Badmood Berakibat Fatal

1268 Words
Alea terkejut dengan lelaki berlesung pipit yang merupakan teman Tobias, yang ternyata pengendara Sedan Marcedes Benz yang baru saja ia tabrak. Alea menyentuh keningnya lalu menggaruknya dengan telunjuk. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata, bayangan masalah berat muncul tiba – tiba membuatnya menyesal sudah menghabiskan ratusan juta hanya karena emosi sesaat. Uang simpanannya habis tak bersisa. Hari buruknya seakan begitu sempurna karena kejadian ini. Pandangan Alea tertuju pada mobil yang bagian belakangnya sangat mengenaskan.  Bagasinya ringsek dan terbuka, bampernya lepas dan ini sebuah kecelakaan yang sangat parah. Ia berlutut di depan body belakang mobil dan menyentuhnya sambil merintih. Menghela napas berkali – kali sampai akhirnya ia menunduk lemah. “Hei.” Rendra menyentuh pundak Alea, membuat gadis itu seakan kembali sadar hingga akhirnya berdiri lalu memutar tubuh untuk berhadapan dengannya. “Maafkan saya, tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan saya. Seharusnya anda tidak berhenti mendadak seperti tadi. Bahkan meskipun lampu sudah merah. Anda...," ucapannya menggantung saat melihat dengan siapa ia bicara. Holy s***t. Diantara semilyaran manusia, kenapa harus mobilnya yang ditabrak? Kedua kakinya melemas seperti agar –agar hingga Rendra melingkarkan lengannya di pinggang Alea agar gadis itu tidak merosot ke aspal. Secara spontan, Alea meraih lengan Rendra dan menggunakannya sebagai penopang untuk bisa berdiri. “Kamu nggak apa – apa?” tanya Rendra, khawatir dengan kondisi Alea yang tampak tidak baik. “Aku nggak apa – apa … aku nggak baik – baik saja.” Tanpa malu – malu Alea menangis di depan Rendra. Rendra berusaha untuk tidak tertawa dengan kelucuan Alea. Tak peduli kalau si empunya mobil akan sangat marah karena mobilnya ditabrak, tapi baginya sebuah keberuntungan bisa bertemu dengan gadis albino yang mengingatkannya pada kisah masa lalu. Alea memandang mobilnya sendiri yang juga rusak. Lampu sebelah kirinya pecah dan tepos. Bampernya juga ringsek. Tangisnya pecah bahkan ia memeluk dan mencium mobilnya, seakan mencium dan memeluk orang yang sangat disayanginya. “Tenangkan dirimu dulu.” Rendra kembali menepuk pundak Alea, menunggu sampai gadis itu bisa tenang dengan sendirinya. Setelah puas menangis, Alea mengembuskan napas berat dan akhirnya ia bisa lebih tenang. Ia kembali ke mobilnya, mengambil tas selempang lalu merogohnya untuk mengeluarkan gawai. Ia menyentuh angka satu untuk menghubungi seseorang. “Halo,” sapa seseorang di seberang sana. “Halo, Om. Aku menabrak mobil orang, Om….” Rendra yang awalnya berpikir gadis itu sudah baik – baik saja, matanya melebar saat melihatnya kembali menangis saat menghubungi omnya. Tingkah Alea sangat lucu, bahkan saat diam pun gadis itu sangat menarik. Setelah menelepon, Alea kembali ke Rendra dengan wajah yang berubah cerah. Perubahan yang sangat cepat itu membuat mata Rendra membelalak lalu terkekeh. “Boleh pinjam handpone-nya?” kata Alea dengan tangan terbuka. Rendra kembali terkejut, tetapi ia merogoh saku celana dan menyerahkan handphonennya. Alea mengetik nomer teleponnya lalu menghubungi nomernya sendiri untuk memasukkan nomer Rendra ke gawainya. “Besok saya janji akan bertanggung jawab atas kerusakan mobil anda, Kak. Tapi saya harus segera pulang karena hari sudah malam. Kakak….” “Rendra, nama saya Rendra.” “Kak Rendra mengerti kan kalau perempuan baik – baik, tidak baik keluar terlalu malam? Tadi saya habis kerja lembur, makanya saya buru – buru pulang,” kata Alea asal. “Saya mengerti. Hanya saja ... ini bukan mobil saya. Jadi lebih baik….” “Nama saya Alea,” sahut Alea. “Lebih baik besok Alea langsung menemuinya. Kamu tenang saja, saya akan meminta keringanan buat kamu karena ini juga salahku karena berhenti mendadak.” Alea menangkupkan kedua tangan, matanya kembali berkaca – kaca namun senyum manis terukir di wajahnya. “Terimakasih, Kak Rendra. Tolong minta keringanan yang banyak ya. Saya ini hanya pegawai biasa, Kak. Ini mobil om saya, bukan punya saya. Pasti nanti saya dimarahin sama om. Aduh, alamat tabungan saya habis gara – gara masalah ini.” Bibir Alea menekuk ke bawah, namun hal itu membuat senyum untuk ke sekian kalinya terukir di wajah Rendra. “Kamu nggak papa pulang sendiri?” “Oh, nggak papa, Kak. Aku nggak papa kok.” Alea menepuk lengan Rendra sambil tertawa aneh. Rendra mengantarkan Alea sampai ke pintu, saat pintu terbuka dan lampu menyala secara otomatis, ia melihat tumpukan belanjaan memenuhi jok belakang mobil gadis itu. Alea tahu Rendra melihat belanjaannya, tetapi ia memilih untuk tidak mengatakan apapun agar lelaki itu tak berkomentar apapun. Begitu masuk mobil, ia segera memacu mobilnya tanpa ragu – ragu, hanya tak ingin berpamitan lalu membuka jendela dan kembali memperlihatkan isinya. Sepanjang jalan, ia merutuki nasibnya yang sial. Kembali teringat semua hal buruk yang ia alami hari ini. Sampai rumah, ia segera masuk dan segera memeluk Matias sambil menangis sesenggukan. “Hei. Tumben kamu begini.” “Yang kutabrak Mercy, Om. Mercy. Manalagi aku abis belanja lagi. Duh pusing aku.” Alea duduk dengan tubuh lemas. “Memang kamu belanja apa saja sampai kamu bingung kayak gitu.” Alea menjawab pertanyaan Matias dengan menunjukkan setumpuk struk belanjaan. Seketika mata Matias melebar melihat angka fantastis yang baru saja dihabiskan keponakannya. “Tenang, Om. Alea beliin barang bagus buat, Om kok.” Alea segera ke mobil untuk mengeluarkan belanjaannya. Meski ia menyesal telah banyak belanja tapi ia tak menyesal telah membeli jam tangan seharga ratusan juta untuk omnya. Meskipun ia yakin omnya akan marah karena dianggap menghambur – hamburkan uang. Tapi Matias pantas mendapatkan itu semua. Benar saja, Matias marah setelah tahu jam tangan yang dibelikan Alea harganya bisa untuk membeli satu unit mobil LCGC. “Besok kita harus balik ke tokonya. Om nggak mau kamu beli barang mewah seperti ini. Ini buang – buang uang, Alea.” “Apaan sih, Om. Anggap ini investasi, Om.” “Investasi apa. Kamu bisa pakai uang ini untuk bayar kerugian mobil mercy itu.” “Aku tadi hanya shock, Om. Makanya panik sampai telepon Om. Kalau dipikir – pikir, aku masih bisa kok bayar kerugian bahkan untuk benerin mobilku. Lagian uang adsenseku barusan masuk. Jadi aman deh.” “Kamu ini, besok Om temani kamu urus semuanya.” “Nggak usah, Om. Aku bisa sendiri. Yang penting ada uang, semua pasti beres.” “Jangan menyepelekan.” Alea terkekeh, ia segera memeluk omnya bahkan dengan berani mengecup pipinya. Meskipun wajahnya menjadi memerah karena malu. Alea menyambar belanjaannya dan berlari masuk ke kamar. Masa bodoh dengan uang yang harus dirogoh cukup dalam. Toh setiap bulan ia mendapat fee. Uang itu akan terkumpul lagi asal ia rajin membuat konten. Getar yang keluar dari gawainya membuat Alea meraihnya dan melihat pesan yang baru saja masuk. Besok, temui pemilik mobil di kantornya. Dalam pesan itu juga disertai nama perusahaan dan juga alamatnya, juga peta lokasi untuk mempermudah Alea dalam menemukan kantor itu. OK, besok saya akan datang jam sepuluh, balasnya. Hari yang sangat melelahkan, Alea segera tertidur setelah membalas pesan dari Rendra. Keesokan harinya, Alea datang ke kantor yang ditunjukkan Rendra pas jam sepuluh pagi. Ia segera ke lobi untuk mengatakan keperluannya. “Saya mau ketemu dengan Pak Rendra.” “Waaah, Kak Alea Beauty Albino kan. Kakak, boleh minta foto dan tanda tangannya?” seru resepsionis yang begitu girang karena bertemu seorang food vlogger yang sangat terkenal. “Boleh.” Alea dan sang resepsionis pun terlibat pembicaraan beberapa waktu sebelum akhirnya ia menunjukkan ruangan Rendra. Alea melangkah menuju lift yang akan mengantarkannya ke lantai dua puluh dua dimana kantor Rendra berada. Saat masuk ke lift, saat itulah ia bertemu dengan lelaki yang kemarin membuat harinya buruk. Alea berusaha mengacuhkannya, berdiri di dalam lift tanpa menyapanya. Saat ia hendak menekan angka dua puluh dua, lelaki itu lebih dulu menekannya. Insting Alea mengatakan kalau akan ada masalah dengan lelaki yang sudah merendahkan harga dirinya dengan uang sembilan juta itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD