamu tidak mengerti. Saat ini, kamu tidaklah lebih dari seekor hama yang sedang terjebak. Tapi kamu malah bersikap kurang ajar di hadapanku.” “Nona Estelle ... ada di mana? Katakan .. kepadaku.” Lirih Parlan kecil. Peter tertawa keras sebagai tanggapan. “Tenang saja, aku tidak akan menyakiti fisik Nona Estelle. Karena sangat sayang apabila tubuhnya yang indah itu mendapatkan goresan luka. Namun, aku tetap saja perlu memberikannya hukuman untuk membuatnya jera karena sudah seenaknya kabur dan mengkhianatiku.” Seorang pria menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Peter. Awalnya Peter hanya membolak – balikan amplop tersebut di depan mata Parlan untuk menaikkan atensi Parlan terhadapnya, tapi karena Parlan tampak tidak begitu tertarik dengan barang yang ada di tangannya, Peter segera membuka amplop besar tersebut. “Nona Estelle pernah mengancam ingin menyebarkan perbuatanku kepada media, tapi bagaimana bila perbuatan kotornya lah yang lebih dahulu sampai ke media massa?” Peter mengambil isi dari amplop cokelat tersebut dan memperlihatkannya kepada Parlan. Sontak Parlan membulatkan matanya lebar – lebar dengan sekujur tubuhnya yang gemetar hebat. “Apa – apaan ini? Kenapa kamu … berbuat sampai sejauh ini dan mempermalukan Nona Estelle?” Amplop itu berisikan lembaran foto yang mungkin jumlahnya ratusan. Potret yang ditampilkan oleh ratusan foto itu adalah potret – potret Serene yang sedang tidak memakai busana. Namun hal yang membuat Parlan terkejut adalah karena kesemua potret itu memperlihatkan potret Serene yang tengah melakukan hubungan badan dengan seorang pria yang wajah serta tubuh bagian atasnya di sensor sehingga hanya memperlihatkan sosok Serene secara jelas. “Parlan, tidakkah tubuh Nona Estelle tampak begitu indah? Kamu boleh menyimpan foto – foto ini bila ingin. Tapi, sesungguhnya kamu juga bisa melihatnya di berbagai platform media esok pagi.” Tetesan air mata berjatuhan ke atas permukaan foto yang tergolek di atas lantai. Parlan bukanlah seseorang yang mudah menangis selama hidup, tapi kini air matanya mengalir deras saat melihat seseorang yang selalu ia hargai dipermalukan sampai ke titik ini. Serene Estelle adalah seseorang yang begitu baik dari pandangan Parlan. Wanita itu tidak pernah bertingkah laku angkuh hanya karena dia seorang selebriti terkenal dan malah bersikap sangat ramah kepada Parlan. Jika sampai semua foto ini tersebar ke publik, sosok yang selalu tampak secerah matahari itu mungkin akan meredup dan menjadi gelap. Kebencian dan rasa jijik pasti akan menghujami Serene tanpa henti, membuat wanita itu terpuruk jatuh ke dalam kesengsaraan tanpa akhir. “Jangan lakukan itu. Kumohon … aku pasti akan melakukan apapun, asal reputasi Nona Estelle tidak ternodai,” ujar Parlan putus asa. Peter menyunggingkan sudut bibirnya saat mendengar ucapan Parlan. “Apapun? Termasuk pergi untuk selamanya dari benua Eropa dan merelakan lidahmu supaya kamu tidak dapat sembarangan membicarakan perbuatanku kepada orang lain?” Parlan menundukkan kepalanya ke bawah, seluruh tubuhnya bergetar dan ia mencengkram kursi dengan kuat. Apakah dia harus bertindak sejauh itu hanya demi Serene? Mereka bahkan baru mengenal secara beberapa bulan dan tidak memiliki hubungan apapun? “Tuan Gustov, aku membawakanmu kue hari ini. Cobalah dan katakan kepadaku apakah rasanya enak?” “Aku hari ini membawakanmu kue lagi, Tuan Gustov.” Suara Serene yang kerap membawakannya kue terngiang – ngiang di dalam kepala Parlan, membuat hati Parlan semakin tersiksa. Mereka memang tidak mempunyai hubungan apapun, tapi bukan berarti Parlan tidak memiliki kasih sayang kepada Serene yang selalu menebarkan kebaikannya kemana pun ia melangkah. Parlan mungkin sudah terbiasa hidup dalam kesulitan dan menghadapi kekejaman dunia. Namun, Serene bukanlah seseorang yang seharusnya merasakan semua itu. ‘Nona Estelle, aku akan membayar kue – kue mu hari ini.’ kata Parlan di dalam hatinya. “Selama kamu berjanji tidak akan mempermalukan Nona Estelle, maka aku tidak perduli lagi dengan hal yang ingin kamu lakukan kepadaku.” Peter membalas dengan senang. “Aku berjanji.” “Kalau begitu, aku akan melakukan apa pun demi melindungi Nona Estelle.” Peter menepuk bahu Parlan beberapa kali dan berbisik. “Selamat tinggal, Parlan. Semoga kita tidak pernah bertemu lagi.” Seusai itu, Peter segera melangkah keluar dan memberikan kode kepada para bawahannya untuk memotong lidah Parlan. Seseorang mengangkat kepala Parlan, sedangkan yang lain memaksa Parlan untuk membuka mulutnya lebar – lebar. Mereka tidak memberikan obat anestesi kepada pria itu, seolah sengaja agar Parlan merasa kesakitan dan tidak pernah melupakan kejadian hari ini. Zenon lantas menarik tangan Xena dan memeluk Xena seraya menahan tengkuk wanita itu supaya dia tidak bisa berbalik. Sebelum Xena bisa protes, Zenon sudah lebih dahulu berbisik. “Jangan melihat, tidak ada hal yang perlu kamu lihat.” Zenon mungkin sudah biasa melihat adegan penyiksaan atau pembunuhan seperti ini karena seringkali para hantu akan menceritakan proses kematian mereka dan memaksa Zenon untuk menonton berbagai macam film pembunuhan supaya pria itu mampu memproyeksikan cerita mereka dalam bentuk gambar. Karena itulah, Zenon sampai sudah tidak lagi merasa terkejut apabila melihat adegan kekerasan seperti sekarang. Namun, bagi Xena yang belum pernah mendengar cerita kekerasan secara nyata dan bahkan melihatnya secara langsung. Adegan penyiksaan Parlan akan membawa trauma ke dalam dirinya dan bisa saja membuat Xena merasa enggan untuk melakukan empati lagi. Dan tebakan Zenon tepat, karena teriakan Parlan yang memilukan sudah bisa membuat tubuh Xena gemetaran dan tidak berani menoleh sedikit pun. Meski tidak mengatakan apapun, tingkah laku Xena yang meremas pakaian Zenon sudah cukup membuktikan bahwa wanita itu meminta Zenon untuk tetap diam di tempatnya. “Kamu ingin berhenti?” tanya Zenon. Jika memang Xena tidak mau melanjutkan, maka dia juga tidak mau memaksa. Lagi pula, garis besar dari kisah masa lalu Parlan pun sudah bisa terlihat sehingga Zenon tahu hal apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Namun Xena menggeleng. “Tidak, aku ingin melihatnya sampai akhir.” Zenon, “Baiklah.” Lagi pula Zenon tidak keberatan jika Xena ingin memeluknya, setiap kali mereka harus berhadapan dengan situasi penuh darah. • • • • • To Be Continued 8 Oktober 2021
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD