Luna Aku pulang membawa dua buku. Satu buku tentang bisnis, yang Sakti suruh untuk kupelajari, dan satu lagi sebuah buku yang diam-diam aku ambil tanpa sepengetahuan Sakti. Sebenarnya, ini tidak boleh. Aku sadar betul itu. Tapi, buku yang satu ini sangat menarik perhatianku. Tampilan bukunya sangat menggoda untuk kubawa. Sampulnya yang kuno, membuat buku ini terlihat seperti bukan buku zaman sekarang. Ini seperti buku yang sudah berusia tua. Sudah usang. Aku tidak bermaksud untuk mencuri buku ini. Aku hanya meminjamnya tanpa bilang dulu. Semoga Sakti akan memahaminya ketika buku ini kukembalikan. Sesampainya di apartemenku, aku segera mengeksekusi isi buku tersebut. Buku kuno yang berjudul “Ketika Siluman Menjadi Manusia”. Halaman demi halaman, lembar demi lembar, aku membacanya

