Sepuluh

2267 Words
Tidak mengingat bukan berarti melupakan. Hanya saja, kita butuh waktu untuk mencari kesenangan lain, agar tidak terus berlarut dalam masa lalu kelam yang akan mengganggu proses kehidupan di masa depan. Yang telah terjadi, bukan untuk disesali. Melainkan untuk dikenang dalam hati. Menjadi sejarah di masa yang akan datang. Naila merentangkan kedua tangan, udara sejuk dan sinar mentari menyambutnya dengan permai. Dipejamkannya mata, menghirup udara pagi yang menyergap halus di wajah. Semua telah berlalu. Jangan biarkan kesedihan terus mengganggu segala aktifitas kita. Dunia masih luas, masih banyak hal yang perlu kita jelajahi lebih dalam. Satu tahun berlalu, Naila telah siap berkelana lagi. "Ayaaaah Naila berangkat dulu!!" Itulah kalimat yang selalu Naila serukan di pagi hari. Dengan sepeda sederhananya, Naila terus berkeliling di kota Jakarta untuk mencari pekerjaan. Ia tak ingin membebani ayahnya. Berhenti kuliah dan mencari pekerjaan adalah pilihan terbaik. Naila mengerem sepedanya, melihat ada seorang nenek-nenek yang kesulitan menyeberangi jalan raya. Gadis itu segera menepikan sepeda di pinggir jalan, turun dari sepeda dan menghampiri nenek berambut putih itu. "Nenek mau nyebrang, ya?" Si nenek menoleh lalu mengangguk. "Biar Naila bantu ya, Nek. Emang sih Naila juga suka kesusahan kalau nyebrang di jalan besar kayak gini. Hehe. Ya udah pegang tangan saya, Nek." Naila mulai mengalihkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Di jam segini, jalan selalu ramai dipadati kendaraan. Baik yang berangkat ke sekolah, pergi bekerja, dan pergi ke kantor. Jalan ini tak akan pernah berhenti dilalui mobil atau motor. Perlu keahlian dan kehati-hatian penuh dalam menyeberang. Pertama, gunakan tangan untuk memberi kode agar kendaraan mau memberikan waktu. Dengan serius, Naila membantu nenek tua di sebelahnya. Dan akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. "Makasih, ya, Nak," kata si Nenek ramah. "Sama-sama, Nek." Naila memberikan senyum manisnya. Seiring dengan berjalannya waktu, Naila berubah menjadi perempuan yang lebih dewasa. Lebih peka terhadap keadaan. Tetap terlihat ceria di mana pun, kapan pun, dan dalam hal apa pun. Tak pernah sekalipun memasang wajah cemberut di depan orang-orang. Beberapa kali ditolak oleh manager perusahaan, tak membuatnya putus semangat. Naila selalu membalas dengan anggukan dan senyuman, menerima keputusan. Yang ada dalam pikirannya, lowongan kerjaan itu masih banyak. Bejibun. Bukan hanya satu atau dua. Pernah sekali Naila diterima kerja oleh sebuah perusahaan. Sebagai urutan paling bawah; cleaning service. Tapi baru beberapa minggu bekerja, Naila malah dipecat. Dengan alasan yang sangat konyol dan sangat disayangkan. Naila tidak sengaja menjatuhkan secangkir kopi di jas sang manager perusahaan. Naila yang kelabakan, cepat-cepat membersihkan jas atasannya itu. Perempuan jangkung datang menghampiri. Menduga kalau Naila dan atasannya itu sedang menjalin pendekatan. "Hey. Kamu lagi ngapain sama cleaning service ini?" suara anggun itu menyapa ramah, tapi terdengar tak bersahabat. Naila mendongkakkan kepala, menghentikan aksinya. "Aku udah sering banget kamu liatin cewek ini. Pokoknya kamu harus pecat dia." Telunjuknya mengarah ke wajah Naila yang bengong. Naila segera mengerjap. "Apa, Mbak? Saya dipecat?" "Iya." "Jangan dong, Mbak. Saya butuh uang. Saya cuma bersihin jas bapak yang nggak sengaja ketumpahin kopi waktu saya lewat. Saya nggak bermaksud apa-apa, kok." Naila membela dirinya. Sesuai dengan realita. Suaranya penuh kejujuran. "Jangan bohong kamu." "Saya nggak pernah bohong. Bohong itu dosa, Mbak." "Pakek bawa dosa segala lagi." Cewek itu mendelik dan menyibakkan poninya. Ekspresi Naila berubah masam, ia menggigit bibir bawahnya. Orang yang berada di urutan paling bawah selalu disalahkan. "Kalau kamu nggak pecat dia..., kita putus," perempuan berperawakan elegan itu melanjutkan. Pak Vito selaku manager itu meneguk air liurnya. Naila beralih menatap atasannya dengan kernyitan di kening. "Kenapa? Kamu nggak mau? Kamu suka sama dia?" Naila melotot. Pak Vito memebelalakan mata. Bagai kucing yang sedang enak-enak tidur, tiba-tiba diguyur air dingin. "Mbaaak. Jangan ngomong yang aneh-aneh, deh." Naila kebingungan. "Ya udah cepetan putusin. Mau akhirin hubungan kita atau pecat dia?" perempuan itu mengulangi pertanyaan yang membuat Pak Vito ambigu. Melihat gelagat pacarnya, cewek itu yakin kalau Vito memang menyukai cleaning service di depannya ini. Sejak dia masuk sampai sekarang. "Mbak percaya sama saya. Pak Vito nggak mungkin suka sama saya, saya itu janda. Emang janda kayak saya ada yang mau?" Pak Vito yang baru mengetahui hal itu langsung tergemap. "Saya janda anak sepuluh. Itu sebabnya saya cari kerja, buat nafkahin anak-anak saya. Suami saya udah nggak ada." Pak Vito kembali terbeliak dengan kilahan yang diucapkan Naila. 'Oooh jadi cowok ini suka sama aku? Pantesan kalau lewat dia suka senyum-senyum nggak jelas. Emang enak, syukurin.' Naila manggut-manggut. 'Mungkin ini alasan kenapa dia terima aku kerja di sini. Oke mending aku keluar aja, daripada ngerusak hubungan mereka.' Setiap kali ada cowok yang menaksir Naila, atau diam-diam menyukainya, Naila selalu mengeluarkan jurus andalannya. Entah laki-laki tajir apalagi laki-laki ecek-ecek, semuanya sama di mata Naila. Berkata kepada mereka kalau dirinya adalah seorang janda yang memiliki banyak anak. Sesuai ekspetasi, tanpa disuruh, mereka akan mundur duluan. Sangat menyenangkan bukan? Di sana Naila bisa tahu mana yang tulus dan mana yang tidak. Dan yang paling utama untuk sekarang, Naila tak akan pernah mau membuka hatinya untuk pria mana pun. Ia akan lebih mementingkan karir dibandingkan cinta. Aksa akan menjadi nama yang terpatri kekal dalam hatinya. Ia tak akan pernah tergantikan. Sambil mencari pekerjaan, Naila selalu membantu orang-orang yang kesulitan menyeberang. Memberikan uang tak seberapa namun dengan hati sangat tulus kepada para pengemis. Ikut bernyanyi dengan para anak jalanan yang mengamen. Memberikan semangat kepada mereka agar jangan pernah patah semangat untuk mencapai cita-cita. Sesederhana itukah kebahagiaannya. Menjadi alasan mereka tersenyum, Naila sangat menyukai itu. Kadang Naila ingat dengan calon anaknya, kalau dulu ia tidak keguguran, pasti sekarang Aksa junior sudah berumur 4 empat bulan. Dia akan menemani mamanya ini. Sesuai niat, hari ini Naila akan mengunjungi makam Aksa untuk menengok. Ada banyak hal yang ia ingin ia ceritakan kepadanya selain do'a. Naila memarkirkan sepedanya di luar gerbang pemakaman. Bertemu dengan Pak Eko yang bertahun-tahun bekerja di sini sebagai tukang sapu, lalu tersenyum dan saling menyapa. Karena Naila yang sering mengunjungi makam ini setiap sebulan dua kali, membuatnya kenal dengan Pak Eko. Kadang Naila bercerita tentang Aksa kepadanya. Pak Eko selalu memberikan nasihat dan pesan. Dia sangat ramah menyambut kedatangan orang-orang yang datang untuk berziarah. Naila jongkok di samping makam Aksa, memulai pembicaraan dengan senyuman. Makam Aksa sudah memakai keramik, rumput-rumput tumbuh di atas tanah datarnya. "Halo Aksa. Aku baik-baik aja." Naila berkata seolah Aksa sedang bertanya. "Nggak kerasa, ya. Udah satu tahun kamu ninggalin aku. Udah satu tahun juga aku kehilangan kamu. Tapi itu semua nggak akan ngebuat aku putus asa. Hari ini aku mau cerita banyak." Naila memainkan rumput yang berada di atas makam Aksa, menyesal karena lupa membawakan karangan bunga. "Nggak pa-pa kan kalau aku bohong? Aku bilang ke mereka kalau aku ini janda beranak 10. Kamu nggak akan marah kan kalau aku bohong? Lagipula, emang bener kan aku ini janda." Naila tertawa, seperti dia benar-benar sedang bercerita dengan Aksa. "Dan yang bikin aku ketawa itu, mereka langsung percaya dan langsung ninggalin aku. Nggak ada perjuangan banget kan, Aksa? Cowok apaan itu?" Naila tersenyum lagi. Selama setahun ini, dia belum menemukan laki-laki seperti Aksa. Entah sampai kapan Naila akan menjalani hari-harinya sendirian, tanpa ada pendamping. Naila serahkan semuanya kepada Tuhan. "Menurut aku, di dunia ini, nggak ada yang kayak kamu. Kamu itu satu Aksa, nggak ada yang nandingin. Aku seneng pernah kenal sama kamu, pacaran sama kamu, dan nikah sama kamu. Aku nggak nyesel, kok meskipun pada akhirnya kamu ninggalin aku." Naila selipkan sejumput rambutnya ke belakang telinga. Naila yang keasyikan mengobrol, tidak menyadari dengan kedatangan Angga di belakang. Lalaki itu tampak tersenyum-senyum melihat dan mendengar Naila yang sangat bawel di depan makam Aksa. Angga sangat bersyukur, Naila bisa melewati semuanya dengan sangat baik. Dia adalah perempuan paling kuat yang pernah Angga temui. Dia mampu menarik hatinya, mengatakan kepada dunia ini, kalau ia telah menemukan perempuan idaman. Walaupun perempuan itu adalah bekas istri adiknya sendiri. "Naila." Naila berhenti bicara, ditolehnya kepala ke belakang. Ia melihat laki-laki yang berdiri sambil tersenyum ke arahnya. "Kak Angga?" "Kebetulan banget." Naila tertawa seraya berdiri. "Wajar sih, Kak. Ini kan hari satu tahun kepergian Aksa. Udah kewajiban kita buat ziarah." "Kamu semangat gitu curhat di depan makam Aksa." Angga nyengir. Sejujurnya dia sangat mengagumi Naila. Sekarang Naila suka lebih banyak bercerita ketimbang menangis. Sosok wanita idaman. Wanita penyabar dan selalu tebar senyuman. "Ya abisnya. Aku curhat ke siapa lagi? Kalau aku curhat ke Aksa, dia nggak bakal ngebeberin rahasia aku ke orang lain. Cukup aku, Aksa, dan Tuhan yang tau." Naila menunjuk langit berawan biru. Angga mengangguk-anggukan kepala. Di tangannya, ada karangan bunga yang sangat cantik. Angga melangkah, menyimpan bunga itu di atas makam Aksa. Tersenyum sesaat. "Bagus bunganya, Kak," komentar Naila kembali memandang makam Aksa yang kini terlihat lebih indah. "Aksa beruntung ya, punya Kakak yang baik dan perhatian. Sering nyimpen bunga di makamnya." "Kamu mau?" "Eeeh nggak-lah." "Nggak pa-pa, biar nanti kakak beliin." "Nggak usah, Kak." "Hmmm oke kalau kamu nolak. Tapi gantinya, kamu harus nemenin kakak makan siang." Angga memilih permintaan lain, ia yakin Naila tak akan bisa menolak. "Emmmm..., boleh." Naila mengangguk setuju. Tak ada alasan untuk tidak menolak ajakan kak Angga. Dia terlalu baik. Angga tersenyum. "Kamu nggak ada niatan buat kerja di kantor Papa?" pertanyaan itu berlanjut ketika mereka sudah berada di sebuah restoran, tak jauh dari pemakaman tadi. Bahkan Angga dan Naila sudah menyantap makanan pesanan mereka. Restoran ini lumayan ramai, mengingat ini adalah jam istirahat para pekerja kantoran. "Nggak ah, Kak. Aku tau, Mama Belinda nggak bakal suka aku ada di sana. Lagian, udah berapa kali sih kak Angga nanyain itu ke aku?" Naila sedikit terkekeh. Sibuk dengan sendok garpu di tangannya. Angga ikut tertawa menyadari kebodohannya. Naila tidak mengerti, sebenarnya itu untuk sekadar basa-basi saja. Karena Angga bingung harus memulai percakapan dari mana. "Makasih ya, Kak. Selama ini Kakak udah mau jadi temen aku. Mau nemein aku, mau bantu aku buat ngelupain semua kesedihan aku. Aku berhutang budi banget, nih." Naila memasukkan sesendok makanan ke dalam mulutnya. "Kalau Mama Belinda tau kita sering ketemu, bisa gawat, Kak." "Kamu tenang aja, Mama nggak bakalan tau, kok." "Omong-omong, Kakak belum punya niatan buat menikah? Kasian kan Mama Belinda, dia itu butuh cucu. Masa Kakak masih belum nemuin yang cocok, sih?" "Emang belum ada, Naila. Zaman sekarang susah banget cari perempuan yang tulus." "Ooh jadi kakak ini sekarang lagi ngejelek-jelekin perempuan, nih? Inget loh, kak. Di depan kakak ini ada cewek." Naila tersenyum hingga matanya mengecil. "Emang kakak penginnya cewek kayak gimana?" "Kayak kamu." Naila tertegun, aktifitas makannya terhenti. "Kayak kamu. Yang baik, asik, dan nyenengin. Kakak yakin, semua cowok nyaman sama kamu." "Maksud Kakak?" "Kamu juga, nggak ada niatan buat buka hati kamu untuk orang lain?" Percakapan kali ini lebih sedikit canggung. "Kamu nggak mau buka lembaran baru? Ngejalanin hubungan sama cowok lain? Kamu..., masih setia sama Aksa?" Bukan ini percakapan yang Naila inginkan. Tidak seharusnya kak Angga menanyainya tentang hal itu. Dia sering berkata demikian, dan Naila selalu menjawab dengan jawaban yang sama pula; tidak. "Oh... Gimana? Kamu udah dapet kerjaan?" Angga segera mengalihkan topik pembicaraan setelah melihat Naila berubah mimik. "Belum, Kak." Naila menenggak air putih. Apa Naila yang terlalu kege'eran? Apa dia yang terlalu ketakutan? Kalau sebenarnya..., kakak Aksa ini mencintainya lebih dari sekadar adik ipar. Angga selalu menyempatkan waktu untuk datang ke rumah, membawa buah tangan untuk Naila dan ayahnya. Angga selalu mengajak Naila jalan-jalan, menemaninya berkeliling kota Jakarta sambil bermain. Bersepeda, makan ketoprak di pinggir jalan, makan es campur, dan nongkrong di Alun-Alun. Tak pernah sekali pun dia melewati pertanyaan; 'Apa kamu nggak ada niat buka hati kamu buat cowok lain?' Cara Angga menatap Naila, cara dia memperlakukan Naila, cara dia berbicara, sudah seperti laki-laki yang sangat menyayangi perempuannya. Naila berharap, kalau hipotesisnya salah. Angga melakukan itu semua hanya sebatas kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Pernah sekali, Angga memberikan hadiah yang sangat spesial. Kalung berlian berharga mahal. Tapi dengan berat hati, Naila menolak secara halus. Mendorong kembali hadiah istimewa dari Angga itu. "Maaf, Kak. Aku nggak bisa terima itu. Lebih baik kakak kasihin aja benda itu ke Mama Belinda. Aku, udah pakai kalung pemberian almarhum Aksa..." Naila tertunduk, meraih kalung perak berinisial 'N' di dadanya. Sampai kapan pun, ia tak akan pernah melepasnya. Benda ini adalah satu-satunya barang berharga pemberian Aksa. Naila bersumpah tak akan melepasnya. Angga tersenyum. "Nggak pa-pa Naila. Kakak nggak tau kalau kamu udah pakai kalung. Harusnya kakak beliin hadiah lain, ya." "Sekali lagi Naila minta maaf." "Kakak boleh minta sesuatu? Sebagai ganti kamu udah nolak kalung ini." "Iya apa, Kak? Pasti aku kabulin, kok." Ini akan mengurangi rasa bersalahnya. "Mulai sekarang kamu nggak usah manggil aku pakek sebutan 'Kakak' Panggil Angga, atau kamu doang. Gimana?" Naila terdiam. Bagaimana pun umur Angga lebih tua darinya. Ia tidak bisa melakukan itu. Akhir-akhir ini, bertemu dengan Angga, selalu membuatnya canggung. "Maaf kak untuk itu aku juga nggak bisa. Nggak sopan kalau manggil orang yang lebih tua dari kita pakai nama, nggak pake embel-embel 'Kak'." Angga hanya menganggukkan kepala. Mengerti. Nilai poin dari kak Angga di mata Naila. Dia itu sosok yang pengertian. Selalu mengalah dan tidak pernah neko-neko. Tidak pernah memaksa kehendak. Tidak egois. Naila melambaikan tangan sembari memapah sepedanya, meninggalkan Angga yang masih berdiri di depan pemakaman. Setelah lumayan jauh, Naila kembali naik ke atas sepeda, mengayuhnya dengan santai. Sementara Angga masuk kembali ke area pemakaman. Naila selalu diam jika ditanya tentang hatinya. Namun Angga akan selalu bersabar. Ia berjanji akan selalu membuat Naila bahagia. "Maafin gue ya udah jatuh cinta sama istri lo. Tapi mau gimana lagi? Gue juga nggak tau kenapa bisa langsung suka. Sekarang gue ngerti kenapa lo dulu kepengin ngebet nikah sama Naila, gue ngerti banget. Dia perempuan yang sempurna. Senyumnya manis, ya walaupun sosok bawelnya berkurang, nggak sebawel dulu. Wajar, setahun yang lalu dia udah ngalamin kejadian pahit. Kehilangan elo, lelaki yang paling dia sayang. Kalau dia mau, gue janji bakal bahagiain dia lebih dari ini. Tapi kayaknya, hatinya masih utuh untuk elo Aksa. Rasanya susah untuk nerobos hatinya. Dia kayak udah nutup hati banget. Kalau suatu saat nanti gue berhasil ngambil hati Naila, lo juga ikut seneng, kan? Lo pasti kepengin liat dia hidup bahagia. Gue bosen disuruh nikah mulu sama nyokap." Angga merenung sejenak. Berharap kata-katanya akan sampai ke telinga Aksa. Pemakaman itu sangat lengang, sepoi angin menerpa wajah Angga. Daun-daun kering beterbangan rendah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD