Mertua ..... Oh... mertua

1127 Words
Bagi Selena rasa cintanya kepada Prans tidak pernah pudar sekalipun dia belum bisa memberikan anak kepadanya. Pagi ini Selena kembali dihdapakan dengan sang mertua. "Selena,bagaimana kamu menjadi istri?"kata Ibu Prans lagi kesal. "Apalagi ibu?ini masih pagi."tukas Selena kesal. "Why?Cucian sudah menumpuk di dalam."Ujar Ibu Prans itu jengkel kepada Selena. "Selena hafus pergi sekarang ada janji dengan dokter Leon."kata Selena tegas menolak. "Dokter Leon?"kata Ibu Prans kesal. "Iya,ada apa? apa ibu keberatan? Anak ibu sajah tidak disini."kata Selena dengan nada kesal. "Kurang ajar kamu,berani kamu menyahutku."kata Ibu Prans dan menyeret Selena kedalam kamarnya. Selena tidak bisa melawan ibu mertuanya itu merasa sangat takut. Dikamar dia hanya bisa meringkuk dalam kasurnya. Semua hinaan dan cacian memang sering dia dapat. Selena tidak memiliki wajah secantik dulu karena berbagai tekanan dari ibu mertuanya sendiri. Selena menelepon Dokter Leon kenalannya. "Dokter,sepertinya hari ini saya tidak bisa kesana."kata Selena terbata-bata "Ada apa Selena?suaramu seperti orang ketakutan setengah mati."kata Dokter Leon resah. "Tidak bukan seperti itu aku cuman."kata Selena sedikit ketakutan. "Tenang sajah,pasti aku akan membantumu Selena percaya kepadaku."kata Dokter Leon meyakinkan. "Jika begitu dapatkah kamu datang kerumahku sekarang."kata Selena dengan nada sedikit paniknya. "Bisa, kirimkan alamat rumahmu padaku."kata Dokter leon dengan nada tegasnya. "Baik, tutup dulu teleponnya."kata Selena dengan nada khawatir dan was-was sambil melirik ke arah pintu. Message jl.Rawakucing no 145,jakarta barat. Rumah dengan Tembok warna kuning. send: Dokter Leon Terkirim Selena kembali bernafas lega karena ini semua memang harus dia lakukan demi bisa lepas dari mertuanya. Selena merasa beruntung dokter Leon ternyata bisa diandalkan. Setelah itu Selena hanya mengegik beberapa pesan untuk beberapa orderan toko online sedang dia jalankan saat ini. Selena mempunyai toko online dibantu temannya Merry. Teman semasa sekolah bersedia menjadi kaki tangannya. Sebenarnya uang dari Prans akhir-akhir ini tidak cukup.untuk biaya hidupnya. Untungnya dia mempunyai usaha sampingan tidak diketahui oleh Prans. Merry tiba-tiba menelepon Selena. "Selena,kamu bisa kesini besok?"kata Merry khawatir. "Sudah pasti bisa,aku akan membuat ibu Prans tertidur."kata Selena tersenyum licik. "Akh,kamu pasti dikasih jampe-jampe sampai menikah dengan Prans itu."kata Merry setengah menggoda temannya itu. "Cinta itu buta sayang, t** juga rasa cokelat."kata Selena dengan nada menyesalnya. "Menikah jangan buru-buru. Lihat sekarang mertuamu sajah bagi hantu."kata Merry menggoda. "Astaga,aku hampir lupa Dokter Leon akan segera tiba."kata Selena menepuk jidatnya sendiri. "Kamu harus berakting lemah. Selena agar kamu bisa lolos."kata Merry mengusulkan ide. "Oooh yeah, aku memang lemah itu dulu. Akan aku tunjukkan siapa Selena."kata Selena bangga. "You are my girl,jangan lupa besok. Ketemu penjahit baru itu."kata Merry dan menutup teleponnya. Setelah itu Selena mandi dan segera merapihkan dirinya kembali setelah perbuatan ibu Prans tadi pagi. Dia merias tipis wajahnya. Lalu memasukkan dimpet kedalam tasnya serta hpnya itu bagian penting. Tiba-tiba pintu dibuka oleh ibu Prans dan menyuruhnya keluar dari kamarnya sendiri. "Hebat kamu,Selena. Sampai Dokter a sajah bisa datang kerumah?"kata Ibu Prans mengejek. "Hem,karena ibu tidak percaya kepadaku sehingga aku memanggilnya kesini."kata Selena dengan nada kesalnya. "Memang kamu harus kedokter segala hanya untuk punya anak?"kata Ibu Prans kesal. "Kamu sendiri yang bilang bahwa saya mandul.Tapi anak ibu sendiri sajah tidak mau pulang dan menemui dokter."kata Selena mendecih. "Baik,silahkan temui dokter itu dan saya menelepon Prans untuk konsulatasi. Prans pasti tidak.mandul seperti kamu bilang. Anak saya subur."kata Ibu Prans dengan nada marah. "Mari kita buktikan,siapa takut."kata Selena dengan nada menantang. Selena berjalan dengan langkah kaki pasti siang itu tanpa menengok kebelakang. Menjadikan dirinya wanita yang kuat dan tidak akan menyerah terhadap semuanya. ************* Sementara itu dokter Leon cukup terkejut dengan alamat rumah itu. Tersenyum penuh arti dia lalu memgambil kunci mobil dan membuka jubah kerjanya. Dokter Leon segera menuju ke Ruang Resepsionist depan sekalian absent dan memberitahu Suster Maria dia akan keluar. "Suster Maria, tolong bilang Dr Rinjani untuk gantikan aku. Aku ada urusan dan akan kembali jam 6 sore nanti."kata Dokter Leon sambil menaruh kertas kerja tadi sudah ditanda tangani. "Baik,dokter. Semoga cepat selesai urusannya."kata Suster Maria dengan sopan. "Yah,terimakasih."kata Dokter Leon pergi meninggalkan tempat itu. Leon Mulyanto adalah dokter muda sukses kebanggaan kakeknya. berusia kurang lebih 28tahun. Lulusan universitas ternama di Jakarta. Sarjana Hukum dan Dokter. Leon sangat suka membantu orang lain daei kecil dia sangat disukai kakeknya namun dimusuhi ayahnya. Leon kecil hanya tinggal dengan kakeknya. Awalnya Leon tidak ingin pindah kerumah kakeknya peristiwa itu membuatnya tinggal bersama kakeknya. Sang kakek memberikan semua harta kepada Leon untuk diolah. Kakek Leon meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit. Namun Leon tidak bisa menerima perkataan ayahnya yang selalu sangat merendahkan dirinya. Bahkan menyumpahi ayahnya sendiri-kakeknya. Kembali ke kehidupannya yang sekarang. Leon telah belajar dari sebuah anak buangan menjadi pemuda sukes dan banyak ditaksir wanita. Namun tidak ada seorang wanita menggunggah hatinya. Membelah langit siang Jakarta Leon segera hampir memcapai rumah Selena. Rumah tidak pernah berubah dengan model sama seperti dulu hanya dicat ulang dan diganti ornamen lampunya. Sesampainya di gerbang rumah itu satpam rumah bernama pak Juman segera menghampiri Leon. "Selamat siang,pak. Ada yang bisa saya bantu?"kata Pak Juman ramah. "Begini,pak. Saya ingin bertemu ibu Selena dan sudah membuat janji. Bisa tolong bukakan pintunya, saya dokter leon?"kata Dokter Leon ramah. "Sebentar yah,pak."kata Pak Juman dengan nada ramah. Pak Juman segera menghubungi Ibu Prans untuk mengkonfirmasi hal ini. "Halo,ibu maaf. Selamat siang. Ada tamu untuk Nyonya Selena. Sepertinya dia dokter."kata Pak Juman dengan nada datar. "Apa ada orang bertemu Selena,dokter?"kata ibu Prans sedikit terkejut. "Iya,bu. orangnya ada didepan pintu."kata Pak Juman menjelaskan. "Yahsudah,persilahkan dia masuk."kata Ibu Prans bertitah. "Baik,bu."kata Pak Juman dengan nada hormat. Setelah menutup teleponnya Pak Juman menghampiri Dokter Leon lagi. Dengan hati-hati dia kemudian bertanya. "Pak,kata Nyonya besar. Bapak boleh masuk."kata Pak Juman dengan nada datar. "Nyonya besar?siapakah itu?saya hanya kenal dengan Ibu Selena."kata Dokter Leon dengan sedikit Dusta. "Ehem,ituloh ibunya yang punya rumah ini,pak."kata Pak Juman menjelaskan denga. detail. "Oalah,terimakasih. Akan saya ingat."kata Dokter Leon tersenyum ramah. "Mari Silahkan,pak."kata Pak Juman mempersilahkan mobil Dokter Leon memasuki halaman rumah. Leon memasuki halaman rumah itu dengan mobilnya. Memasuki ruang tamu setelah Bibi Eman membuka pintu dan menyuruhnya duduk diruang tamu. Tidak lama Selena keluar dari belakang,diikuti Ibu prans. Sedikit kaget terlihat wajah yanh tidak terlalu asing untuknya. "Halo,perkenalkan saya dokter Leon. Senang bertemu anda."kata Dokter Leon ramah. "Halo,saya ibu mertua Selena."kata Ibu Prans ramah. "Maaf, saya dengar Selena tidak diperbolehkan untuk pemeriksaan?"kata Dokter Leon dengan nada menyelidik. "Hem, itu sebenaenya begini,dok. Saya mau anak saya juga ikut."kata Ibu Prans berdalih. "Tapi saya dengar juga anak anda menolak pemeriksaan."kata Dokter leon lagi. "Bukan seperti itu,Dok. Jangan salahpaham."kata Ibu Prans membela diri. "Begini,dokter bukan saya mencela. Bukankah lebih baik kita segera pergi. Suami saya memang seperrinya sibuk jadi dia akan menyusul. Bukan begitu Ibu "kata Selena seraya menyenggol lengan ibu mertuanya. "iiii,ya dokter seperti itu."kata Ibu Prans menyanggah. "Hem,baiklah,mohon maaf saya terlalu jauh menanyaimu Nyonya.Sepertinya Selena akan pulang agak terlambat."kata Dokter Leon dengan nada tegasnya. "Owh, Tidak apa-apa."kata Ibu Prans mengerti. "Ibu,aku pergi dulu."kata Selena sambil tersenyum.penuh kemenangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD