"Ney. Ssst Neyra woy." bisik Billa, melihat Neyra yang sedari tadi melamun tanpa memperhatikan Pak Yosep yang sedang menerangkan materi.
"Neyra kenapa Bil?" tanya Indira
Billa menatap ke arah Indira yang berada di belakang mejanya dan Neyra. "Gak tau dari tadi ngelamun mulu."
"Jangan bilang dia kesambet," ucap Mira. Merasa takut melihat Neyra yang sedari tadi melamun.
"Waduhh Pak Yosep jalan ke sini woyy," celetuk Ayna yang duduk di depan meja Billa dan Neyra. Ia hanya menatap Pak Yosep yang berjalan ke arah meja Neyra.
"Saya lihat dari tadi kalian ngobrol terus," ucap Pak Yosep. mereka menggelengkan kepalanya.
Tanpa Neyra sadari Pak Yosep sudah berada tepat di hadapan mejanya "Neyra." panggil Pak Yosep.
"Neyra. saya tidak suka di mata pelajaran saya ada yang melamun," ucapnya. Neyra masih tetap tak bergeming. Membuat Pak Yosep merasa kesal.
"Neyra Caitlin Fernanda," sentak Pak Yosep.
"Apaan sih lo ganggu aja deh," teriak Neyra menatap Billa.
"Kalau gue b***k gimana lo mau tanggung jawab, hah?" omel Neyra
Billa mengarahkan kepalanya menghadap Pak Yosep. Neyra pun mengikuti arah pandang Billa "Mampus gue,"bantin Neyra.
"Kenapa Pak kok berdiri di situ?" tanya Neyra.
"Sekarang kamu keluar dari kelas saya hormat ke bendera sampai jam istirahat," titah Pak Yosep. Menunjuk ke arah pintu keluar.
"Lah Pak saya salah apa kok saya dijemur sih?" tanya Neyra merasa tidak bersalah.
"Kamu sedari tadi tidak mendengarkan materi yang saya terangkan. Kamu juga melamun disaat jam pelajaran saya. Saya tidak suka ada murid yang tidak memperhatikan saya menerangkan materi."
Neyra mengangukkan kepalanya. "Ohh Bapak mau saya perhatiin, Yaudah, sekarang Bapak lagi saya perhatiin," balas Neyra mengelak dari kesalahannya.
"Nayra Caitlin Fernanda. Keluar kamu dari kelas,"teriakPak Yosep.
"Iya pak saya keluar. Cuma keluar aja kan, Pak?" tanya Neyra sembari beranjak dari bangkunya.
"Dan hormat ke Bendera Merah Putih sampai jam istirahat berbunyi," lanjut Pak Yosep.
"Udah gue duga," gumam Neyra.
"Sekarang. Kenapa kamu masih berdiri di situ? Mau saya tambah hukumannya jadi bersihin seluruh toilet di sekolah ini?" tanya Pak Yosep geram melihat Neyra yang masih berdiri di tempatnya.
Neyra langsung bergegas, karena tidak ingin hukumannya ditambah lagi, "Eh Iya Pak saya hormat bendara aja deh. Gak usah ditambah." balasnya berjalan keluar kelas.
Neyra berjalan ke lapangan untuk melaksanakan hukumannya "Gila panas banget." gumam Neyra.
"Tahu gini gue bersihin toilet aja. adem, lah ini? Panas banget," ujar Neyra sambil hormat tepat di depan tiang bendera merah putih.
...
Nevan berjalan menyusuri koridor sekolah, ingin menuju rooftop. Namun langkahnya terhenti kala melihat seorang gadis yang tengah berdiri di depan tiang bendera.
"Neyra," gumam Nevan Menatap Neyra.
la berjalan mendekati Neyra, dan melepaskann Jaket kebanggaanya yang berlambangkan Reveelix.
Neyra merasa tidak ada pencahanyaan sinar matahari yang menerpa wajahnya membuat ia merasa kebingungan "Kok gak qada cahanya, ya? Panas sih panas cuma kok cahayanya gak ada Duh jangan bilang ini udah kiamat." ujar Neyra, yang masih belum menyadari keberadaan Nevan yang memegang jaketnya tepat di atas kepalanya.
Neyra mendongakkan kepalanya ke belakang. "Ne..van," gumam Neyra.
"Lo ngapain?" tanya Nevan.
Bukannya menjawab pertanyaan Nevan. Neyra hanya terdiam menatap manik mata milik Nevan.
"Dihukum?" tanya Nevan lagi. Neyra menganggukan kepalanya. "Iya," jawab Neyra
"Kenapa?" tanya Nevan lagi.
"Apanya yang kenapa?" bingung Neyra.
"Kenapa dihukum?" tanya Nevan berulang-ulang perkatannya.
"lo ngapain ke sini?" tanya Neyra membalik pertanyaan Nevan.
"Biar lo gak kepanasan," jawab Nevan. Nevan menarik pergelangan tangan Neyra membawa Neyra duduk di pinggir lapangan.
"Duduk," titah Nevan. Neyra hanya menatap Nevan kebingungan. "Biar gue yang gantiin lo jalanin hukuman," jawab Nevan.
"Maksud lo? Gantiin gue dihukum, serius?" Nevan menganggukan kepalanya membalas ucapan Neyra.
"Tapi kan gue yang dihukum," ucapnya.
"Gak usah ngebantah. Gue tahu lo kepanasan,"
"Tapi kan-" ucapan Neyra terhenti kala Nevan berjalan ke tengah lapangan.
Seketika Neyra menggelengkan kepalanya. "Apaan sih, gak mungkin kan gue suka, ahh udahlah gak penting,"
...
Neyra berjalan menyusuri koridor. Ia ingin ke kantin membelikan Air mineral untuk Nevan.
"Bu saya beli air mineral-nya satu," ucap Neyra mengambil satu botol minuman.
"Ohh iya, Neng," balas Ibu kantin.
"Berapa Bu?" tanya Neyra sembari mengeluarkan uang dari saku bajunya.
"Lima ribu aja, Neng" jawabnya. Neyra mengulurkan uangnya kepada Ibu kantin. "Ini Bu, ambil aja kembaliannya,"
"Makasih banyak, Neng,"
Neyra berjalan kembali ke lapangan, ia bisa melihat Nevan yang hormat ke bendera merah putih. Membuat ia tak tega malihatnya.
"Kasian juga sih gue ngeliatnya." gumam Neyra.
Neyra berjalan menghampiri Nevan. Ia mengulurkan tanganya ke samping Nevan. "Minum dulu gue tahu lo pasti haus,"
"Makasih," ucap Nevan
"Sama-sama," balas Neyra
"Gak usah dilanjutin aja hukumannya, bentar lagi udah mau istirahat," ujar Neyra.
Kring..
Kring..
"Nah kan belnya udah bunyi. Yaudah lo pergi aja gak usah dilanjutin," ucap Neyra. Nevan menganggukan kepalanya seraya berjalan meninggalkan Neyra. Namun langkahnya terhenti kala mendengar suara milik Neyra.
"Makasih," ucapnya. Nevan membalikkan badannya tersenyum kecil.
"Sama-sama," balas Nevan. Pecayalah ini pertama kalinya Nevan mengucapkan kata itu. Ia biasanya hanya menganggukan kepalanya kala ada seseorang yang mengatakan. 'Terima kasih' kepadanya.
Tanpa mereka sadari banyak siswa-siswi yang menatap mereka sedari bel istirahat berbunyi. Nevan berbalik, Berjalan mendekati Neyra. Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Neyra. Membuat Neyra mati kutu dan kaku di tempat.
"Gak usah diladenin. Kalau ada yang berani sama lo bilang aja sama gue," ucap Nevan. Neyra menganggukan kepalanya membalas perkataan Nevan. Setelahnya Nevan pergi, berjalan entah ke mana.
"Yahh Tuhan jantung gue serasa mau loncat." Batin Neyra, memegang dadanya.
...