Selama perjalanan menuju pulang, Nindya dieluk-elukan anak-anaknya, terutama Bayu. Dia senang dan bangga karena mamanya berhasil menampar Puspa di tengah banyak orang. Dia sudah sangat muak dengan perempuan itu, yang dulu telah merusak keluarganya sehingga pertengkaran selalu ada di hampir setiap hari. Kini perempuan itu berulah lagi, mempermalukan mamanya di depan banyak orang. “Aku puas sekali, Ma,” ujar Bayu disertai helaan napas lega dan puas. Tapi Nindya justru merasa menyesal telah menampar Puspa, berpikir bahwa dia seharusnya tidak menggubris Puspa dan membiarkan Tirta yang bertindak. Dia harus mampu mengendalikan emosinya, karena sedang mengandung. Apa boleh buat, dia benar-benar kesal, kata-kata Puspa mengingatkannya akan perasaan luka di hatinya, disakiti Harja di masa lalu, d

