3. Aku Harus Bercerai

1008 Words
"Ayo kita bercerai, Kevin." Begitu lantang Belva mengatakannya tanpa keraguan. Kevin? Pria itu terdiam sesaat, dia mengira Belva aka mendapatkan permintaan maaf dari Belva pagi itu, tapi ternyata tidak. Sebaliknya, dia telah meminta cerai. Belva pergi setelah mengatakan hal itu. Dia berjalan berjalan pelan dengan lutut yang sakit setelah berlulut sepanjang malam. Bengkak dan terasa nyeri. Hujan yang membasahi telah memperburuk demamnya. Saat berjalan ia cukup sulit. Namun meski begitu, dia masih menegakkan punggungnya. Saat tiba di kamar, Belva menggertakkan gigi. Dia mengirimkan pesan pada Wenda dan memasukan barang-barang miliknya ke dalam koper. Saat menyeret kopernya ke lantai bawah, tidak sengaja menabrak Kevin. Belva tidak melirik, dia pergi begitu saja. Belva menarik napas dalam-dalam saat dia melangkah keluar dari rumah keluarga Collins. Dia berjalan menyusuri jalan, Belva merasakan sakit yang tajam di dadanya. Dia tersandung dan jatuh ke tanah, kepalanya membentur trotoar dengan bunyi gedebuk yang memuakkan. Dunia di sekelilingnya memudar menjadi hitam dan dia kehilangan kesadaran. Belva tidak tahu berapa lama ia terbaring di sana, tapi hal berikutnya yang ia tahu, ia dibangunkan oleh seorang supir taksi. "Nona, Anda baik-baik saja?" tanyanya, suaranya bercampur dengan keprihatinan. Belva mengerang, kepalanya berdebar-debar saat dia mencoba untuk duduk. "Apa yang terjadi?" gumamnya. "Anda pingsan di trotoar," sang sopir menjelaskan. "Saya sudah menelepon ambulans, tapi mereka bilang akan lama. Saya bisa mengantarmu ke rumah sakit jika kamu mau." Belva mengangguk, berterima kasih atas bantuan sang sopir. Ia naik ke dalam taksi dan menyandarkan kepalanya ke jendela, merasakan gelombang kesedihan menyelimutinya. Ia telah kehilangan Kevin, rumahnya, dan sekarang ia sendirian dan terluka. Saat taksi melaju menuju rumah sakit, Belva tahu bahwa jalan yang harus dilaluinya masih panjang. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi dia tahu bahwa dia harus kuat dan terus bergerak maju. Saat tiba di rumah sakit, ia mendapatkan perawat. "Belva, apa yang terjadi?" tanya Wenda yang baru saja masuk ke ruang IGD, ia menghampiri Belva, wajahnya begitu pucat hingga memilukan. Bella tersenyum saat Wenda datang. Dia masih ingat apa yang terjadi beberapa jam yang lalu. Ketika dia memikirkannya, dia masih merasa tertekan. Sejak awal Belva salah. Dia seharusnya tidak berpikir dia bisa membuat Kevin jatuh cinta padanya. Sejak awal, hati Kevin hanya untuk Sarah. Tidak heran Sarah mengatakan dia bodoh. Sekarang Belva memikirkannya, mungkin tidak ada wanita bodoh seperti dia di dunia ini. Belva bangun, jam tujuh pagi keesokan harinya. Ketika dia bangun, dia merasa sekujur tubuhnya terasa remuk. Wenda baru saja datang dari sarapan. Melihatnya bangun, dia segera berlari dan bertanya, "Bagaimana kabarmu? Kau merasa sudah baikan?" Belva menggelengkan kepalanya. "Jauh lebih baik." “Sarapan dulu, aku membelikanmu roti kesukaanmu. Setelah sarapan aku akan mengantarkanmu pulang." "Ponselku. Di mana kau menyimpannya?” Raut wajah Wenda berubah saat Belva menginginkan ponselnya. Belva tahu Wenda pasti menyimpannya. Wenda tidak langsung memberikan ponsel Belva. “Kenapa kau menginginkannya?” Belva menatapnya dan berkata, "Apa kau ingin menyembunyikan berita di internet, agar aku tidak melihatnya ‘kan?" Dia terlalu mengenal Wenda. Dia meninggalkan rumah keluarga Collins tadi malam. Setelah bangun, Wenda bahkan tidak mengutuknya atau menyebut-nyebut keluarga Collins. Belva bahkan tidak perlu memikirkannya, mengetahui bahwa kejadian malam sebelumnya mungkin telah menjadi viral di internet. Wenda merasa bersalah saat Belva menatapnya. "Kau tidak perlu melihatnya, semua komentar sangat tidak bermanfaat bagi wanita sakit sepertimu!" Belva mengangkat teleponnya dan tersenyum. "Jika itu masalahnya, apa yang perlu dikhawatirkan?" Saat Belva berbicara, dia berhenti. "Bukankah aku sering dimarahi dalam Keluarga Collins dalam beberapa tahun terakhir?" Memikirkan tiga tahun terakhir, Wenda sangat marah sehingga wajahnya menjadi pucat. Dia melengkungkan bibirnya dan berkata, "jika bukan karena kau, aku akan memarahi orang-orang bodoh dari Keluarga Collins!" Belva tidak menjawab. Dia sedang menatap ponselnya. Hal pertama dalam pencarian trending adalah bahwa dia telah mendorong Sarah ke kolam renang malam sebelumnya. Sebagian besar komentar bias terhadap Sarah, mengkritik Belva. Selain dicap tidak tahu malu karena menikahi orang kaya dan berkuasa, dia sekarang ditandai sebagai wanita yang kejam. Sangat baik. Dia mendapatkan sesuatu setelah menikah dengan Kevin selama tiga tahun. Belva tersenyum. "Aku akan mandi." Wenda menatapnya dan bertanya dengan hati-hati, "Belva, are you okey?" "Ya. Aku baik-baik saja." Belva tidak bisa berkata-kata, ia memang sedih, tapi ini bukan pertama kalinya baginya. Dia telah belajar mengendalikan emosinya tidak peduli betapa tidak bahagianya dia. Dia seperti anak kecil yang menunggu untuk mendapatkan sepotong permen. Setelah gagal berulang kali, dia akhirnya mengerti bahwa tidak ada lagi harapan untuk mendapatkannya. Air dingin membuat Belva sadar. Dia ingat ketika Kevin mendorongnya ke bawah untuk berlutut malam sebelumnya, dia merasa seperti dia telah menghancurkan sesuatu yang amat penting dalam hidupnya. Tiga tahun telah berlalu. Dia pikir, sudah waktunya untuk mengakhiri ini. Selesai makan, Belva kini memiliki tenaga baru. Dan apa yang dikatakan Wenda benar. Hanya ketika dia kenyang dia bisa memiliki kekuatan. Saat Belva dan Wenda keluar dari rumah sakit keduany mendengar dua perawat engah bergosip. "Kasian Sarah. Dia benar-benar kejam. Walaupun Tuan Muda Collins berselingkuh tapi dia tidak seharusnya mendorong Sarah ke kolam renang." "Itu alasan kenapa kita harus menikah dengan orang yang serasi. Belva berasal dari keluar biasa saja, dia menikah dengan Tuan Muda Collins karena mengincar hartanya saja. Dia benar-benar wanita pengincar harta!” Mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh perawat itu membuat Wenda ingin melabrak tapi Belva menahannya. Dia tidak ingin sahabatnya membuat keributan. "Belva, jangan hentikan aku. Mereka hanya berani bergosip karena artikel sialan itu. Mereka menyebarkan berita palsu!" Belva melirik ke koridor dan berkata, "Biarkan saja." "Belva! Tai mereka sedang membicarakan hal buruk tentangmu.” “Sebaiknya kita tidak mencari keributan di rumah sakit.” “Belva! Kenapa kau jadi orang yang penurut, huh?" Belva mengerutkan bibirnya. "Aku tidak menjadi penurut hanya saja aku punya rencana lain." Wenda mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Belva. "Rencana lain? Rencana apa yang membuat …" Belva berbisik di telinganya. Wenda tertegun sejenak. Ketika dia akhirnya sadar, dia mendecakkan lidahnya dan berkata, "Gitu dong. Ini baru Belva yang gue tahu!" Wenda segera memeluk Belva. Apa yang baru saja dia dengar, membuktikan jika Belva yang dia kenal dulu telah kembali. Belva tersenyum. "Bantu aku. Aku harus bercerai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD