Neyra menatap dirinya di cermin. Hari yang akan mengubah statusnya yang akan menjadi seorang istri. Apakah ia bisa menjalaninya? Atau bahkan sebaliknya.
"Sudah selesai kan makeup-nya?" tanya Kevin yanh memasuki kamar Neyra.
"Oh, sudah Mas. Kalau gitu saya tinggal dulu," jawab penata rias. Kevin menganggukan kepalanya menjawab.
"Kenapa?" tanya Kevin
Neyra menggelengkan kepalanya. "Gak apa-apa,"
"Dek. siap gak siap lo harus siap. Mungkin ini udah jalan yang terbaik buat lo," ucap Kevin seraya membelai puncak kepala Neyra.
"Gue gak tau Bang. Gue belum siap." Lirih Neyra yang mengeluarkan air matanya.
"Lo coba aja dulu."
"Kalau misalnya gue gagal gimana?" tanya Neyra.
"Semua udah diatur sama yang di atas. Lo tinggal ikut alurnya aja. Gini dek, gue udah bilang sama lo. Lo sama Nevan hanya menunggu untuk saling mencintai dan hanya waktu yang akan menjawabnya. Karena seiring berjalannya waktu sadar gak sadar kalian pasti akan saling mencintai kok," ucap Kevin sembari mambawa Neyra ke pelukannya. Sebenarnya, Kevin juga sedih. Teman berkelahi di rumah akan segera membina rumah tangga.
"Gue takut gagal Bang."
"Jangan ada kata gagal, gue yakin lo pasti bisa! Jangan nyerah gitu dong."
Neyra menganggukkan kepalanya. "Iya Bang. makasih."
Ceklek
"Ehh kok kamu nangis sih sayang. Nanti makeup-nya luntur loh," ujar Mama Neyra. Neyra menggelengkan kepalanya dan lekas mengusap air mata di pipinya perlahan.
"Yaudah kita turun yuk, di bawah sudah ada Nevan lho." Titah Mama Neyra.
...
Neyra berjalan perlahan menuruni tangga didampingi oleh Mama dan Kevin, yang berada di kanan dan kirinya.
"Jangan pingsan ya." Goda Kevin di telinga Neyra.
Neyra menyenggol tangan Kevin. "Sstt diam deh. Jangan tambah memperkeruh suasana,"
"Mempelai wanita dipersilahkan untuk duduk di samping mempelai pria," ucap penghulu mempersilahkan Neyra duduk di samping Nevan. Neyra pun menganggukkan kepalanya menjawab.
"Bisa dimulai?" tanya penghulu.
"Bisa pak." jawab Ferdi, Papa Neyra.
"Baiklah silahkan anda menjabat tangan mempelai pria."
Papa Neyra mengambil posisi duduk di depan Nevan dan mulai mengucapkan lafal Ijab Qobul. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Nayra Caitlin Fernanda binti Ferdi Farhad Fernanda denga mas kawin satu set perhiasaan sebesar lima puluh gram dibayar tunai."
Nevan mengucapkan ijab qobul dengan satu tarikan napas. "Saya terima nikah dan kawinnya Nayra Caitlin Fernanda binti Ferdi Farhad Fernanda dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagamana saksi, sah?"
"Sah," ucap semua tamu undangan.
Neyra meneteskan air matanya lalu mencium punggung tangan Nevan dan Nevan yang mencium kening Neyra.
...
Resepsi diadakan di hotel bintang lima, pukul 7 malam nanti. Tamu undangan hanya keluarga dan kerabat kerja orangtua mereka. Neyra dan Nevan masuk ke kamar Neyra setelah menyalimi beberapa tamu undangan. Ijab qobul memang di laksanakan di rumah Neyra.
"Lo mandi duluan aja," ucap Neyra terbata-bata.
"Kenapa?" tanya Nevan.
"Gak apa-apa lo mandi duluan aja. Gue mau bersihin make-up gue dulu," ujar Neyra tanpa menatap manik Nevan.
"Ya Tuhan jantung gue,"Batin Neyra.
Nevan berjalan mendekati Neyra yang berdiri di samping meja rias miliknya. Neyra berjalan mundur hingga dirinya tersandar di tembok kamarnya. Nevan mengunci pergerakan Neyra dengan memeluk pinggang Neyra.
"Lo mau nga..pa..in?" tanya Neyra terbata-bata.
"Coba aja kalau bisa," ucap Nevan tersenyum jahil.
Neyra kesusahan melepasakn tangan Nevan dari pinggangnya, karena tenaganya yang tidak sebanding dengan tenaga Nevan. Nevan tersenyum penuh kemenangan. Melihat tingkah Neyra, menurutnya itu sangat lucu. Entah kenapa sikap dinginnya bisa mencair jika berada di dekat Neyra. Nevan mendekatkan wajahnya ke arah Neyra. Jarak di antar keduanya tinggal lima senti lagi, membuat Neyra bisa merasakan hembusan nafas Nevan yang beraroma mint.
"Kan lo sendiri yang bilang. Kalau bibir lo hanya untuk suami lo nanti. Dan sekarang gue udah sah jadi suami lo," ucap Nevan tersenyum jahil menatap raut wajah Neyra yang terlihat menggemasakan di matanya.
"Tap-"
Cup
Bibir ke-duanya menyatu dengan sempurna membuat Neyra membelalakkan kedua matanya. Neyra tidak membalas ciman dari Nevan. Neyra mengangkat kepalanya, ingin melihat ekspresi Nevan.
"Enak?" tanya Nevan tersenyum jahil.
"Apaan sih," elak Neyra dengan wajah tersipu malu.
"Tau ah gue mau mandi," ucap Neyra berjalan mengambil baju dan handuknya sebelum masuk ke kamar mandi.
"Lucu." Bantin Nevan.
Entah kenapa, ia berubah jika di dekat Neyra. Lebih sering tersenyum. Tapi bukan berarti ia mencintai Neyra. Semuanya membutuhkan proses. Atau sudah ada cinta di benak Nevan?
...
Hotel, 21.00
Neyra dan Nevan menyalimi tamu-tamu undangan yang tersisa sedikit. Neyra kelelahan karena sudah berdiri dua jam lebih untuk menyalami para tamu undangan.
"Duduk aja," ucap Nevan, yang melihat kegusaran Neyra.
"Gak enak sama tamu undangan," ucap Neyra.
"Tinggal dikit doang. Duduk aja," ujar Nevan.
"Gak apa-apa?" tanya Neyra. Nevan mengangukkan kepalanya menjawab. Sekitar dua puluh menit Nevan sudah selesai menyalami tamu undangan yang tersisa sedikit. Sekarang hanya tersisa keluarga Nevan dan Neyra.
"Masih cape?" tanya Nevan.
Neyra menganggukan kepalanya menatap Nevan yang duduk di sebelahnya "Haus. pengin minum."
"Tunggu sebentar," ucap Nevan, Neyra menganggukan kepalanya menurut.
Butuh waktu lima menit Nevan mengabil air minum, sekaligus pamit ke orangtuanya dan mertuanya untuk kembali ke kamar hotel. Ia tidak tega melihat Neyra yang sudah kelelahan sedari tadi.
Nevan mengulurkan tangannya. "Nih,"
"Makasih."
"Udah?" tanya Nevan. Neyra mengangkat jempol sebelah kanannya, sebagai tanda 'Ok'.
"Ayo," Titah Nevan
"Mau ke mana?" tanya Neyra.
"Kamar," jawab Nevan. Membuat Neyra membelalakkan kedua bola matanya.
Nevan tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Neyra. "Tenang aja gue gak bakal ngapa-ngapain lo."
"Yaudah deh, ayo gue cape. Mau istirahat. Kaki gue rasanya mau copot," ucap Neyra yang berjalan mendahului Nevan.
Sesampainya di kamar Neyra langsung tertidur sehabis membersihkan dirinya. Nevan yang masih berada dalam kamar mandi. Tak berselang lama, ia keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan dirinya. Ia merebahkan tubuhnya di sebelah kanan Neyra. Nevan mendekat dan memeluk pinggang Neyra. Neyra menggeliat dan mencari posisi ternyaman di d**a bidang Nevan.
Jangan lupa Nevan mencium kening Neyra sebelum tidur "Good Night."
...