Kejadian Besar

932 Words
Tiga donatur yang duduk di kedua sisi Fatah tersenyum. Seorang dari mereka segera memberikan tissue untuk anak Kiai Hanafi yang sempat tersedak karena ucapan Ara. Mereka saling pandang satu sama lain. "Apa ada perjodohan antar dua anak Kiai, Gus?" Salah seorang dari bertanya pelan pada Fatah. "Em, soal itu, masih wacana sebenarnya. Em, maksud saya belum ada pembicaraan serius antara dua keluarga." Fatah jadi salah tingkah sendiri. Namun, orang-orang itu justru senang. Dua pesantren yang selama ini mereka kenal sebagai pesantren salaf, di bawah kendali dua Kiai yang tak diragukan keilmuan dan lurusnya jalan yang mereka tempuh, pesantren Darul Mustofa dan Alfalah sama-sama diperhitungkan di mata para ulama. Itulah yang membuat mereka tak ragu menyalurkan harta mereka untuk dikelola. "Saya senang mendengarnya, Gus," sambung seorang lagi yang disambut senyum miris oleh Fatah. Miris karena ia belum siap dengan gosip yang menunggu di depan sana. Berita cepat sekali menyebar jika menyangkut orang-orang penting di pesantren. Tidak ingin Ara semakin menjadi-jadi, Fatah berusaha tenang dan merespon ide gila anak Kiai Asmun. "Iya, baiklah, Dik." Fatah keceplosan menyebut Ara dengan sapaan 'Dik' yang membuat orang-orang memandang keheranan. Sadar arti tatapan semua orang, Fatah meralat ucapannya. "Em, maksud saya, Ustazah." Fatah meringis, ia benar-benar merasa sudah bersikap bodoh, gadis bernama Ara berhasil melenyapkan sebagian kewarasannya. Irma dan Sari kembali saling sikut. "Sepertinya Gus tau siapa yang ada di balik cadar ustazah Zakiah," bisik Sari yang disambut anggukan temannya. "Ada apa di antara mereka ini mencurigakan," timpal Irma menyipitkan mata ke arah Gus Fatah lalu bergantian ke arah Ara. "Huss." "Tapi ngomong-ngomong aku baru dengar tentang perjodohan mereka. Wah, ini bakal rame." "Stt." Mereka akhirnya berhenti bisik-bisik dan kembali fokus pada respon Fatah terhadap usul Ara. "Soal pernikahan mari kita bahas lain kali, jika kedua keluarga sudah bertemu dan membicarakannya. Kalau memang sudah ada kepastiannya, saya janji akan kembali merepotkan kalian untuk ikut mengurus acara," sambungnya lagi untuk mematikan usul Ara yang menurutnya tak cocok dibicarakan sekarang. Hal itu hanya akan memamcing keributan. _____ Rapat telah selesai. Semua peserta bengkit dari duduknya dan meninggalkan ruangan. Kecuali beberapa orang yang bertahan karena harus mengurus pendanaan. "Ustazah Zakiah!" seru salah seorang donatur. Ara menghentikan langkah. Ia berbalik menatap seseorang yang membawa map di tangannya. Ia tak mengenal betul sesiapa ustazah yang bertanggung jawab, tapi dari obrolan dengan beberapa panitia ikhwan, ia tahu ustazah Zakiah yang harus tandatangan. "Ada yang harus ditandatangani." "Ohya. Tapi biar saya bawa ke kantor dulu, ya." Ara menjawab cepat. Tidak mungkin ia menandatangani berkas penting yang harusnya Ustazah Zakiah yang memiliki wewenang. Fatah menyaksikannya, ia mendecak melihat kelakuan Ara. "Dasar anak itu!" desisnya nyaris tak terdengar. "Silakan." Sang donatur menjawab. Namun, ketika akan pergi langkah Ara kembali tertahan. "Ngomong-ngomong, ustazah. Tadi usulnya beneran spektakuler." Ara mengangguk. Ia tersenyum malu-malu di balik cadarnya sebelum akhirnya meninggalkan sang donatur. _____ Alya datang dengan raut wajah merah padam. Sekuat ia bisa menahan marah agar perbuatannya tidak jadi bumerang untuk diri sendiri dan orang lain. "Ara!" Gadis yang tengah bermain ponsel di kamar itu terkejut. Wajah Alya tak seperti biasanya. Seperti ada kejadian besar telah terjadi yang tak ia tahu. "Ada apa, sih?" Ara bangkit dengan malas. "Kamu tadi ikut rapat dan nyamar jadi ustazah Zakiah?!" tanya Alya tanpa basa-basi. "Iya." Ara mengangguk. Tak ada alasan baginya untuk berbohong. "Kenapa salah? Kamu cemburu aku deketin Gus Fatah?" "Kamu memang masih kanak-kanak, Ning Ara!" Bukannya menjawab Alya justru makin kesal. Ara mengerutkan kening. Pasti ada yang tak beres dari sikap saudari angkatnya itu. "Kamu tau, uang puluhan juta yang dibawa donatur hilang! Dan cuma kamu yang berinteraksi sama donatur itu!" "Apa?!" Ara terkejut bukan main. Ia ingat hanya menerima map dan menyerahkannya pada Ustazah Zakiah, tidak lebih. "Hemh. Aku tau kamu akan sulit berubah, walau banyak nasehat dan contoh orang-orang baik di sekitarmu. Kamu selalu buat masalah!" Alya benar-benar kesal, gadis itu tak mau mendengar kata-katanya untuk tidak macam-macam. "Sekarang mana uangnya?!" Ara menatap tak percaya pada sepupunya itu? "Ka-kamu nuduh aku mencuri?" Alya tak iba sedikit pun melihat wajah lugu Ara. Gadis itu sudah membuatnya muak. Bisa jadi dulunya Ara juga suka mencuri saat masih tinggal dengan keluarga lamanya. Yah, siapa yang tahu? Karena Alya belum ada sebulan hidup serumah dengan Ara. ________ Keadaan akhirnya tak bisa dikendalikan, jalan satu-satunya Kiai Asmun mengurung Ara di kamar sampai uang itu diketemukan. Semua orang menuding dan menduganya sebagai pelaku. Terang saja, apa maksudnya menyelinap dalam rapat penting yang harusnya hanya bisa dihadiri oleh orang-orang tertentu? "Kasian bener njenengan, Ning. Sabar ya ...." Nur berusaha menenangkan Ara yang kini sendiri dan tak punya sesiapa untuk membelanya. "Gosah dikasiani Mbak Nur! Aku dah biasa berhasil tak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tak dicari, mati tak diakui. Apalagi kalo cuma model fitnah gini. Udah deh, aku tau Mbak Nur juga gak percaya samma aku, kan. Jadi keluar aja sana. Hiss." Ara mendesis kesal. Ia tak tega sebenarnya menjadikan Nur pelampiasan. Tapi membiarkan Nur ada di dekatnya yang tengah bermasalah justru menyeret abdi dalem itu ikut dikucilkan oleh yang lain. "Iya, iya. Njenengan yang sabar, Ning. Kalau saya bisa bantu pasti dari kemarin-kemarin." "Mbak Nur!" Ara melotot. "Keluar!" "Iya, Ning. Iya. Ish, galak bener. Saya keluar nih, Ning. Tapi bukan berarti saya ndak percaya sama Ning Ara." Gadis itu akhirnya meninggalkan kamar Ara dan menutup pintunya kembali dengan pelan. "Huft!" Ara meniup kesal. Kondisinya sekarang tentu saja akan membuat siapapun menyangka keburukan itu berasal darinya, jika dibanding Alya, siapa yang akan percaya padanya ketimbang gadis sholehah itu? "Apa Gus Fatah juga tak percaya padaku? Padahal dia ada di sana hari itu?" . . . . Siapa yang nyuri uangnya, ya. Kasian bener Ara kena tuduh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD