01 The Long Lost Relative

660 Words
Siang hari yang terik, seorang gadis manis berkulit kuning langsat, tinggi, berambut coklat gelap sebahu, dan memiliki bola mata berwarna hazel itu berjalan pulang menuju rumahnya. Setengah hari ini ia disibukkan dengan kegiatan sebagai seorang mahasiswi di sebuah universitas negeri dikota Jakarta. Wajahnya terlihat letih, lelah, dan kusut. Gadis itu tampak sederhana. Hanya kaos oblong berwarna putih dengan jaket berwarna abu-abu, celana jeans yang sedikit ketat, sepatu kets senada dengan kaosnya yang membungkus tubuhnya. Tak ketinggalan pula sebuah tas punggung tergantung dipundaknya. Ia kemudian memasuki halaman rumahnya dengan langkah gontai. Namun, ia cukup heran saat melihat sebuah mobil yang terparkir dihalaman rumah sederhananya. Hal itu dikarenakan keluarganya tidak memiliki mobil. Tanpa banyak membuang waktu lagi, gadis bernama Gizca itu memasuki rumahnya seperti biasanya. Gayanya yang tomboy terlihat santai. "Mama, Gizca pulang," ujar gadis itu saat memasuki rumahnya.  Bersamaan dengan suara kedua orang tuanya yang menjawab salam tersebut, Gizca melihat beberapa orang asing di ruang tamu rumahnya.  "Mereka siapa, Ma, Pa?" tanya Gizca sambil berbisik pada mamanya. Mama dan papanya hanya terdiam menunduk tanpa bicara. Pandangan mereka terlihat kosong dan sayu. Gizca curiga dan penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun memberanikan diri bertanya pada tamu-tamu itu. "Maaf Kak, kalian siapa, ya? Kenapa Mama sama Papaku seperti itu?" tanya gadis itu pada tamu yang berjumlah dua orang tersebut.  Namun, keduanya tidak menunjukkan respon apapun dan terlihat tidak menanggapi ucapan gadis itu. Satu tamunya berperawakan tinggi dan atletis berusia sekitar dua puluhan akhir. Kulit eksotisnya terlihat kontras dengan kemeja putih rapi yang ia kenakan. Penampilannya terlihat semakin memukau dengan padanan celana denim dan sepatu kulit berwana abu kehitaman. Satu orang lainnya adalah seorang pemuda tampan yang sepertinya sebaya dengan pria sebelumnya. Ia memiliki kulit putih dengan sedikit bercak merah pada kulitnya, rambut coklat gelap, dan bola mata berwarna hazel yang memukau. Ia terlihat lebih santai dengan mengenakan celana jeans dengan aksen robek disana-sini yang dipadukan dengan t-shirt berwarna biru muda. "Kalian siapa?" tanya gadis bermata hazel itu lagi ketika pertanyaan sebelumnya tidak membuahkan jawaban dari ketiga orang dihadapannya. "Apakah kamu Gizca Angela Syarif?" sang lelaki muda itu balik bertanya dengan satu alis yang sedikit terangkat. "Ya," jawab gadis itu santai. "Kalian siapa?" "Kamu lahir pada 31 Desember 1999, benar?" tanya pemuda itu lagi. Gizca memutar bola matanya kesal ketika pertanyaannya kembali dibalas dengan pertanyaan lainnya. "Ya, itu aku. Kalian siapa dan apa mau kalian?" tanya Gizca kembali dengan nada yang lebih tidak bersahabat. Pemuda di hadapannya itu membalas dengan senyuman manis yang mampu menggetarkan hati siapa pun yang melihatnya. Sebuah lesung pipi didekat bibir kirinya terlihat semakin jelas saat ia tersenyum. "Aku Gio, Giovanni Stiller, Kakakmu," jelas pemuda yang mengaku sebagai kakak Gizca tersebut. "Apa? Kalian bercanda? Itu gak mungkin," sanggah Gizca dengan mata membulat sempurna karena tidak percaya. Setahu Gizca, ia adalah anak pertama di keluarganya. Papa dan mamanya juga tidak memiliki saudara lainnya yang bisa memungkinkan Gizca memiliki saudara sepupu atau sejenisnya. Belum lagi penampilan Gio yang mengaku sebagai kakaknya itu juga sangat jauh berbeda dengan keluarganya yang berperawakan sangat Indonesia dengan kulit sawo matang, rambut hitam legam, dan bola mata coklat gelap kehitaman. Jadi, ia pikir mana mungkin punya seorang kakak berperawakan bule seperti pemuda dihadapannya ini. "Tidak, Gizca, dia benar-benar kakak kamu. Kakak sepupu yang selama ini belum pernah kamu tau," Papa Gizca yang akhirnya menemukan kembali suaranya berusaha menjelaskan situasi ini pada anak gadisnya. "Apa maksud Papa? Aku cuma punya satu saudara, Pa? Dan itu cuma adek," racau Gizca tidak mau menyetujui ucapan papanya. "Maafkan Mama dan Papa, Gizca sayang. Sekarang sudah saatnya rahasia itu kami ungkapkan kebenarannya," tambah wanita paruh baya yang merupakan mama Gizca. "Rahasia? Rahasia apa, Ma, Pa? Kalian menyembunyikan apa dariku?" tanya Gizca dengan penuh perasaan. Kalau saja bisa terlihat, mungkin diatas kepala Gizca sudah penuh dengan tanda tanya yang mirip dengan kail pancing. Mama papa Gizca menghela nafas, Mereka terlihat tidak sanggup mengatakannya, dan akhirnya pemuda bernama Gio itu mulai angkat bicara. "Jadi, ceritanya seperti ini,-" ***** to be continued ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD