Keheningan yang menyusul lamaran Ethan terasa begitu pekat, hingga denting kristal dari gelas yang jauh pun terdengar jelas. Semua mata tertuju pada Hazel—yang berdiri dengan mantel Ethan di bahunya, noda anggur masih membekas di gaunnya, namun posturnya tegak dan wajahnya tenang. Di mata abu terangnya, kilatan kejutan perlahan mereda, digantikan oleh sebuah ketenangan yang tajam. Hazel tahu, Ethan hanya ingin menyelamatkannya. Yang menjadi pertimbangan Hazel saat ini adalah apakah dia akan mengikuti permainan Ethan dan menerima lamaran itu atau menolaknya? Semua sama-sama memberikan konsekuensi yang berat. Ethan masih berlutut, cincin tunangan yang tidak pernah direncanakan atau mungkin sudah? berkilau di tangannya. Ekspresinya tulus, namun Hazel—yang telah belajar membaca pria-pria se

