Luna Selang satu hari setelah berdebat dengan Sakti, aku mendapatkan telepon darinya. Kali ini Sakti memintaku untuk datang ke sebuah taman kota yang berlokasi di dekat kantor Sakti. Sakti bilang, dia ingin membahas tentang masalah robot Wulan. Katanya, dia sudah menemukan cara untuk mengembalikan robot Wulan seperti sedia kala. Mendengar hal itu, perasaanku sedikit lebih lega. Aku pun lantas menemui Sakti pada jam dan tempat yang sudah ditentukan. “Maaf, aku terlambat!” kataku begitu menemui Sakti. Aku datang sepuluh menit lebih lambat dari waktu janjian. Maklum, sore itu jalanan di kota ini sangat macet lantaran merupakan jam pulang kantor. “Telat sepuluh menit,” komentar Sakti sambil melihat jam di tangannya. “Jadi gimana? Apa caranya?” tanyaku tanpa basa-basi. Aku s

