Sindi menggeleng tidak semangat. “Ada apa?” tanya Tirta pelan, ingin Sindi merasa nyaman. “Calon suami saya main perempuan, Pak.” Tirta terkejut. “Ah. Bisa begitu?” “Ya.” “Duduk dulu, Sindi.” Tirta menyuruh Sindi untuk duduk agar lebih nyaman saat mengungkapkan sesuatu yang mengganjal di hatinya sekarang. Sindi duduk di depan meja kerja Tirta, dan lanjut bercerita. “Dia datang ke Jakarta dengan alasan pekerjaan mendadak. Dia datang ke apartemen saya dan menjelaskan tentang pernikahan. Kami sempat berdebat semalam, dan saya tidak setuju prinsipnya yang selalu menang sendiri dan menyalahkan pihak istri jika ada masalah dalam keluarga. Tapi, paginya kami berbaikan, dan janjian ketemu di cafe.” Mata Sindi menerawang mengingat kejadian kemarin yang menyesakkan dadanya. “Kebetulan dompetn

