Sindi terbangun pagi itu, dan dia tidak mendapatkan Harja di sampingnya. Dia mencium aroma masakan dari arah dapur, tersenyum sambil memeluk tubuhnya sendiri beberapa saat, bahagia membayangkan kehidupannya yang pasti akan selalu disayang dan dimanja pria yang amat dia cinta. Sindi beranjak dari tempat tidur, dan ke luar, melangkah menuju Harja yang sedang memasak untuk sarapan pagi itu. “Hmmm.” Sindi memeluk pinggang Harja erat-erat, wajahnya terbenam di punggung lebar Harja. “Nyenyak tidurmu, aku tadi nggak mau kamu terbangun.” Sindi merengek manja, mengeratkan pelukannya. “Kamu masih nggak pakai celana, Sin. Mandilah.” “Aku nggak mau kamu pergi, Mas.” “Lo, aku nggak pergi. Aku di sini, Sayang.” Harja mematikan kompor, dan menyalin nasi gorengnya ke dalam wadah besar, sementara S

