Reira memasuki rumahnya dengan santai. Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menyiapkan makanan di meja makan. Reira tersenyum lalu memeluk wanita itu dari belakang.
Wanita itu terkejut saat ada yang memeluknya dari belakang, karena ia sedang memegang centong dipukul-lah kepala Reira hingga dia meringis kesakitan.
"Sakit Mih, " keluh Reira mengusap-usap kepalanya.
"Loh loh loh! Itu kamu Rara, Mami kira tadi papi kamu," ucap Missha--ibu angkat Reira.
Reira mendengkus. "Kalau itu papi, Mami mau mukul emang?" tanya Reira pada Missha.
Missha mengusap rambut Reira lembut. Reira merasakan kalau Missha itu sangat tulus menyayanginya. Ia sangat beruntung sekali, memiliki keluarga yang mau menerimanya dengan penuh kasih sayang.
"Duduk makan dulu."
"Tapi Mih. Rara mau ganti baju dulu," sela Reira.
"Nanti aja ganti bajunya!" cegah Missha saat Reira mau berdiri.
Reira tidak bisa menolak lagi, ia hanya bisa duduk pasrah. Kalau saja ia menolak lagi, sudah dipastikan Missha akan marah padanya. Missha mengambilkan nasi, telur balado, ayam goreng dan sambal kentang ati. Reira melongo dengan mulut terbuka.
Hap
Missha memasukkan satu sendok nasi ke mulut Reira yang sejak tadi terbuka.
"Maumih mauh-"
"Habisin dulu di mulut kamu baru ngomong," kata Missha sambil terkekeh.
Reira menelan nasi yang sudah ia kuncah setelah itu mengambil gelas berisikan air putih lalu meminumnya. Reira menatap tajam sang ibu. "Mami mau buat Rara gendut ya!" tuduh Reira yang disambut tawa dari sang adik. Reira memutar kedua bola matanya malas. Dia Leona, adik angkatnya. Reira menganggap Leona seperti adik kandungnya sendiri.
"Kakak Rara 'kan udah gendut," ledek Leona seraya duduk di samping Missha.
"Kamu gak rabun 'kan Ona?" tanya Missha pada Leona, "badan dia itu kayak triplek masa dibilang gendut.
Reira melotot tak terima, bodinya bagus, berat badannya pun normal apanya yang kayak triplek? Ia menatap Leona. Gadis itu sedang tertawa terbahak-bahak melihat kakaknya cemberut saja tak terima.
"Heh! Asal kalian tau! Rara ini pernah ditawari jadi model," ucap Reira membanggakan diri.
"Model? Kamu kan mau jadi guru Fisika kenapa tiba-tiba mau jadi model," kata Missha sambil menyuapi Leona.
"Mami jangan banyak-banyak ih! Nanti Ona gendut lagi," ucap Leona kesal.
"Siapa bilang Rara mau jadi model? Rara cuma ditawari dan langsung ditolak sama Rara."
"Iya ... iya anak mami yang pengen jadi yang Guru Fisika."
OoO
Reira menutup buku pelajaran dengan kasar. Ia sangat mengantuk tapi-apa boleh buat, ia belum selesai mempelajari bab Fisika yang akan diujikan besok. Beberapa kali Reira menguap, ia memejamkan matanya sejenak lalu lanjut membuka lembar halaman berikutnya.
Reira sebenarnya sudah siap untuk ulangan besok, tapi-- tetap saja ada perasaan ragu di hatinya. Detik ke detik, menit ke menit hingga jarum jam menunjukkan ke angka 11. Matanya mulai sayup hingga akhirnya ia tertidur dengan pulpen yang masih digenggam tangannya.
OoO
Reira terbangun dari tidurnya. Tidurnya nyenyak sekali malam ini. Ia bangun dengan mata yang masih setengah terbuka, walau begitu Reira sudah tahu kalau ia sekarang berada di alam mimpi.
Kenapa Reira menyebut bahwa ini adalah mimpi, karena kamar ini sama persis dengan apa yang ia mimpikan. "Mimpi apa lagi ini!" gerutu Reira pelan.
Krekek
Pintu terbuka menampilkan seorang wanita cantik sedang tersenyum ke arah Reira. Reira bingung, siapa wanita ini? Kenapa tatapan dia seperti mengatakan kalau dia kenal Reira.
Wanita itu duduk di ujung kasur tepatnya di samping Reira berada. Wanita itu mengelus rambutnya lembut sedangkan Reira hanya diam menatap lurus ke depan tidak menoleh sedikit pun ke arah wanita itu.
"Raira," panggil wanita itu lembut.
Reira menoleh kenapa! Kenapa mereka memanggilnya Raira, ia bukan Raira tapi dia adalah Reira. "Kau siapa! Aku ada di mana?" tanya Reira ketus.
"Aku kakakmu sayang, ini rumah kita. Rumah keluarga kita," jelas wanita itu.
Reira menggeleng. "Gak! Gak mungkin! Keluargaku itu mamih sama papih. Aku gak punya kakak aku punyanya Leona!"
Wanita itu mengusap punggung Reira. "Sayang ini keluargamu, kamu baru saja sadar dari koma. Sekarang Amnesia sayang jadi kamu gak ingat apa pun."
"Ini mimpi! Ini cuma mimpi! Aku mau Mami Aku mau papi sama Ona!" Reira menepuk-nepuk pipinya.
Sakit. Ia kesakitan saat tangan mungilnya menepuk keras pipinya. Ini tidak mungkin nyata! Ia yakin ini pasti mimpi. Wanita itu memegang tangan Reira yang tak henti-henti menyakiti dirinya sendiri, mata wanita itu berkaca-kaca tak tahan melihat adik kesayangannya kesakitan.
"Tolong hentikan Ara, kakak gak mau liat kamu kesakitan."
"TAPI INI CUMA MIMPI!!" teriak Reira
Plak
Bukan. Tamparan itu bukan berasal dari wanita yang mengaku sebagai kakaknya, tapi--
Reira melihat siapa yang menamparnya, ternyata seorang pria berambut hitam sedikit pirang dengan jas berwarna hitam menempel manis di tubuhnya. Tangan Reira berkeringat dingin, ia takut, benar-benar takut. Tatapan pria itu membuatnya takut.
"Kenapa? Kenapa kau berani sekali meninggikan suaramu di hadapan kakakmu ini," ucap Pria itu dingin. Reira mengusap-usap pipi yang memerah akibat tamparan keras dari pria itu.
"Apakah kau masih beranggapan kalau ini semua mimpi!! Huh!!"
"Ini mimpi hiks...."
Saat pria itu ingin menampar Reira lagi wanita itu menghalangi tubuh Reira, pria itu mengepalkan tangannya lalu menendang dinding yang ada di sampingnya.
"Deva, jangan! Aku mohon jangan! Jangan menyakitinya lagi Kak hiks...."
Terlihat pria itu menghembuskan nafasnya kasar. "Aksyara jangan menangis."
"Kau sebaiknya turuti semua apa mau mereka, ini hanya mimpi dia bukan keluarga mu dan mimpi adalah bunga tidur,"batin Reira.
"Sekarang kamu ikut kakak," ajak pria itu pada Reira.
"Devano," panggil wanita bernama Aksyara itu dengan memelas, "jangan sakiti adikku."
Lelaki itu menggeleng. "Dia juga adikku Aksya," ucap Deva tajam seraya menarik lengan Reira keluar dari kamar.
Di sinilah dia, di ruangan keluarga. Sudah ada dua lelaki yang mungkin menunggu kedatangannya. Pikiran negatif muncul di pikirannya, apakah lelaki ini yang mengaku sebagai kakak akan menjualnya dan-- apakah dua lelaki yang ada di hadapannya ini adalah pembelinya.
Menjijikkan
Reira menatap tak suka pada 2 orang lelaki itu. Tak lama kemudian, Aksya datang dan duduk di samping Reira.
"Kenapa? kau tak suka padaku? Tenang saja aku tak akan membelimu."
Shit! Kenapa lelaki itu bisa tahu jalan pikirnya, Reira mengumpat dalam hati semua binatang yang ada di kebun binatang ia sebutkan satu persatu.
"Dengan menyebut nama hewan kau tidak bisa kabur dari sini."
Again?
Lagi, lagi dan lagi kenapa dia bisa membaca pikirannya. Ia menenangkan pikirannya, tidak ingin lelaki yang ada di hadapannya membaca pikirannya lagi.
"Baiklah kita mulai," ucap Lelaki yang bernama Devano.
"Karena kau Amnesia, kita harus mengulangnya bukan? Kita akan mengenalkan semua nya padamu dimulai dari adab, sopan-santun, aturan yang ada di rumah ini dan yang lainnya. Untuk itu kami ingin memperkenalkan diri kami dulu and see kamu mungkin lupa dengan kami," jelas Deva.
"Nama kamu adalah Raira Bhatia Cowdree, dua minggu yang lalu kamu mengalami kecelakaan dan menyebabkan kamu koma. Nama kakak Deva, Devano Bhatia Cowdree, kakak tertuamu dan di sebelahmu ada Aksya, Aksyara Bhatia Cowdree dia kakak kedua setelah saya tentunya, dia juga kembaran saya. Yang ada di hadapanmu," Deva menunjukan lelaki berkemeja putih. "Dia adalah Dion, nama lengkapnya Gardion Bhatia Cowdre dia kakak ketiga kamu dan yang terakhir--"ucap Deva menggantung ketika melihat orang yang menunggu di perkenalkan olehnya, Deva sudah muak melihat mata berbinar orang itu.
"Kak--," lirih lelaki itu, seolah meminta agar dia memperkenalkannya pada Reira.
"Dia Rey, Reysert Bhatia Cowdree kakak keempat kamu Ara."
"Hai my Little sister,"ucap Rey dengan hangatnya.