Benciku Adalah Nama Lain Dari Nafsu

1348 Words

Diego menekan tubuh mungil Hazel yang lemas di permukaan kaca yang kini berembun, buram oleh hembusan nafas panas mereka yang saling berdesakan. Satu tangannya merengkuh erat pinggang Hazel, menahannya tetap di tempat, karena gadis itu sudah sama sekali kehilangan tenaga untuk menopang diri sendiri—atau mungkin, kehilangan keinginan untuk melawan. Sebuah pertanyaan logis menggantung: seharusnya Hazel memukul, mencakar, menyerang pria yang sedang begitu leluasa mendominasi tubuh dan jiwanya ini. Kenyataannya? Dia hanya pasrah. Lebih dari itu—dia menikmatinya. Dan Diego, dengan naluri predator yang selalu tajam, tahu itu persis. Dia membaca setiap getaran halus, setiap desahan yang tertahan, setiap lekuk tubuh Hazel yang justru mencari tekanannya. "Kebencian," bisik Diego di telinganya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD