Sakti
Aku sudah memperingatkan Luna untuk tidak menggunakan bahasa formal jika berbicara dengan orang lain. Aku telah memintanya untuk bicara dengan gaya bahasa zaman sekarang supaya orang tidak curiga dengan identitas aslinya. Atau setidaknya, orang-orang tidak akan menertawakannya karena gaya bicara itu terlalu jadul untuk didengar. Aku sudah mengajarinya semalaman. Mulai dari kosakata, nama-nama benda, nama jalan, tempat dan fasilitas umum, bahasa kekinian, sampai kebiasaan orang-orang zaman sekarang. Bagaimanapun, siluman kucing ini harus cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Dia harus bisa mengikuti ketertinggalan zaman dan menyesuaikan diri dengan peradaban manusia yang sudah serba canggih ini. Jadi, seharusnya hari ini tak akan terjadi masalah di tempat kerja. Setidaknya, Luna tidak akan terlihat kampungan ketika melihat alat-alat produksi yang super canggih di kedaiku.
Tapi, sudah jam berapa ini? Kenapa Luna belum muncul juga? Aku bilang padanya untuk tiba di kedai tepat pada jam sembilan. Ini bahkan sudah lewat 20 menit. Kemana anak itu? Pikirku bertanya-tanya sendiri, mondar-mandir di parkiran kedai, sambil menyaksikan lalu lalang orang-orang dan kendaraan di jalanan ramai. Kebetulan, kedai ini memang terletak di jalan utama yang menghubungkan desa satu dengan desa lainnya.
Saat aku berbalik badan dan hendak masuk ke dalam kedai, daun telingaku menangkap suara langkah yang setengah berlari dari kejauhan. Suara langkah itu terdengar mengarah ke kedai ini. Mungkinkah itu Luna?
“Akhirnya, sampai juga,” ucap Luna dengan napas tersengal-sengal.
Aku langsung mengintrogasi. “Kenapa lama banget?” kataku.
“Kamu gak bilang tempatnya di sini dan harus lewat mana aja. Aku harus mencium aroma tubuhmu dulu untuk bisa sampe di sini.”
Ucapan Luna terlalu jujur. Sampai dia tidak menyadari ada di mana dirinya sekarang.
“Hussshh ... Hati-hati sama ucapan kamu. Nanti didenger orang bisa bahaya,” aku memperingatkan.
Sontak, Luna langsung menutup mulutnya dengan tangan. Dia baru menyadari ucapannya tidak hati-hati.
“Ikut aku!” pintaku kemudian. Aku mengajaknya untuk masuk mobil yang sudah berhari-hari terparkir di kedai.
“Kita mau ke mana?” spontan Luna bertanya, karena bukannya menyuruh masuk kedai, tapi malah memintanya masuk mobil.
“Kita harus mengunjungi seseorang dulu,” jawabku.
“Siapa?”
“Nanti juga tahu,” jawabku lagi. Lantas aku segera mengemudikan mobil menuju balai desa.
Sesampainya di Balai Desa, Luna bertanya lagi. “Di sini?” tanyanya dengan wajah setengah tak percaya.
“Iya, ayo turun!” kataku, menghiraukan raut wajahnya yang mulai aneh.
“Tadi aku ke sini dulu sebelum ke kedai,” keluh Luna kemudian.
“Aku tau. Tadi pagi aku memang sempat mampir dulu ke sini. Wajar kalau kamu mencium aroma tubuhku di tempat ini,” jelasku kemudian.
Tak peduli dengan ekspresi Luna yang jadi merengut, aku segera turun dan menuju ruangan Kepala Desa. Ya, aku mau menemui Niko untuk memperkenalkan Luna.
"Adik? Sejak kapan kamu punya adik?" tanya Niko saat aku memperkenalkan Luna.
Mata Niko terlihat membulat saat kubilang Luna adalah adikku. Dia jelas sulit percaya karena selama ini aku selalu terlihat sendirian dan tak pernah membahas soal keluargaku. Bagi orang-orang yang mengenalku, bahasan terkait keluarga adalah sesuatu yang misterius dan penuh rahasia. Aku tak pernah membahasnya kepada siapa pun. Luna juga begitu. Dia tak kalah kaget mendengar pengakuan ini.
"Iya, ini adik ketemu gede. Adik yang hilang selama bertahun-tahun. Aku baru nemuin dia beberapa hari yang lalu," jawabku spontan.
"Kok bisa?" nampaknya Niko masih tak percaya.
"Bisa dong. Kami terpisah sejak kecil. Tapi aku terus mencarinya. Sampai akhirnya pencarian itu membuahkan hasil. Ternyata anak ini tinggal di desa terpencil nun jauh di sana," jelasku yang tentu saja adalah karangan dan hasil imajinasi belaka.
Niko menghela napas. "Syukurlah kalian bisa ketemu lagi," ungkapnya kemudian. “Pasti kalian bahagia banget, kan?” tambahnya.
"Iya, aku juga bersyukur bisa ketemu lagi sama kakakku tercinta ini," timpal Luna ikut-ikutan, seraya bersikap manis, berakting menjadi adik yang baik.
"Ya, begitulah. Jadi, tolong bantu aku jaga dia selama aku kembali ke kota," pintaku kepada Niko.
"Loh, Luna gak diajak?" Niko terheran-heran mendengar permintaanku.
“Gak sekarang.”
“Baru ketemu udah mau pisah lagi?”
“Itu sebabnya aku butuh bantuan kamu.”
“Oke kalo gitu. Serahkan padaku,” Niko menyanggupi. “Luna, kalo butuh apa-apa jangan sungkan hubungi aku atau istriku. Oke?” lanjutnya kepada Luna.
Luna mengiyakan dengan sangat antusias. Entahlah, apa yang ada di dalam pikirannya kala itu. Mengangguk yakin seperti menemukan jalan terang.
"Ada banyak hal yang harus aku urus. Jadi aku gak berencana ngajak dia. Bagaimanapun, Luna sudah dewasa. Sudah 28 tahun. Jadi sebagai kakak yang baik, aku berniat untuk membuatnya belajar hidup mandiri di desa ini. Kalau kuajak sekarang, aku khawatir nanti dia kaget sama kehidupan kota. Maklum, dulu tempat tinggalnya sangat terpencil dan jauh dari keramaian," ungkapku sesuka hati. Sengaja menyindir asal usul tempat tinggal Luna di bulan sana.
Yang disindir, spontan menginjak kakiku di bawah meja. Injakannya sangat keras sehingga membuatku harus menahan rasa sakit tapi tidak kuasa untuk mengaduh. Kekuatan siluman kucing yang satu ini memang sungguh sangat luar biasa. Sementara itu, Niko cuma tersenyum mendapati kejadian ini.
***
Luna
Tour Kedai Camsun dimulai. Saat memasuki kedai, aku dan Sakti disambut seorang wanita muda yang bertugas di meja order. Namanya Sekar. Dia bertugas menerima pesanan baik secara online maupun offline. Pekerjaannya juga merangkap sebagai kasir, sekaligus penanggung jawab operasional di kedai ini. Dengan kata lain, bisa dibilang bahwa Sekar adalah kaki tangan Sakti untuk urusan kedai. Selidik punya selidik, ternyata dia adalah istrinya Niko, si Kepala Desa bermata empat yang tadi kutemui.
Dari meja pemesanan, aku diajak menuju ruang produksi. Mari kita lihat ada apa saja di sana.
Di ruang produksi, ada beberapa orang yang bertugas. Satu orang yang bertugas membersihkan berbagai macam seafood, satu orang di bagian pengupasan dan pemotongan sayuran serta bahan makanan lain, satu orang mengendalikan mesin pembuat mie, satu orang yang membuat nugget ikan, dua orang koki yang menyiapkan pesanan, satu orang yang membuat aneka minuman, dan dua orang yang bertugas di bagian pengemasan dan pelabelan.
Semua pekerjaan dilakukan dengan menggunakan alat-alat modern dan canggih, sehingga memudahkan tugas para pegawai. Kebersihan dan kerapian adalah hal utama yang harus dijaga di ruangan ini. Setiap pekerja di sini juga terlihat sangat terampil dan cekatan. Mereka bekerja sangat cepat, cepat, dan cepat. Melihatnya saja sudah membuatku takjub dan tak ingin berpindah dari ruang produksi ini.
Lihatlah bagaimana kedua juru masak itu bekerja. Tangan mereka sangat lihai bermain di atas kompor. Memainkan peralatan masak, melemparkan bahan makanan ke dalam wajan dan panci, menambahkan bumbu, mengaduk-aduk dan mencampurnya menjadi satu, sampai menyajikannya ke dalam wadah. Semua proses itu sangat menarik untuk ditonton.
Lihat juga bagaimana bagian pengemasan melakukan pekerjaannya. Mereka memasukkan makanan ke dalam kemasan yang sudah disediakan, lalu diberi label toko. Lalu mereka akan menyerahkannya ke bagian pemesanan, sebagai bukti bahwa pesanan sudah selesai dan siap dikirim.
“Lalu, di bagian mana aku harus bekerja?” tanyaku kepada Sakti.
“Di sana,” tunjuk Sakti pada satu sudut di paling belakang.
Sontak mataku membelalak ketika tangan Sakti menunjuk pada tumpukan piring, wadah, wajan, panci, dan sebagainya di pojok sana. “Cuci piring?” tanyaku, tak percaya dengan tugas yang diberikan.
“Tepat sekali. Hanya itu pekerjaan yang cocok buat kamu sekarang ini,” kata Sakti.
“Sebanyak itu?”
“Itu belum seberapa. Masih tersisa perabotan yang sedang digunakan. Pastikan kamu mencucinya tanpa meninggalkan bau amis dan bau sabun. Mengerti?”
“Tunggu sebentar. Apa gak ada kerjaan lain selain itu?”
“Gak ada. Cuma itu yang ada. Pegawai kami di bagian itu baru saja mengundurkan diri. Jadi kamulah penggantinya.”
Dengan lemas, aku pun menghembuskan napas. Yang benar saja, aku harus cuci piring sebanyak itu. Bukannya tidak mau, tapi di rumah juga aku mencuci piring. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana bosannya aku dengan kegiatan itu.
Aku juga tak habis pikir dengan Sakti. Mentang-mentang aku punya kekuatan siluman, dia lantas tega mempekerjakanku di bagian itu. Aku memang bisa bekerja dengan cepat. Tapi aku tak yakin bisa menahan diri untuk tidak m******t sisa makanan di wadah-wadah itu. Bagaimana kalau aku lupa dan ketahuan sedang menjilati sebuah wajan?
(*)