Chelsea tidak lagi memikirkan sakit dan perih yang dia rasakan bersamaan. Melihat suaminya meregang nikmat saat berayun di atas tubuhnya sudah membuat perasaannya tenang. Dia benar-benar merasakan jiwa dan raganya menyatu malam ini dengan pria yang amati dia cinta. Bayu mempercepat gerakannya saat nikmat sudah di ubun-ubun, hingga mengalami pelepasan pertamanya di dalam tubuh istrinya. Dia peluk tubuh Chelsea yang berkeringat, mencium dahinya dalam-dalam, berucap cinta dan sayang. “Oh, Chelsea. Maaf, telah membuatmu kesakitan. Kamu teriak kuat sekali.” Chelsea tertawa letih, dan menggeleng lemah. Beberapa saat kemudian, deru napasnya terdengar tenang, barulah Bayu mengangkat tubuhnya sedikit, dan dia sangat terkejut saat melihat ke bawah, ada darah bersimbah di atas alas kasur. “Kamu be

