Kejadian begitu cepat dirasakan Harja barusan, bahwa orang yang tidak pernah menyukainya datang memberi bantuan. Dia menggeleng tidak percaya bahwa Sindi dengan ramah menyapanya bahkan menawarkannya bantuan. Sindi juga bersikap ramah kepada putri kecilnya, padahal orang-orang biasanya akan memandang aneh saat melihat Kania yang bertubuh kecil kurus dan rambutnya yang tipis. “Tante baik ya, Pa,” ujar Kania seolah tahu apa yang sedang papanya pikirkan. “Iya, Sayang. Tante baik.” “Tante siapa?” “Tante Sindi namanya.” Kania mengangguk tersenyum, “Tante Sindi,” ulangnya sambil bertepuk tangan. Dia menoleh ke papanya dan matanya berkaca-kaca. “Ada apa, Kania?” “Mama Nindya.” Harja tertawa kecil, rupanya Kania masih saja merindukan Nindya. Anak itu sangat terkesan akan Nindya. “Mau main

